Kisah K'tut Tantri, Perempuan Amerika yang Bantu Sebarkan Perjuangan Indonesia lewat Radio

Kompas.com - 17/08/2021, 13:35 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Muriel Stuart Walker atau lebih dikenal dengan nama K'tut Tantri adalah perempuan berkebangsaan Amerika Serikat yang membantu menyebarkan berita perjuangan Indonesia melalui radio.

Ia lahir di Skotlandia pada 1898 dan memutuskan pindah ke Bali dari Amerika di usia 34 tahun setelah terpesona film Bali, The Last Paradise yang ia tonton.

Tantri menuliskan kisah perjalanannya dalam otobiografi yang berjudul Revolt In Paradise. atau Revolusi di Nusa Damai.

Baca juga: Kisah Cinta Hartini dan Bung Karno, Menemani hingga Ajal Menjemput Sang Proklamator

Di Bali, ia diangkat keluarga oleh Kerajaan Klungkung.

"Kau kami namakan K'tut, yang dalam bahaa Bali berarti anak keempat. Segera akan kupanggil pedanda. Menurut adat leluhur kami, kau akan kami beri nama lain, yang akan merupakan nama yang ditakdirkan untukmu," cerita K'tut di otobografinya, menirukan kata sang Raja Klungkung, ayah angkatnya.

Kehidupan Tantri di lingkungan Kerajaan Klungkung membuat dia mencintai Indonesia. Dia banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaannya.

Ia sempat berpindah-pindah daerah, termasuk ke Surabaya dan Yogyakarta.

Baca juga: Mengenal Pahlawan Nasional dari Jawa Timur, dari Bung Karno hingga HOS Tjokroaminoto

Pada 10 November 1945, di tengah perang, ia dengan lantang membacakan pidato berbahasa Inggris.

"Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris, barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan, ungkapnya.

"Perwakilan Denmark, Swiss, Uni Soviet, dan Swedia. Kuminta mereka menyertai aku dalam siaran malam itu untuk memprotes tindakan pengeboman serta menyatakan sikap mereka mengenai tindakan Inggris (di Surabaya),’’ tulisnya lagi.

Perisiwa tersebut membuat K'tut Tantri dijuluki "Surabaya Sue" atau penggugat dari Surabaya.

Baca juga: Im Yang Tjoe, Sosok Penulis Pertama Riwayat Bung Karno yang Nyaris Pupus dari Ingatan Sejarah

Tinggal di Radio Pemberontakan

Bung Tomo berpidato Pada Rapat Umum B.P.R.I di Surabaya, Pada Tgl 20 Mei 1950
Dok. Kompas Bung Tomo berpidato Pada Rapat Umum B.P.R.I di Surabaya, Pada Tgl 20 Mei 1950
Diceritakan, Tantri pernah tinggal di Surabaya, tepatnya di pemancar radio gelap yang dikelola oleh Bung Tomo, pimpinan pejuang di Surabaya.

Di radio itu, Bung Tomo siaran dua kali setiap malam. Pemancar radio itu bernama Radio Pemberontakan dan lokasinya tersembunyi di dalam sebuah rumah besar yang letaknya tidak jauh dari gedung pemancar yang resmi, Radio Surabaya.

Kala itu Tantri diminta siaran dua kali semalam dalam bahasa Inggris dan menyampaikan laporan perkembangan yang terjadi di Indonesia pada bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris di seluruh dunia.

Baca juga: Kisah Asmara Orangtua Sukarno di Bali, Soekemi Jatuh Cinta Pada Ayu Nyoman Rai

Laporan yang disampaikan tentu saja dilihat dari sudut pandangan bangsa Indonesia.

"Bangsa-bangsa di dunia yang berbahasa Inggris perlu mendengar tentang perjuangan kita. Mereka harus disadarkan bahkan ini bukan revolusi sosial dan pemerintahan kami bukan boneka Jepang," tulis Tantri.

"Kau harus bertugas mengisahkan sejarah negara kami, begitu pula perjuangan kami selama 40 tahun yang lalu. Kau harus mengingatkan bangsa Inggris dan Amerika pada pidato-pidato para negarawan mereka yang diucapkan semasa perang, yang menjanjikan kemerdekaan semua bangsa di seluruh dunia," tulis Tantri dalam otobiografinya.

