Pasca-penyerangan dan Pengusiran 3 Tahun Lalu, Bagaimana Nasib Jemaah Ahmadiyah Kini?

Kompas.com - 20/04/2021, 18:45 WIB
Nuremi dan keluarganya terlihat sedang memasak di rumah barunya. Nuremi dan keluarganya merupakan jemaah Ahmadiyah yang diusir dari Desa Gereneng, Lombok Timur, pada 2018 lalu.  KOMPAS.COM/IDHAM KHALIDNuremi dan keluarganya terlihat sedang memasak di rumah barunya. Nuremi dan keluarganya merupakan jemaah Ahmadiyah yang diusir dari Desa Gereneng, Lombok Timur, pada 2018 lalu.

 

Pemerintah terlihat tidak berdaya menyelesaikan kasus intoleransi, karena hanya merelokasi jemaah Ahmadiyah saja.

Pemerintah juga belum berhasil menempatkan kembali warga Ahmadiyah di kampung halamannya semula atau berbaur kembali dengan publik.

Pemerintah tak boleh tutup mata

Menyoroti persoalan konflik Ahmadiyah, dosen Fakultas Ushululddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram Wahid menilai, kasus intoleransi yang menimpa jemaah Ahmadiyah dipicu kurangnya edukasi warga terhadap nilai toleransi.

Dosen yang akrab disapa Abah Wahid ini menyebutkan, kasus penyerangan warga Ahmadiyah di Desa Gereneng diawali perkelahian antar anak yang kemudian merembet kepada persoalan aqidah.

"Kalau kita lihat kasus di Gereneng, pemicunya kan berawal dari perkelahian antar anak, yang kemudian menyeret orangtua dan berujung konflik persoalan pemahaman keyakinan ," kata Wahid.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam catatan Wahid, kasus diskriminasi terhadap jemaah Ahmadiyah di Lombok lahir dari kondisi masyarakat yang secara tiba-tiba mempunyai anggapan Ahmadiyah menyeleweng dari Islam umumnya.

Padahal masyarakat itu sendiri belum pernah mendapatkan edukasi soal aliran atau paham Ahmadiyah.

"Selama ini kan kita belum ada diajarkan tentang suatu kelompok, seperti aliran Ahmadiyah, Suni, atau ataupun ajaran lainnya. Kita cuma tiba-tiba tahu Ahmadiyah itu disebut sesat, padahal kita tidak pernah belajar soal latar belakang pemahaman kelompok  Ahmadiyah," kata Wahid.

Cara pandang Islam mayoritas yang cenderung berfikir konservatif, yang tiba-tiba menganggap jemaah Ahmadiyah sebagai kelompok sesat sangat disayangkan Wahid.

Hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai suatu kelompok bersalah, sehingga memunculkan perilaku diskriminasi.

Dari pantauan kasus tersebut, Wahid menggambarkan bahwa edukasi tentang nilai toleransi beragama masihlah rendah, sehingga peran pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat sangat dibutuhkan.

Dari beberapa pengalaman kasus penyerangan Ahmadiyah, Wahid menilai pemerintah absen dalam penanganan konflik sosial tersebut.

Pemerintah harusnya tidak hanya hadir ketika terjadi konflik, kemudian diselesaikan secara hukum normatif, tapi juga harus hadir lebih masif dalam langkah-langkah pencegahan.

"Dalam beberapa kali kasus warga jemaah Ahmadiyah sejak 2006 lalu, saya kira pemerintah absen dalam melakukan pencegahan konflik semacam ini. Absen dalam artian tutup mata dalam kasus diskriminatif seperti ini," kata Wahid.

Menurut Wahid, pemikiran konservatif dapat diubah melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal. Walaupun hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PPDB Sumbar Dibuka Senin Besok, Berikut Posko dan Hotline Pengaduan

PPDB Sumbar Dibuka Senin Besok, Berikut Posko dan Hotline Pengaduan

Regional
Maling Salah Sasaran, Masuk Rumah Pendekar hingga Pura-pura ke Toilet

Maling Salah Sasaran, Masuk Rumah Pendekar hingga Pura-pura ke Toilet

Regional
Minta Pasien Covid-19 Ngevlog, Ini Alasan Ganjar Pranowo

Minta Pasien Covid-19 Ngevlog, Ini Alasan Ganjar Pranowo

Regional
Detik-detik Menegangkan Saat Tim SAR Evakuasi Mayat Pria yang Diseret Buaya

Detik-detik Menegangkan Saat Tim SAR Evakuasi Mayat Pria yang Diseret Buaya

Regional
Kesiapan Pemerintah DIY Hadapi Peningkatan Jumlah Pasien Covid-19

Kesiapan Pemerintah DIY Hadapi Peningkatan Jumlah Pasien Covid-19

Regional
Kasus Korupsi SPP SMK di Batam, Tersangka Sebut Nama Pejabat Kepri

Kasus Korupsi SPP SMK di Batam, Tersangka Sebut Nama Pejabat Kepri

Regional
Sebulan Terakhir, Ada 4 Kasus Kekerasan Pada Jurnalis di Sumut, Pembakaran Mobil hingga Pembunuhan

Sebulan Terakhir, Ada 4 Kasus Kekerasan Pada Jurnalis di Sumut, Pembakaran Mobil hingga Pembunuhan

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 20 Juni 2021

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 20 Juni 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar, dan Kalsel 20 Juni 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar, dan Kalsel 20 Juni 2021

Regional
Banyak Lansia di Sumbar Belum Ikut Vaksinasi, Ini Alasannya

Banyak Lansia di Sumbar Belum Ikut Vaksinasi, Ini Alasannya

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 20 Juni 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 20 Juni 2021

Regional
Kehilangan Indera Penciuman, Ini Kronologi Puluhan Pegawai Dispar Kulon Progo Terkena Covid-19

Kehilangan Indera Penciuman, Ini Kronologi Puluhan Pegawai Dispar Kulon Progo Terkena Covid-19

Regional
Pukul Istri karena Tak Terima Ponselnya Diperiksa, Pria Ini Terancam 5 Tahun Penjara

Pukul Istri karena Tak Terima Ponselnya Diperiksa, Pria Ini Terancam 5 Tahun Penjara

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 20 Juni 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 20 Juni 2021

Regional
Daftar Lokasi Vaksinasi Massal di Bandar Lampung untuk Senin Besok

Daftar Lokasi Vaksinasi Massal di Bandar Lampung untuk Senin Besok

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X