Duduk Perkara Pemikul Jenazah Covid-19 Minta Rp 4 Juta, Temuan Polisi: Tak Ada Pungli, Kedua Pihak Sepakat Damai

Kompas.com - 12/07/2021, 16:15 WIB
Jenazah pasien Covid-19 diangkut menuju liang lahat oleh para petugas pemikul jenazah di TPU Cikadut, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021). KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANAJenazah pasien Covid-19 diangkut menuju liang lahat oleh para petugas pemikul jenazah di TPU Cikadut, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021).

BANDUNG, KOMPAS.com - Polisi tak menemukan adanya pelanggaran dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) yang terjadi di pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19 Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, Jawa Barat. 

Hal tersebut terungkap usai mediasi yang dilakukan di Mapolrestabes Bandung, Senin (12/7/2021).

Dalam mediasi itu hadir, Dinas Tata Ruang, Kepala TPU Cikadut, Koordinator PHL petugas pikul Peti Jenazah, terduga Pungli Redi, sementara dari pihak YT tidak hadir dalam mediasi tersebut.

Baca juga: Antisipasi Pungli, TNI dan Polisi Bakal Awasi Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

Kepala Polisi Resort Kota Besar Bandung, Komisaris Besar Polisi Ulung mengatakan berdasarkan hasil keterangan, saat itu keluarga dari YT (47) menginginkan pemakaman dari jenazah ayahnya.

Seperti diketahui, Ayah YT meninggal dunia pada 6 Juli 2021. Sang Ayah meninggal akibat Covid-19.

Baca juga: Dugaan Pungli di TPU Cikadut, Warga Dimintai Rp 1,7 Juta sampai Harus Menawar demi Makamkan Kerabat

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Awal mula perkara, keluarga pasien Covid-19 minta jenazah dikuburkan saat itu juga, tapi petugas sudah kelelahan...

Tanda bukti pungutan liar di pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut yang menimpa warga non-muslim di Kota Bandung.KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA Tanda bukti pungutan liar di pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut yang menimpa warga non-muslim di Kota Bandung.
Pihak keluarga YT kemudian meminta pemakaman dilakukan di malam itu juga.

"Sedangkan tempat pemakaman muslim dan nonmuslim jauh. Sedangkan backhoe itu ada di tempat muslim jaraknya jauh. Sehingga karena kekurangan karyawan atau personelnya akhirnya ditawarkan sekarang ada masyarakat menggunakan jasa masyarakat," kata Ulung.

Akhirnya, kesepakatan pun terjadi, pemakaman tersebut dilakukan menggunakan jasa masyarakat, sehingga ibu YT harus merogoh kocek uang sebesar Rp 2,8 juta.

Baca juga: Petugas Pemikul Jenazah yang Minta Rp 4 Juta ke Keluarga Pasien Covid-19 yang Berduka Dipecat

"Akhirnya pakai masyarakat kemudian terjadilah kesepakatan antara bu YT dengan masyarakat sehingga mengeluarkan uang sebesar Rp 2,8 juta akhirnya baru dikuburkan," ucap Ulung.

Akan tetapi, kata Ulung, keesokan harinya munculah persoalan adanya pungli di pemakaman Cikadut.

"Keesokan harinya viral terjadi pungli di pemakaman Cikadut dengan meminta uang Rp 4 juta, sudah kita konfirmasi tidak ada (pungli) Rp 4 juta tapi Rp 2,8 juta itupun hasil kesepakatan antara saudara YT dengan masyarakat setempat," ucapnya.

Baca juga: Pengakuan Korban Pungli Rp 4 Juta untuk Pemakaman Jenazah Covid-19 di Bandung

 

Polisi: tidak ada pelanggaran kasus viral pungli pemakaman di Cikadut, tidak ada muslim gratis nonmuslim bayar...

Disinggung penegasan soal adanya pemerasan atau pungli? Ulung menyebut tidak ada pelanggaran terkait hal itu.

"Tidak ada yang dilanggar dan bu YT mengakui pada hari pertama diperiksa, apalagi dengan adanya yang muslim gratis nonmuslim bayar tidak ada. Bu Yunita menyampaikan tidak ada itu," ucapnya.

Ulung saat ini masih mendalami dan menyelidiki  kasus tersebut.

"Kita masih mendalami dan menyelidiki di mana punglinya, kan itu pada saat kejadian antara masyarakat dengan saudara YT sudah ada kesepakatan," jelasnya.

