Senin, 24 November 2014

News / Regional

Demo Tuntut Perbaikan Jalan, Warga dan Polisi Bentrok

Selasa, 17 September 2013 | 15:45 WIB
KOMPAS.com/ Kiki Andi Pati Aksi unjukrasa tuntut perbaikan jalan ricuh, tiga orang mahasiswa diamankan polisi di pintu gerbang DPRD Sultra

KENDARI, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa 100 warga Konawe Selatan menuntut perbaikan jalan, di gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Selasa (17/9/2013) berlangsung ricuh. Warga protes karena sudah hampir 21 tahun jalan di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Benua, Basalah dan Angata belum pernah diaspal.

Warga dengan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Konawe Selatan Menggugat, sempat adu fisik dengan petugas kepolisian. Bentrokan pecah saat massa berusaha menerobos pintu gerbang kantor dewan yang telah dijaga ketat petugas polisi. Untuk membuarkan pendemo, polisi terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata.

Beberapa orang pendemo diburu polisi hingga ke taman kota yang terletak di depan kantor Wali Kota Kendari. Petugas polisi pun mengamankan tiga orang mahasiswa. Ketiganya menjadi sasaran amuk petugas polisi yang emosi.

“Kalian datang anarkis di sini kah, pakai panjat-panjat pagar kayak monyet saja. Katanya intelek, kenapa begitu menyampaikan aspirasinya?” ucap salah seorang anggota polisi yang mengamankan satu orang demonstran di gedung DPRD.

Kericuhan terjadi karena perwakilan wakil rakyat tidak segera menemui para warga yang menuntut perbaikan jalan di tiga kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan. Pasalnya, sebelum bentrokan, massa cukup lama menggelar orasi di depan pintu gerbang DPRD Sultra.

Sementara itu, di dalam gedung DPRD Sultra berlangsung rapat antara pemerintah daerah dengan anggota DPRD yang membahas tentang APBD-Perubahan tahun 2013. Perwakilan warga kemudian diizinkan masuk untuk menemui anggota dewan di ruangan rapat pimpinan. Namun warga kembali kecewa, karena tak satupun anggota dewan menemui mereka.

Massa kemudian protes dan satu orang di antara mereka yakni Sapril Munandar kembali menerima pukulan pentungan dan tendangan petugas polisi. Akibatnya, Sapril harus dilarikan ke rumah sakit Bayangkara Kendari untuk mendapat perawatan.

"Banyak yang pukul saya, tapi satu ji yang saya ingat namanya Erfan. Bibir kanan dan mata kiri bagian atas robek, tidak sampai dijahit,” tutur Sapril.

Setelah situasi terkendali, seratus warga dan mahasiswa dari Aliansi Masyarakat Konawe Selatan Menggugat diterima ketua dan anggota DPRD Sultra. Hadir juga dalam pertemuan tersebut Kepala Bappeda dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sultra.

Penulis: Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati
Editor : Farid Assifa