Pelajar di Yogyakarta Suarakan Kebhinekaan Lewat Video - Kompas.com

Pelajar di Yogyakarta Suarakan Kebhinekaan Lewat Video

Kontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Kompas.com - 19/05/2017, 17:15 WIB
KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Sebanyak 160 siswa SMA/MA/SMK di DIY mengikuti pelatihan jurnalisme kebhinekaan di Hotel Edu, Jalan Letjen Suprapto, Jumat (19/5/2017).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 160 siswa SMA/MA/SMK di DIY mengikuti pelatihan jurnalisme kebhinekaan di Hotel Edu, Jalan Letjen Suprapto, Jumat (19/5/2017).

Peserta pelatihan bertajuk aksi pelajar untuk kebhinekaan Indonesia itu berasal dari 31 sekolah swasta maupun sekolah negeri yang ada di DIY.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, pelatihan ini mengajak pelajar untuk menyuarakan kebinekhaan melalui ilmu jurnalistik. Setiap peserta diajak membuat video dan produk jurnalistik lainnya selama mengikuti pelatihan.

"Landasan kegiatan ini berawal dari keprihatinan kondisi bangsa yang terkoyak. Mulai dari komunitas terkecil di tingkat keluarga sampai mungkin ke area lebih luas. Ternyata kita memiliki ikatan kebangsaan yang rapuh," ujar Direktur Maarif Institue, Muhammad Abdullah Darraz.

Darraz mengatakan, pelatihan itu juga bertujuan untuk memperkuat karakter generasi muda dalam mengatasi isu sosial seperti ujaran kebencian, radikalisme, dan perpecahan yang marak di media sosial.

Fenomena yang muncul pada pilkada DKI misalnya, menunjukkan rapuhnya ikatan kebangsaan yang selama ini tidak terlihat di permukaan.

"Tapi ketika melihat dari media sosial, itu semua bisa terlihat dan terhampar bagaimana kohesi sosial kita rapuh. Oleh karena itu kita perlu penguatan kebangsaan dalam memaknai kembali kebhinekaan," ujar Darraz.

(Baca juga: Ormas Lintas Agama di Jatim Gelar Apel Kebhinekaan)

 

Selain itu, pelatihan tersebut juga untuk memberikan pemahaman kepada pelajar dalam membedakan informasi yang benar, keliru, bohong, atau hoax di era banjirnya informasi di media sosial.

Sebab, kata dia, informasi yang keliru, bohong, atau hoax itu yang membuat masyarakat saat ini saling fitnah dan berpotensi memecah belah bangsa.

"Hal itu terjadi karena kita tidak pernah berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang diterima. Kita terima dan share begitu saja informasi itu. Padahal tidak semua informasi itu benar. Maka dari pelatihan ini kita belajar bersama mendalami dan menanamkan pikir kritis mendapatkan informasi apakah itu valid atau tidak," ucap Darraz.

Darraz mengatakan, pelatihan akan melibatkan 1.200 pelajar di lima kota di Pulau Jawa. Yogyakarta, merupakan kota kedua setelah Jakarta yang menjadi tempat diselenggarakannya pelatihan jurnalisme kebhinekaan itu.

Rencananya kegiatan serupa akan digelar di Kota Semarang, Bandung, dan Surabaya. "Setelah pelatihan ini teman-teman bisa punya skill dan keterampilan positif di bidang jurnalistik. Di antaranya Membuat semacam video pendek untuk memperkuat kebinekaan," ucapnya.

"Nanti akan kami share dan viralkan sehingga konten positif itu yang membanjiri media sosial. Selain itu juga bisa kampanye positif di media di era tsunami informasi. Artinya bisa memilah mana yang air mana yang sampah," ungkapnya.

(Baca juga: Dari Cimol ke Hoax Analyzer, Mahasiswa Bandung Jadi Juara Imagine Cup)

 

Seorang peserta pelatihan, Athariq Wibawa (15) mengaku mendapatkan pengalaman baru dengan mengikuti pelatihan jurnalisme kebhinekaan.

Siswa Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta ini menyatakan, jika pengalaman itu belum pernah didapatkannya selama menimba ilmu di sekolah formal.

"Kegiatan ini memberi pengaruh besar untuk membuka mata dan pikiran saya. Bahwasanya banyak masalah yang dihadapi bangsa ini. Pikiran saya juga jadi terbuka. Kita hidup bukan cari yang paling benar tapi yang terpenting tujuan untuk negara ini," imbuh Athariq.

Athariq mengakui, banyak teman-teman seusianya tidak berkesempatan mendapatkan pengalaman serupa. Hal itu yang membuat teman-teman seusianya mengalami penurunan moral meski kualitas intelektualnya tinggi.

"Di Yogyakarta sendiri ada fenomena klitih. Ada juga siswa yang mabuk-mabukan. Tentu hal tidak pantas dilakukan seorang pelajar. Jadi adanya acara ini untuk rekontruksi moral agar pelajar bisa menjadi generasi penerus bangsa," ungkapnya.

(Baca juga: Lawan Hoax, APJII Gelar Pemilihan Miss Internet 2017)

 

Meski tak semua siswa di DIY terlibat, Athariq menilai, pelatihan itu sangat efektif. Sebab, sekolah yang ada di DIY mengirimkan wakilnya untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Menurutnya, perwakilan yang mengikuti pelatihan itu mempunyai pengaruh besar pada teman-teman di sekolahnya. "Setelah ini mungkin cara yang paling mudah itu untuk menularkan hasil pelatihan itu bisa dengan cara diskusi bersama," tutupnya.

Kompas TV Gelar Deklarasi Anti Hoax, Samarinda Cetak Rekor MURI

PenulisKontributor Yogyakarta, Teuku Muhammad Guci Syaifudin
EditorReni Susanti
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM