Dandang Berusia 500 Tahun Dikeluarkan untuk Rangkaian Upacara Sekaten - Kompas.com

Dandang Berusia 500 Tahun Dikeluarkan untuk Rangkaian Upacara Sekaten

Kontributor Solo, Labib Zamani
Kompas.com - 23/11/2017, 09:58 WIB
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GPH Dipokusumo di Dalem Sasana Putra Keraton Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Rabu (22/11/2017).KOMPAS.com/Labib Zamani Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GPH Dipokusumo di Dalem Sasana Putra Keraton Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Rabu (22/11/2017).

SOLO, KOMPAS.com - Gerebek Maulid yang merupakan puncak acara Sekaten akan digelar pada Jumat (1/12/2017).

Setelah perhelatan Gerebek Maulid, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menggelar upacara Adang (menanak nasi) di Pawon Gondorasan Keraton Surakarta, Minggu (3/12/2017) malam. Upacara Adang ini diselenggarakan Keraton Surakarta setiap tahun Dal (8 tahun sekali).

Upacara Adang tersebut akan dilakukan langsung oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII. Dalam upacara ini, Keraton Surakarta akan menggunakan dandang (peralatan dapur untuk menanak nasi) bernama Kiai Dudo yang usianya lebih dari 500 tahun.

"Dandang ini terbuat dari logam. Ada tiga dandang Kiai Dudo yang kita gunakan untuk upacara Adang ini," kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GPH Dipokusumo di Dalem Sasana Putra Keraton Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Rabu (22/11/2017).

Pria yang akrab disapa Gusti Dipo ini mengungkapkan, dibutuhkan 70 kilogram beras untuk prosesi upacara Adang. Beras tesebut dimasak pada Minggu malam, kemudian dibagikan kepada para abdi dalem, sentana dalem, kerabat keraton dan tamu undangan pada Senin (4/12/2017) atau bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

"Kenapa kita bagikan Senin pagi itu karena bertepatan dengan miyose (lahir) Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jadi, nasinya dimasak Minggu malam dan Senin paginya kita bagikan," ungkapnya.

Baca juga : Tradisi Sekaten Keraton Surakarta Kembali Digelar

Alasan upacara Adang selalu dilaksanakan delapan tahun sekali, kata Gusti Dipo, karena sejak Sultan Agung (Raja Kasultanan Mataram) menciptakan kalender Jawa tersebut disesuaikan dengan tahun Hijriah dan Saka. Menurutnya, ketika berkaitan dengan tahun Hijriah, maka berhubungan pula dengan hari-hari besar umat Islam.

"Berkaitan dengan hari besar umat Islam yang bertama adalah Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika dihitung tahun Jawa yang jumlahnya delapan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW di 571 tahun Masehi tahunnya adalah tahun Dal," beber Gusti Dipo.

Dandang Kiai Dudo tersebut disimpan di Keputren Keraton Surakarta. Dandang tesebut selalu digunakan setiap upacara Adang yang dilakukan delapan tahun sekali.

"Nasinya nanti akan dimakan secara bersama-sama di emperan Paningrat Keraton Surakarta. Nasi akan dimakan dengan lauk sate pentul," paparnya.

Kompas TV Paku reklame yang tertancap di batang pohon dapat merusak jaringan pohon.

PenulisKontributor Solo, Labib Zamani
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM