Pasca-penyerangan dan Pengusiran 3 Tahun Lalu, Bagaimana Nasib Jemaah Ahmadiyah Kini?

Kompas.com - 20/04/2021, 18:45 WIB
Nuremi terlihat sedang memasak di rumah barunya. KOMPAS.COM/IDHAM KHALIDNuremi terlihat sedang memasak di rumah barunya.

 

Ismail menyebutkan, rumah di kampung halamannya masih rusak, dan ia meninggalkan beberapa bidang tanah sawah yang kini digarap kerabatnya.

Ismail jarang pulang ke kampung halaman, jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

“Kalau tidak ada yang penting-penting sekali, saya tidak pulang. Cuma sekali setahun mungkin, jenguk keluarga, dan saya sudah merasa nyaman di sini,” kata Ismail.

Selain keluarga Ismail, keluarga Edi Sucipto juga membagikan pengalaman selama tinggal di lokasi relokasi.

Bagi Edi, ia tidak punya harapan lagi untuk kembali ke kampung halaman, mengingat belum ada kabar dari pemerintah atas insiden tiga tahun lalu.

“Kalau masalah kepastian balik ke rumah belum ada kepastian. Sudah berbagai macam cara diperjuangkan, tapi nihil hasilnya. Sudah tidak ada harapan lagi, sudah,” kata Edi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (31/3/2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Edi mengatakan, keluarganya kini telah merasa nyaman tinggal di tempat baru. Dia juga sudah memiliki pekerjaan yang layak untuk menafkahi anak dan istri.

Edi kini menjadi tukang bangunan. Banyak dari teman-temannya dulunya menjadi korban penyerangan, ikut dalam proyek Edi sebagai buruh bangunan.

Disampaikan Edi bahwa rumah dan lahan sawah di kampung halamannya sudah terjual, mengingat ia tidak punya harapan lagi untuk pulang ke desanya itu.

“Kalau saya sih sudah selesai semuanya, tidak mau saya ambil pusing, santai aja. Intinya sudah ada kerjaan, dapat memenuhi kebutuhan anak istri, Alhamdulillah itu saja,” kata Edi.

Cara pemerintah tangani kasus Ahmadiyah

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provisi Nusa Tenggara Barat, Lalu Abdul Wahid mengatakan, kasus jemaah Ahmadiyah merupakan kasus lama yang masih menjadi atensi pemerintah daerah.

Abdul mengklaim berbagi upaya telah dilakukan dalam penyelesaian kasus tersebut.

Salah satunya dengan cara berdialog bersama jemaah Ahmadiyah maupun masyarakat yang menolak kehadiran kelompok itu.

"Kita mengedepankan edukasi masyarakat untuk tidak main hakim sendiri. Kita Bakesbangpol sendiri tetap memantau, memonitoring perkembangan, dan menjamin keamanan Ahmadiyah tersebut," kata Abdul melalui sambungan telpon, Jumat (16/4/2021).

Kendati demikian, Abdul menyebutkan, pihak Ahmadiyah sendiri juga tidak harus memaksakan kehendak agar bisa kembali ke kampung halamannya, jika potensi resistensi sangatlah tinggi.

"Misalkan, di kampung A ada Ahmadiyah dan ada resistensi di kampung itu, terus Ahmadiyah memaksakan diri untuk balik kampung, itu yang namanya memaksakan diri. Padahal kita sudah buatkan solusi," kata Abdul.

Abdul mengatakan, saat ini pemerintah sedang melakukan perencanaan bantuan infrastruktur berupa tempat tinggal kepada jemaah Ahmadiyah, tapi dengan cara yang senyap.

"Sejauh yang kita amati, berdasarkan pengamatan yang kita lakukan tidak ada aspek-aspek seperti itu (politik, ekonomi) ini murni persoalan perbedaan pemahaman saja," kata Abdul.

