Kompas.com - 27/05/2021, 05:05 WIB
Mbah Peno memberi makan puluhan penyu jenis penyu sisik dan penyu hijau di kolam penangkaran penyu di kawasan wisata Pantai Serang, Kabupaten Blitar, Minggu (23/5/2021) KOMPAS.COM/ASIP HASANIMbah Peno memberi makan puluhan penyu jenis penyu sisik dan penyu hijau di kolam penangkaran penyu di kawasan wisata Pantai Serang, Kabupaten Blitar, Minggu (23/5/2021)

 

Salah satu ikon Pantai Serang

Di masa ketika Mbah Peno masih cukup kuat melaut untuk mencari ikan, persisnya sebelum 2014, nelayan dan warga Pantai Serang biasa mengonsumsi dan menjual daging dan telur penyu.

Selama beberapa bulan mulai Maret hingga Juni setiap tahunnya, mereka akan mendapatkan bahan makan tambahan atau sumber pendapatan ekstra dari penyu-penyu yang mendarat untuk bertelur.

"Sering juga dulu ada penyu besar lebarnya bisa segini," ujar Mbah Peno membentangkan kedua lengannya menggambarkan ukuran penyu hijau raksasa, salah satu jenis penyu yang banyak bertelur di Pantai Serang.

"Dulu terlurnya dijual, buat jamu kuat," kenang Mbah Peno.

Kebiasaan mengambil daging dan telur penyu untuk dimakan dan dijual berangsur berkurang sejak pemuda-pemuda yang memiliki visi luas seperti Handoko mengambil inisiatif gerakan konservasi penyu.

Inisiatif itu semakin menemukan kekuatannya setelah Handoko terpilih sebagai Kepala Desa Serang pada 2014.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kronologi Oknum TNI Tampar Petugas SPBU karena Diminta Antre Isi Bensin

Gerakan konservasi penyu bahkan berhasil dipadu dengan upaya membangun kawasan wisata Pantai Serang.

Konservasi penyu dan pelepasan tukik penyu kemudian menjadi bagian penting dari citra kawasan wisata Pantai Serang yang berwawasan lingkungan hidup.

Citra itu semakin kuat oleh keberhasilan penghijauan yang disponsori Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur pada 2009 dan 2011.

Kini, Pantai Serang telah menjadi tujuan wisata pantai paling digemari di wilayah Kabupaten Blitar.

Berwisata ke pantai yang selama ini identik dengan udara panas, tidak ditemukan di Pantai Serang karena rindangnya ribuan pohon-pohon cemara buah dari penghijauan sepuluh tahun silam yang didukung oleh warga dan komunitas setempat.

Upaya membangun pamor kawasan Pantai Serang juga dilakukan dengan gelaran festival tahunan, yaitu Serang Culture Festival meskipun tahun lalu absen lantaran pandemi.

Dan pada gelaran festival itu pulalah kegiatan pelepasan tukik penyu ikut mengambil bagian. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kesal Jalur Evakuasi Lereng Gunung Merapi Rusak, Warga Mau Ngadu ke Jokowi

Kesal Jalur Evakuasi Lereng Gunung Merapi Rusak, Warga Mau Ngadu ke Jokowi

Regional
Viral, Video Seorang Kakek Lempar Kertas ke Presiden Jokowi Saat Tinjau Lokasi Bencana di Gunung Semeru

Viral, Video Seorang Kakek Lempar Kertas ke Presiden Jokowi Saat Tinjau Lokasi Bencana di Gunung Semeru

Regional
Terungkap Identitas Kerangka Manusia di Kebun Sawit Sumbar

Terungkap Identitas Kerangka Manusia di Kebun Sawit Sumbar

Regional
15 Siswi SD Korban Pencabulan Guru Agama di Cilacap Alami Trauma

15 Siswi SD Korban Pencabulan Guru Agama di Cilacap Alami Trauma

Regional
Ada 9 Bayi yang Dilahirkan Santriwati Korban Pemerkosaan Guru Pesantren di Bandung

Ada 9 Bayi yang Dilahirkan Santriwati Korban Pemerkosaan Guru Pesantren di Bandung

Regional
Hipotermia, Pendaki di Gunung Merbabu Sampai Telepon Istri Minta Dievakuasi

Hipotermia, Pendaki di Gunung Merbabu Sampai Telepon Istri Minta Dievakuasi

Regional
Soal Pungutan Biaya Pemakaman Korban Covid-19 di Madiun, Petugas RSUD Caruban Hanya Bebani Rp 500.000 untuk Ganti Kain Kafan

Soal Pungutan Biaya Pemakaman Korban Covid-19 di Madiun, Petugas RSUD Caruban Hanya Bebani Rp 500.000 untuk Ganti Kain Kafan

Regional
Bhayangkari Babel Kirim Sembako hingga Kebutuhan Wanita untuk Korban Erupsi Semeru

Bhayangkari Babel Kirim Sembako hingga Kebutuhan Wanita untuk Korban Erupsi Semeru

Regional
Soal Alih Fungsi Benteng Nieuw Victoria, Panglima TNI: Kami Dukung Penuh

Soal Alih Fungsi Benteng Nieuw Victoria, Panglima TNI: Kami Dukung Penuh

Regional
Update Jumlah Kasus Aktif Covid-19 di Kepulauan Riau

Update Jumlah Kasus Aktif Covid-19 di Kepulauan Riau

Regional
Viral Video Mesum 25 Detik di Sragen, Polisi Amankan Terduga Pelaku Perekam dan Penyebar

Viral Video Mesum 25 Detik di Sragen, Polisi Amankan Terduga Pelaku Perekam dan Penyebar

Regional
Akses Masuk Bandar Lampung Diperketat Jelang Libur Nataru, Ini Lokasinya

Akses Masuk Bandar Lampung Diperketat Jelang Libur Nataru, Ini Lokasinya

Regional
Markas Anak Punk di Sukoharjo Digerebek, Kasatpol PP: Mereka Suka Mabuk-mabukan

Markas Anak Punk di Sukoharjo Digerebek, Kasatpol PP: Mereka Suka Mabuk-mabukan

Regional
Tumpukan Sampah Memenuhi Pantai di Pesisir Cirebon

Tumpukan Sampah Memenuhi Pantai di Pesisir Cirebon

Regional
Heboh Video Porno 25 Detik di Sragen, Polisi Sebut 2 Pelaku Masih di Bawah Umur

Heboh Video Porno 25 Detik di Sragen, Polisi Sebut 2 Pelaku Masih di Bawah Umur

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.