 

Polisi: YT memaksakan pemakaman harus malam itu juga, akhirnya "deal" sendiri dengan warga

Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya tengah menjelaskan hasil mediasi persoalan dugaan pungli di TPU Cikadut, Senin (12/7/2021). Polisi tak menemukan adanya pelanggaran pungli di TPU Cikadut.KOMPAS.COM/AGIE PERMADI Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya tengah menjelaskan hasil mediasi persoalan dugaan pungli di TPU Cikadut, Senin (12/7/2021). Polisi tak menemukan adanya pelanggaran pungli di TPU Cikadut.
YT sendiri menurut Ulung memaksakan pemakaman dilakukan pada malam hari. Seperti diketahui pemakaman jenazah ayahnya tersebut akhirnya dilakukan pada pukul 23.00 WIB di makam khusus Covid-19 di TPU Cikadut.

"Karena dia memaksakan malam itu dimakamkan. Sedangkan jumlah penggali kubur kurang saat itu. Dengan memaksakan makanya ditawarkan kalau memang ada, ada masyarakat bisa menggunakan jasa masyarakat akhirnya bu Yunita deal dengan masyarakat di situ," jelasnya.

"Jadi tidak ada deal dengan kepala pemakaman ataupun pak Redi, tidak ada. Adapun deal dengan masyarakat," tambahnya.

Kedua pihak sepakat berdamai, terduga pungli kembalikan uang Rp 2,8 juta

Ia menegaskan, bahwa kesepakatan pemakaman tersebut dilakukan antara pihak keluarga YT dan masyarakat.

"Bukan (dengan PHL), dengan masyarakat di situ. Karena itu tadi selama dua minggu ini jumlah yang meninggal sangat banyak akhirnya sebagian masyarakat ikut membantu juga," ucapnya.

Tak hanya itu, kata Ulung, pihak terduga pungli pun telah mengembalikan uang sebesar Rp 2,8 juta dan sudah diterima pihak YT.

"Jadi pada saat itu dari pihak Redi sendiri melalui keluarganya dari YT sudah mengembalikan uang sebanyak 2,8 juta. Sudah diterima," kata Ulung. Kedua belah pihak pun sepakat untuk berdamai untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

"Kedua belah pihak ada kesepakatan damai," katanya.

 

Namun pada mediasi kedua ini, pihak keluarga YT tidak hadir, Ulung tak menjelaskan ketidakhadirannya.

"Pihak YT hari pertama datang untuk klarifikasi tapi sampai sekarang belum sempat hadir lagi," katanya.

 

Saat kejadian, petugas kelelahan makamkan hingga 70 jenazah pasien Covid-19

Ulung juga menjelaskan kondisi pemakaman di Cikadut, menurutnya penggali kubur dan pengangkut jenazah sangat kekurangan.

Hal tersebut lantaran adanya peningkatan warga meninggal karena Covid selama dua minggu ini. Pada saat hari kejadian pun hanya ada 12 orang yang jaga di pemakaman Cikadut.

"Karena saat peningkatan ini biasnya normal meninggal 3-5 orang, selama dua minggu ini per hari 50 bahkan pada saat malam kejadian 60-70 orang. Jadi menang sangat kekurangan," jelasnya.

Buntut kasus pungli, terduga pelaku pungli dipecat jadi PHL penggali kubur di Cikadut

 

Sementara itu, Kadistaru Kota Bandung Bambang Suhari menjelaskan terduga pungli Redi ini memang Pekerja harian lepas (PHL) penggali kubur di Pemakaman Cikadut.

Saat viral kejadian pungli tersebut, pihak pemerintah Kota Bandung memberhentikan Redi sebagai PHL pemikul jenazah. "Sejak kemarin (gak bekerja)," ucap Bambang.

Adapun dasar pemecatan tersebut kata Bambang, adanya surat penerimaan pemakaman jenazah. "Kan ada surat penerimaan itu. Kita sementara dasar awal bukti penerimaan itu namun demikian nanti akan menunggu," katanya.

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil dari penyelidikan kepolisian terkait dugaan pungli tersebut untuk menentukan nasib Redi.

"Kalau terbukti bersalah atau tidak kami menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian. Karena yang berwenang memutuskan terbukti bersalah atau tidak, itu sudah jelas disampaikan. Tapi yang jelas apabila hasil penyelidikan Redi ini tidak bersalah, kenapa tidak Redi ini kita angkat kembali," ucapnya.

"Kami tegaskan apabila Redi tidak bersalah, maka Redi akan kami hidupkan kembali untuk menjadi pegawai PHL yang mendapat honorarium itu saja," tegasnya.

Terkait isu diskriminatif muslim dan nonmuslim di TPU Cikadut, Bambang menegaskan bahwa hal itu tidak ada.

"Dan isu mengenai diskriminatif muslim dan non muslim sebenarnya tidak ada. Itu tidak ada. Toh tpu cikadut diperuntukkan untuk semua orang. Dari Redi sendiri tidak ada statemen itu," ucapnya.

 

Diberitakan sebelumnya, kasus pungutan liar terjadi di pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19 Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Bandung, Jawa Barat.

