Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Krematorium Bebalang, Bakar 470 Jenazah Positif Covid-19, Awalnya Tidak Berani

Kompas.com - 18/02/2021, 13:47 WIB
Kontributor Banyuwangi, Imam Rosidin,
Robertus Belarminus

Tim Redaksi

 

Sementara untuk kremasi jenazah konfirmasi Covid-19 hanya petugas yang boleh masuk.

"Kami menjaga orang yang datang, atau sesedikit mungkin minimal 1 meter jaraknya. Mereka biar ada jaraknya, almarhum positif Covid yang sudah di peti tak akan menularkan. Sekarang yang menularkan adalah orang yang ngantar, ini yang kita jaga," kata dia.

Untuk menjaga dari paparan virus Covid-19, kremasi ini menyiapkan 6 lampu UV di pintu-pintu masuk krematorium.

Lalu melakukan penyemprotan disinfektan secara teratur.

Kemudian, bagi petugas yang membakar jenazah wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

Tidak ada yang tertular

Ia mengatakan, krematorium ini memiliki 30 petugas. Sejak mulai menerima jenazah Covid-19, hingga saat ini belum ada satu pun anggota timnya yang tertular Covid-19.

"Meskipun dia non positif tetap protokol. Kami ingin tim kami sehat, dari bulan 5 ambil Covid tak ada yang kena," ujar dia.

Baca juga: Dana Hibah Pemulihan Pariwisata Dikorupsi ASN, Gubernur Bali: Saya Malu

Langkah pencegahan yang dilakukan yakni disiplin memakai masker dan rutin cuci tangan sebelum dan sesudah melalukan aktivitas.

Timnya juga rutin minum atau konsumsi vitamin C dan makan makanan sehat.

"Kami sebelum makam kumur dengan air hangat baru makan. Setelah tugas langsung mandi dan ganti baju," kata dia.

Jika suatu saat ada anggota timnya yang terpapar Covid-19, ia menyebut itu sudah menjadi risiko.

"30 tim kami kalau terpapar enggak ada, semoga tidak. Jika kami terpapar ini adalah risiko kita main api, Covid ke sisni ada peluang tapi kalau sudah protokol yakin tak kena," kata dia.

Ia menuturkan, kremasi satu jenazah positif Covid-19 biasanya dikerjakan oleh 9 orang.

Para petugas ini memakai pakaian lengkap APD mulai dari baju hazmat, masker, sarung tangan, sepatu, hingga face shield.

Semuanya sekali pakai dan akan dibakar jika sudah selesai pembakaran jenazah.

Adapun prosesi upacaranya dilakukan sebagaimana jenazah umat Hindu pada umumnya.

"Sama upacaranya, bedanya kalau Covid peti tidak dibuka. Kita buat cendana pengganti mayat itu yang kita upacarai dan kita bakar di peti almarhum. Setelah itu bakar keduanya," kata dia.

Krematorium ini mematok biaya untuk setiap upacara kremasi jenazah.

Untuk jenis upacara alit Rp 15 juta, madya Rp 19 juta, dan utama Rp 25 juta.

Untuk jenazah Covid-19 ada tambahan untuk membeli baju APD sebanyak 9 item dengan harga Rp 200.000.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com