Baca juga: Mengenal Pahlawan Nasional dari Jawa Timur, dari Bung Karno hingga HOS Tjokroaminoto

Presiden Soekarno bersama sejumlah tokoh perempuan Indonesia.Dok. Kowani Presiden Soekarno bersama sejumlah tokoh perempuan Indonesia.
Di Radio Pemberontakan, Tantri juga bertemu dengan Bung Tomo.

"Kemahirannya berpidato hanya bisa dikalahkan oleh Presiden Soekarno. Bagiku jelas, Bung Tomo sangat berbakti pada perjuangannya," ungkap Tantri saat bertemu dengan Bung Tomo.

Saat tak ada siaran, Tantri menghabiskan waktunya dengan melukis dan membuat spanduk untuk para pejuang. Ia mengutip sejarah Amerika dan Perancis untuk spanduk yang kemudian disebar ke semua kota dan desa di Jawa Timur.

Ia bertahan di Surabaya, sedangkan Bung Tomo melanjutkan siaran pidatonya dari Malang.

Baca juga: Berharap Makam Bung Karno Segera Dibuka, Pedagang Suvenir Pasang Bendera Merah Putih

K'tut dianggap berbahaya.

Melalui siaran berita, Belanda menjanjikan 50.000 gulden kepada orang Indonesia yang bisa menyerahkan K'tut Tantri ke markas besar tentara Belanda di Surabaya.

Sayembara tersebut dijawab sendiri oleh Tantri melalui siarannya di radio.

"Kalian tahu, uang gulden Belanda kini tidak laku lagi di Indonesia," kata dia.

"Kami sudah memiliki mata uang sendiri. Tetapi, jika Belanda mau menyumbangkan setengah juta rupiah pada bangsa Indonesia sebagai dana perjuangan kemerdekaan, saya bersedia datang sendiri ke markas besar kalian," tantang Tantri.

Baca juga: Cerita di Balik Pergantian Nama Kusno Jadi Soekarno

Dikenalkan oleh Bung Karno

Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. Frans Mendur Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta.
K'tut Tantri kemudian melakukan perjalanan keliling bersama tokoh-tokoh perjuangan yang lain.

Ia juga kerap menulis artikel, salah satunya di majalah The Voice of Free Indonesia. Salah satu artikel Tantri yang membuat Belanda marah adalah "Lest We Forget" - "Agar Kita Jangan Lupa".

Ia juga pernah mengikuti Bung Karno yang berpidato di hadapan rakyat.

Di salah satu kota yang mereka singgahi, Tantri menceritakan kejadian saat Bung Karno mengenalkan dirinya di hadapan rakyatya.

"Kuperkenalkan saudara K'tut Tantri dari Pulau Bali," cerita Tantri menirukan kalimat Bung Karno.

Baca juga: Punya Batuan Granit, Pengasingan Bung Karno, hingga Anggrek, Bangka Barat Disiapkan Jadi Geopark

"Saudara K'tut ini warga Amerika kelahiran Inggris, tetapi ia lebih Indonesia daripada Inggris dan Amerika. Ia satu-satunya orang asing yang secara terang-terangan memihak kita. Ia telah berjuang sekuat tenaga untuk membantu kita berjuang demi kemerdekaan."

"Aku ingin agar setiap lelaki, perempuan, dan anak-anak yang ada di sini malam ini memandang wajah K'tut Tantri dan mengngatnya baik-baik."

"Kuserahkan Saudara K'tut Tantri pada perlindungan saudara sekalian. Kalau perlu, korbankanlah nyawa untuk menjaganya."

Pernyataan Bung Karno membuat Tantri terkejut dan menangis terharu. "Aku harus memaksa diri untuk tetap bersikap tenang," kata dia.

Baca juga: Blitar Bumi Bung Karno: Ke Haribaan Ibunda, Soekarno Pulang (Bagian 1)

Pada November 1998, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Nararya kepada wanita yang kini bernama lengkap Ni K’tut Tantri.

