Cerita Petani Kopi di Lereng Gunung Merapi, Erupsi Jadi Berkah

Kompas.com - 30/09/2020, 10:55 WIB
Suryono (54) warga Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman saat menunjukan perkebunan kopi miliknya. KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMASuryono (54) warga Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman saat menunjukan perkebunan kopi miliknya.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -Lereng Gunung Merapi yang subur, cocok untuk budidaya Kopi. Pembudidayaan kopi di lereng gunung sudah berjalan secara turun - temurun.

Meski keberadaanya cukup lama, tapi erupsi Gunung Merapi pada 2010 menjadi momentum melambungkan nama kopi Merapi.

"Kopi Merapi sebenarnya sudah ada cukup lama," ujar salah satu petani kopi di Lereng Merapi, Suryono saat ditemui di rumahnya, Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, baru-baru ini.

Suryono menyampaikan kopi di Lereng Gunung Merapi sempat meredup. Sebab harga kopi saat itu cukup rendah.

Baca juga: Hidup Penuh Berkah di Lereng Gunung Merapi

Hingga akhirnya beberapa warga menelantarkan pohon kopi yang ada di kebun mereka.

"Sekitar tahun 1981 harganya itu jatuh sampai hanya lima Rp 5.000. Jadi kopi itu hanya ditelantarkan saja," bebernya.

Meski, harga turun tapi beberapa petani masih bertekad untuk bertahan. Tujuannya agar kopi Merapi tetap eksis di wilayah Cangkringan, Sleman.

Kedai Kopi Merapi yang terletak di Kepuharjo, Cangkringan, Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.Kompas.com/SHERLY PUSPITA Kedai Kopi Merapi yang terletak di Kepuharjo, Cangkringan, Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurutnya, saat itu kopi Merapi belum banyak dikenal orang, sehingga permasalahan utama para petani adalah pemasaran.

"Belum banyak yang kenal kopi Merapi, bahkan pernah menawarkan ke luar kota itu banyak ditipu orang," urainya.

Baca juga: Petani Sayur Merapi: Daripada Busuk Sia-sia, Lebih Baik Disedekahkan

Pada 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi. Banyak tanaman kopi yang ada di Cangkringan, Sleman rusak akibat erupsi tersebut.

Namun, dibalik bencana ada berkah yang tersembunyi. Karena erupsi tersebut, Kopi Merapi menjadi banyak dikenal orang.

Sebab, erupsi Gunung Merapi 2010 menjadi perhatian. Banyak orang datang untuk membantu masyarakat Lereng Merapi yang menjadi korban erupsi.

"Karena erupsi banyak yang ke sini, dan tahu di sini ada kopi, disuguhi kopi dan ternyata enak. Ya menjadi momentum, Merapi menjadi berkah," tegasnya.

Suryono (54) warga Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman saat menunjukan produk kopinyaKOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA Suryono (54) warga Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman saat menunjukan produk kopinya
Seiring mulai dikenalnya kopi Merapi, harga per kilogramnya pun turut terangkat. Bahkan, per kilogramnya mencapai sekitar Rp 25.000.

"Itu sudah green bean,"ungkapnya.

Terlebih setelah hadirnya warung Kopi Merapi di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Warung yang didirikan oleh Sumijo ini ramai dikunjungi wisatawan. Kehadiran warung yang berada di lereng Merapi ini turut mendongkrak nama kopi Merapi.

"Terlebih, setelah Mas Mijo (Sumijo) membuat Warung Kopi Merapi di Petung (Dusun Petung, Kepuharjo). Kopi Merapi makin dikenal," tandasnya.

Baca juga: Jalak dan Rusa yang Jadi Tanda Alam Warga Lereng Merapi

Menurutnya, erupsi Merapi merupakan salah satu kendala. Namun bukan kendala yang utama.

"Ya kendala tapi bukan yang utama. Merapi itu justru berkah bagi saya," tegasnya.

Melihat potensi yang besar, Suryono juga mengajak beberapa warga Lereng Merapi untuk mengembangkan Kopi Merapi.

Sebab, dengan dianugerahi tanah yang subur, semua yang ditanam bisa menghasilkan termasuk kopi.

"Saya miris melihat kebun-kebun tidak terawat, banyak petani yang sudah beralih profesi. Saya beri motivasi teman-teman, meski punya profesi lain, tapi ada waktu khusus memperhatikan pertanian, sekarang ada enam orang yang sudah mulai kembali menekuni kopi," tandasnya.

Tak hanya mengajak, Suryono juga mengajari mereka membudidayakan kopi. Termasuk membantu entres.

"Hasil kopi tetangga juga saya terima, saya mendidik teman-teman petani sini, biasanya kan mereka petik racutan jadi hijau, merah, kuning semua kan hasilnya kurang bagus. Saya beli dengan harga yang pantas, Rp 6.000, biasanya mereka jual racutan itu Rp 3.500," ucapnya.

Baca juga: Dari Lereng Merapi ke Cantelan Pagar, Gerakan Berbagi Sayuran di Saat Pandemi

Suryono mengolah biji kopi dengan cara tradisional karena keterbatasan alat. Namun, dia kemudian mencari berbagai referensi dan menciptakan alat sendiri.

