Kisah Anak di Tapal Batas Berjalan 10 Km Setiap Hari untuk Sekolah - Kompas.com

Kisah Anak di Tapal Batas Berjalan 10 Km Setiap Hari untuk Sekolah

Kontributor Nunukan, Sukoco
Kompas.com - 03/08/2017, 14:55 WIB
Sepeda yang diberikan gerakan Sedekah Rombongan untuk anak TKI yang harus berjalan puluhan kilometer untuk pergi ke sekolah mereka di SD 005 Lordes. Mereka terpaksa jalan kaki dari mess tempat orangtua mereka bekerja di perkebunan sawit di Negara Malaysia ke sekolah mereka di wilayah perbatasan Kecamatan Sebatik.KOMPAS.com/Sukoco Sepeda yang diberikan gerakan Sedekah Rombongan untuk anak TKI yang harus berjalan puluhan kilometer untuk pergi ke sekolah mereka di SD 005 Lordes. Mereka terpaksa jalan kaki dari mess tempat orangtua mereka bekerja di perkebunan sawit di Negara Malaysia ke sekolah mereka di wilayah perbatasan Kecamatan Sebatik.

NUNUKAN, KOMPAS.com – Demi bersekolah, puluhan anak di Kampung Bergosong Malaysia harus berjalan kaki puluhan kilometer ke tempat mereka belajar di SD 005 di Desa Lordes, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Puluhan siswa SD itu adalah anak dari para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di perkebunan kelapa sawit di Kampung Bergosong, Malaysia. Mereka terpaksa menempuh jarak jauh untuk bersekolah karena tidak ada sekolah di sekitaran tempat orangtuanya bekerja. 

“Kami buka taman baca di Bergosong Malaysia di mana banyak buruh migran Indonesia di sana. Ternyata banyak anak-anak mereka sekolah SD dan SMP di sekolah tapal batas,” ujar Rinta Wulandari, Koordinator Gerakan Sedekah Rombongan di wilayah Kalimantan Utara, Kamis (3/8/2017).

Rinta menjelaskan, tidak ada angkutan umum di daerah anak-anak tersebut. Itulah yag menyebabkan, mereka harus berjalan kaki ke sekolah yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut. 

(Baca juga: Kisah Tentara Ajarkan Al Quran kepada Anak-anak Muslim di Perbatasan Papua-PNG)

Tak tanggung-tanggung, jarak yang harus mereka tempuh mencapai 10 kilometer. Karena itulah, mereka harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat sekolah.

“Mereka harus bangun Subuh agar sampai di sekolah tepat waktu, tidak terlambat,” tutur Rinta.

Berawal dari keprihatinan melihat nasib anak-anak TKI ini, Rinta yang saat itu bertugas sebagai perawat di Puskesmas Aji Kuning mengajukan bantuan sepeda. Dengan sepeda, ia berharap, anak-anak lebih mudah menuju sekolah di perbatasan Indonesia.

Bantuan pun datang. SR mengirim lima sepeda yang didatangkan dari Surabaya dengan menggunakan kapal tol laut.

"Sebetulnya banyak, tetapi harga sepeda mahal. Kami mensurvei 5 anak yang punya adik atau kakak yang bersekolah di sekolah perbatasan,” imbuhnya.

Sebanyak 5 Sepeda yang dikirim berjenis sepeda gunung. Sepeda ini bisa melintasi medan berat mengingat jalan yang harus dilalui anak-anak TKI tersebut medannya cukup berat dan naik turun bukit.

Meski masih banyak anak yang membutuhkan sepeda, setidaknya dengan 5 buah sepeda yang diberikan Komunitas SR, ada 10 anak TKI yang terbantu.

"Harapan kita 5 sepeda ini bisa untuk berboncengan ketika berangkat sekolah. Kami berharap mereka bisa bergantian memakai sepeda itu,” ucap Rinta.

Kompas TV Pulau Sara, Ikon Wisata Daerah Perbatasan Talaud

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Nunukan, Sukoco
EditorReni Susanti
Komentar