Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Regional

Pedagang Gorengan Keluhkan Kelangkaan Tempe

Senin, 9 September 2013 | 17:40 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO Pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor.

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Para pedagang kecil dan gorengan di Tasikmalaya, mengeluhkan kelangkaan tahu dan tempe di wilayah itu. Mereka mengaku tak bisa berjualan karena adanya aksi mogok produsen tahu dan tempe akibat mahalnya harga kedelai.

"Saya sekarang tak bisa jualan pak. Soalnya tahu dan tempenya sekarang sudah gak ada di pasar," jelas Komar (35), salah seorang pedagang gorengan saat memperbaiki rodanya di Pasar Cikurubuk, Senin (9/9/2013) sore.

Komar berharap kelangkaan tahu dan tempe akibat mahalnya kedelai bisa cepat diatasi oleh pemerintah. Pasalnya, kelangkaan kedelai bukan hanya berimbas kepada para produsen tahu dan tempe, tapi para pedagang yang memakai tahu dan tempe sebagai bahan baku.

"Meski ada bahan lainnya, tapi gorengan tahu dan tempe yang banyak dicari pelanggan. Soalnya, kalau di sini suka dipakai lauk nasi oleh para pegawai bangunan," ujar Komar.

Hal sama diungkapkan Endang (42), pedagang ketoprak di pasar sama. Endang mengaku menjual dagangannya hanya memakai ketupat saja. Padahal biasanya ia memakai tahu sebagai pelengkap makanan yang dijualnya tersebut.

"Saya juga bingung dagang hari ini kurang laku, karena tak memakai tahu, hanya kupat saja. Saya tadi pagi cari tahu di pasar ini tidak ada yang menjual," kata Endang.

Diberitakan sebelumnya, hampir semua produsen tahu dan tempe di Tasikmalaya berhenti berproduksi. Aksi ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah karena mahalnya harga kedelai sebagai bahan baku.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Ciamis, Irwan Nugraha
Editor : Kistyarini