Abdul mengimbau kepada masyarakat agar tidak cepat main hakim sendiri jika ada persoalan perbedaan pemahaman maupun keyakinan, seperti yang menimpa warga Ahmadiyah.

Dosen Antropologi Agama Fakultas Ushululddin dan Studi Agama  (FUSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr Abdul Wahid menilai sikap pemerintah yang hanya merelokasi jemaah Ahmadiyah seperti membenarkan sikap intoleransi dari warga.

"Ini pemerintah hanya seperti mengamini sikap intoleransi yang dilakukan warga itu sendiri. Pemerintah seperti disandera oleh cara pandang mayoritas keagamaan saja," ujar dia.

Baginya, pemerintah harus tegas memberikan perlindungan terhadap setiap warga negara yang memeluk dan menganut kepercayaannya masing-masing.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 22 Juni 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 22 Juni 2021

Regional
12 Imigran di Pekanbaru Positif Covid-19

12 Imigran di Pekanbaru Positif Covid-19

Regional
Polisi Tangkap Pelaku yang Curi Uang dan Emas Senilai Rp 300 Juta Milik WN Inggris

Polisi Tangkap Pelaku yang Curi Uang dan Emas Senilai Rp 300 Juta Milik WN Inggris

Regional
Sejumlah Anak Terpapar Covid-19 di Blora, Tertular dari Anggota Keluarga

Sejumlah Anak Terpapar Covid-19 di Blora, Tertular dari Anggota Keluarga

Regional
Keterisian RS di Bogor Kritis, Masyarakat Diminta Segera Ikut Vaksinasi

Keterisian RS di Bogor Kritis, Masyarakat Diminta Segera Ikut Vaksinasi

Regional
Gibran Tutup Sekolah yang Siswanya Diduga Rusak Belasan Makam di Solo

Gibran Tutup Sekolah yang Siswanya Diduga Rusak Belasan Makam di Solo

Regional
Anggota DPRD Sayangkan Wali Kota Tegal Tak Hadir Saat Rapat Bahas Anggaran Covid-19

Anggota DPRD Sayangkan Wali Kota Tegal Tak Hadir Saat Rapat Bahas Anggaran Covid-19

Regional
Cegah Covid-19, Jalan Protokol di Tasikmalaya Diberlakukan Penyekatan

Cegah Covid-19, Jalan Protokol di Tasikmalaya Diberlakukan Penyekatan

Regional
Kasus Covid-19 di Jember Meningkat, Belajar Tatap Muka Dipertimbangkan Kembali

Kasus Covid-19 di Jember Meningkat, Belajar Tatap Muka Dipertimbangkan Kembali

Regional
Perketat Wilayah, Gubernur Sumsel akan Terapkan Aturan Ganjil Genap

Perketat Wilayah, Gubernur Sumsel akan Terapkan Aturan Ganjil Genap

Regional
Bukan soal Elektabilitas, Ini Alasan PDI-P Jawa Timur Dukung Puan sebagai Capres

Bukan soal Elektabilitas, Ini Alasan PDI-P Jawa Timur Dukung Puan sebagai Capres

Regional
Hotel di Banyumas Disulap Jadi RS Darurat Covid-19, Beroperasi Pekan Depan

Hotel di Banyumas Disulap Jadi RS Darurat Covid-19, Beroperasi Pekan Depan

Regional
Varian Delta di Karawang Diprediksi akibat Pergerakan Masyarakat

Varian Delta di Karawang Diprediksi akibat Pergerakan Masyarakat

Regional
Kasus Covid-19 di Balai Kota Yogyakarta Semakin Meluas, 52 ASN Terpapar

Kasus Covid-19 di Balai Kota Yogyakarta Semakin Meluas, 52 ASN Terpapar

Regional
Permintaan Naik 3 Kali Lipat, Stok Oksigen di DIY Menipis

Permintaan Naik 3 Kali Lipat, Stok Oksigen di DIY Menipis

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X