Salah satu warga Kota Bandung, YT (47) menceritakan, Ayahnya meninggal dunia pada 6 Juli 2021. Sang Ayah meninggal akibat Covid-19.

Kemudian, pada hari yang sama, sekitar pukul  23.00 WIB, jenazah Ayahnya dimakamkan di makam khusus Covid-19 di TPU Cikadut.

Namun, sebelum jenazah dimakamkan, YT terkejut karena pihak keluarga diminta uang sebesar Rp 4 juta untuk biaya pemakaman.

Uang sebanyak itu diminta oleh salah satu orang bernama Redi yang mengaku sebagai koordinator pemakaman Covid-19 di UPT TPU Cikadut

Keluarga YT terkejut dengan nominal uang yang diminta. Adu argumen dan tawar-menawar pun terjadi.

Angka Rp 2,8 juta akhirnya disetujui oleh kedua belah pihak, dengan harapan keluarga agar jenazah bisa segera dimakamkan.

Meski telah ikhlas mengeluarkan uang tersebut, YT masih merasa heran dengan pernyataan petugas pemakaman Covid-19 yang menyatakan bahwa biaya untuk jenazah non-muslim tidak ditanggung pemerintah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Honda Supra Fit Terjun dari Jembatan, Pengendara Tewas, Penumpang Terluka Parah

Honda Supra Fit Terjun dari Jembatan, Pengendara Tewas, Penumpang Terluka Parah

Regional
CFD Kembang Jepun Surabaya Akan Dibuka Terbatas, Ini Syarat bagi Pengunjung...

CFD Kembang Jepun Surabaya Akan Dibuka Terbatas, Ini Syarat bagi Pengunjung...

Regional
Kronologi Karyawan Supermarket Bobol Brankas, Ajak Teman, Ditangkap Polisi

Kronologi Karyawan Supermarket Bobol Brankas, Ajak Teman, Ditangkap Polisi

Regional
Pulang dari Alun-alun Bawean, Pria Ini Dihampiri 2 Orang Tak Dikenal lalu Dibacok

Pulang dari Alun-alun Bawean, Pria Ini Dihampiri 2 Orang Tak Dikenal lalu Dibacok

Regional
3 Pencuri Sepeda di Surabaya Ditangkap, 1 Pelaku Lain Masih Diburu

3 Pencuri Sepeda di Surabaya Ditangkap, 1 Pelaku Lain Masih Diburu

Regional
Kronologi Terbongkarnya Ibu Kandung Jual Bayinya yang Berusia 1 Bulan Rp 4 Juta

Kronologi Terbongkarnya Ibu Kandung Jual Bayinya yang Berusia 1 Bulan Rp 4 Juta

Regional
KPK Geledah Kantor Dinas PUPRPKP Tabanan, Sita 90 Dokumen Terkait Dana Insentif Daerah

KPK Geledah Kantor Dinas PUPRPKP Tabanan, Sita 90 Dokumen Terkait Dana Insentif Daerah

Regional
Ibu Balita Korban Penganiayaan di Kota Batu Enggan Lapor, Polisi: Takut Tidak Dinikahi Tersangka

Ibu Balita Korban Penganiayaan di Kota Batu Enggan Lapor, Polisi: Takut Tidak Dinikahi Tersangka

Regional
Gubernur Ansar Minta Kepala Daerah di Kepri untuk Percepat Vaksinasi Lansia

Gubernur Ansar Minta Kepala Daerah di Kepri untuk Percepat Vaksinasi Lansia

Regional
Kejaksaan Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Tanah Bulog di Grobogan

Kejaksaan Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Tanah Bulog di Grobogan

Regional
Calon Ayah Tiri di Kota Batu yang Tega Siram Balita dengan Air Panas Terancam 5 Tahun Penjara

Calon Ayah Tiri di Kota Batu yang Tega Siram Balita dengan Air Panas Terancam 5 Tahun Penjara

Regional
Polisi Tertangkap di Rumah Bandar Narkoba, Hasil Tes Urine Positif, Kapolda Sumsel: Pasti Diproses Hukum

Polisi Tertangkap di Rumah Bandar Narkoba, Hasil Tes Urine Positif, Kapolda Sumsel: Pasti Diproses Hukum

Regional
Status PPKM Level 1, Kota Tegal Buka Taman Kota

Status PPKM Level 1, Kota Tegal Buka Taman Kota

Regional
Diduga Selingkuhi Istri Kades, Pemain Organ Asal Sukabumi Dianiaya di Hotel, Ini Ceritanya

Diduga Selingkuhi Istri Kades, Pemain Organ Asal Sukabumi Dianiaya di Hotel, Ini Ceritanya

Regional
Bupati Yuhronur Resmikan Tugu Desa Tertua di Lamongan

Bupati Yuhronur Resmikan Tugu Desa Tertua di Lamongan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.