Penghargaan itu merupakan penghargaan tertinggi kedua yang dia terima bukan hanya karena keterlibatannya dalam Pertempuran Surabaya 1945, melainkan atas jasanya sebagai wartawan sekaligus pegawai Kementerian Penerangan pada 1950.

Tantri wafat di sebuah panti jompo di Redferd, Sydney, New South Wales, pada Minggu malam, 27 Juli 1997. Jelang kremasi, bendera Indonesia dan lembaran kain kuning dan putih khas Bali terhampar di atas petinya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Suntana, dari Pengantar Jeriken Air hingga Jadi Kapolda Jabar

Kisah Suntana, dari Pengantar Jeriken Air hingga Jadi Kapolda Jabar

Regional
Pria di Minahasa Tewas Ditikam 2 Orang di Sebuah Rumah Duka

Pria di Minahasa Tewas Ditikam 2 Orang di Sebuah Rumah Duka

Regional
[POPULER NUSANTARA] Sopir Tertidur Lelap Saat Bus Kecelakaan di Tol Mojokerto | Pria di Lamongan Aniaya Selingkuhan

[POPULER NUSANTARA] Sopir Tertidur Lelap Saat Bus Kecelakaan di Tol Mojokerto | Pria di Lamongan Aniaya Selingkuhan

Regional
Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan, Harga Tiket, Jam Buka, dan Koleksi

Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan, Harga Tiket, Jam Buka, dan Koleksi

Regional
Prakiraan Cuaca di Denpasar Hari Ini, 21 Mei 2022 : Sepanjang Hari Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca di Denpasar Hari Ini, 21 Mei 2022 : Sepanjang Hari Cerah Berawan

Regional
Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 21 Mei 2022, Pagi Berawan, Sore Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca di Malang Hari Ini, 21 Mei 2022, Pagi Berawan, Sore Hujan Ringan

Regional
Tolak Sapi Bali, Asosiasi Batam Sebut Sapi dan Kambing Tak Bisa Lama di Laut, Bisa Stres

Tolak Sapi Bali, Asosiasi Batam Sebut Sapi dan Kambing Tak Bisa Lama di Laut, Bisa Stres

Regional
Lagu Gambang Suling Asal Jawa Tengah, Lirik dan Chord

Lagu Gambang Suling Asal Jawa Tengah, Lirik dan Chord

Regional
'Mak, Kalau Arul Sudah Jadi Polisi, Adik-adik Tak Akan Mengalami Nasib Seperti Arul'

"Mak, Kalau Arul Sudah Jadi Polisi, Adik-adik Tak Akan Mengalami Nasib Seperti Arul"

Regional
Lambung Kapal Bocor, Ratusan Penumpang KM Sirimau Dievakuasi

Lambung Kapal Bocor, Ratusan Penumpang KM Sirimau Dievakuasi

Regional
Lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato dari Sumatera Barat, Lirik dan Chord

Lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato dari Sumatera Barat, Lirik dan Chord

Regional
Cegah PMK, Pemkot Batam Sarankan Hewan Kurban dari Bali

Cegah PMK, Pemkot Batam Sarankan Hewan Kurban dari Bali

Regional
Diduga Korban Pembunuhan, Wanita di OKU Ditemukan Tewas dengan Luka Bacok di Rumahnya

Diduga Korban Pembunuhan, Wanita di OKU Ditemukan Tewas dengan Luka Bacok di Rumahnya

Regional
Sulfianto, Atlet Dayung Peraih 2 Medali Emas di Sea Games 2021 Pulang Kampung, Bupati Luwu Utara: Terima Kasih

Sulfianto, Atlet Dayung Peraih 2 Medali Emas di Sea Games 2021 Pulang Kampung, Bupati Luwu Utara: Terima Kasih

Regional
Temukan 2 Kasus Dugaan Hepatitis Misterius, Dinkes Malinau Keluhkan Belum Adanya Laboratorium Rujukan

Temukan 2 Kasus Dugaan Hepatitis Misterius, Dinkes Malinau Keluhkan Belum Adanya Laboratorium Rujukan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.