"Pakai kuali, roasting manual, banyak kendala, banyak suka dukanya. Karena keterbatasan dana, mau beli alat roasting nggak punya uang, saya menciptakan sendiri dengan melihat di YouTube," ucapnya.

Gunung Merapi.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Gunung Merapi.
Diakuinya awal-awal jualan hanya dibungkus plastik. Penjualnya juga hanya ke teman-temannya dan berbagai komunitas.

Namun saat ini, Suryono sudah menjual kopi dengan kemasan yang lebih menarik dan kekinian. Produk kopinya diberi nama Kopi Gondang.

"Packaging ini sekitar enam bulan lalu. Ada langganan saya yang menyarankan, packaging yang kedap udara. Anak saya tak suruh mencari bahannya, lalu saya membikin labelnya," urainya.

Baca juga: Aksi Pemuda Lereng Merapi Bersihkan Gunung Sambil Kenakan Kostum Superhero

Kopi milik Suryono saat ini pemasaranya sudah lebih luas. Bahkan sampai keluar DIY, mulai dari Tangerang, Bali, Madiun hingga Surabaya.

"Ya dengan saya bisa mengolah sendiri ada peningkatan lah dari pada jual green bean. Biasanya saya jual green bean itu Rp 30.000, Rp 40.000 per kilo, dengan saya jual berbentuk produk seperti ini Rp 125.000 per kilo, kalau 250 gram, Rp 35.000," pungkasnya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terpapar Covid-19, Dokter Sahabat Ganjar Ini Kondisinya Membaik Selepas Terapi Plasma Konvalesen

Terpapar Covid-19, Dokter Sahabat Ganjar Ini Kondisinya Membaik Selepas Terapi Plasma Konvalesen

Regional
Siswa Tak Punya Ponsel dan Internet untuk Belajar, Ini Solusinya

Siswa Tak Punya Ponsel dan Internet untuk Belajar, Ini Solusinya

Regional
[POPULER NUSANTARA] 'Aksi di Rumah Mahfud MD Bukan Tanggung Jawab Saya' | Tukang Bakso Ditendang Pembeli

[POPULER NUSANTARA] "Aksi di Rumah Mahfud MD Bukan Tanggung Jawab Saya" | Tukang Bakso Ditendang Pembeli

Regional
Soal Demo di Rumah Mahfud MD, Korlap Mengaku Aksi Susulan dan Inisiatif Massa: Bukan Tanggung Jawab Saya

Soal Demo di Rumah Mahfud MD, Korlap Mengaku Aksi Susulan dan Inisiatif Massa: Bukan Tanggung Jawab Saya

Regional
Bermula 8 Siswa SMK Batuk dan Anosmia, Terbongkar 179 Siswa Positif Covid-19

Bermula 8 Siswa SMK Batuk dan Anosmia, Terbongkar 179 Siswa Positif Covid-19

Regional
4 Nelayan Diselamatkan Kapal Asing Setelah 12 Jam Karam di Tengah Laut

4 Nelayan Diselamatkan Kapal Asing Setelah 12 Jam Karam di Tengah Laut

Regional
Cerita Kemisan Berjalan Kaki 400 Km dari Kulon Progo, Setahun Hilang dan Dirazia Satpol PP di Surabaya

Cerita Kemisan Berjalan Kaki 400 Km dari Kulon Progo, Setahun Hilang dan Dirazia Satpol PP di Surabaya

Regional
Cerita FR yang Hilang di Tambang Pasir, Tidur di 'Backhoe' Saat Awan Panas Gunung Semeru Menerjang

Cerita FR yang Hilang di Tambang Pasir, Tidur di "Backhoe" Saat Awan Panas Gunung Semeru Menerjang

Regional
Cerita Losmen Puri, Penginapan Tua di Denpasar yang Masih Bertahan

Cerita Losmen Puri, Penginapan Tua di Denpasar yang Masih Bertahan

Regional
6 Bupati yang Terinfeksi Covid-19 dalam Sebulan Terakhir

6 Bupati yang Terinfeksi Covid-19 dalam Sebulan Terakhir

Regional
Fakta Terbaru Pengepungan Rumah Mahfud MD, Korlap Tak Mau Tanggung Jawab, Tak Tahu Ada yang Diperiksa Polisi

Fakta Terbaru Pengepungan Rumah Mahfud MD, Korlap Tak Mau Tanggung Jawab, Tak Tahu Ada yang Diperiksa Polisi

Regional
Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Regional
179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

Regional
Ganjar Minta Penyintas yang Sembuh dari Covid-19 Donorkan Plasma Darah

Ganjar Minta Penyintas yang Sembuh dari Covid-19 Donorkan Plasma Darah

Regional
3 Dokter Kandungan RSD dr Soebandi Positif Covid-19, Berstatus Tanpa Gejala

3 Dokter Kandungan RSD dr Soebandi Positif Covid-19, Berstatus Tanpa Gejala

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X