Kompas.com - 30/08/2020, 21:53 WIB
Suasana gunung lumpur (Mud Vulcano) Kesongo di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2020). DOKUMEN BPBD BLORASuasana gunung lumpur (Mud Vulcano) Kesongo di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2020).

BLORA, KOMPAS.com - Ahli Geologi, Handoko Teguh Wibowo, menyampaikan, keberadaan gunung lumpur (mud volcano) di Kesongo, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengindikasikan jika di lokasi tersebut bersemayam minyak dan gas.

Adapun lokasi gunung lumpur jamak ditemui di Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang dan beberapa kabupaten di Jatim (zona kendeng).

Sementara di Indonesia mud volcano eruption yang masih sering dijadikan bahan perbincangan berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Meski demikian, Dosen Teknik Geologi dan Pertambangan Institut Teknologi Adhitama Surabaya ini menyebut, mud volcano di Blora berbeda dengan di Sidoarjo.

Baca juga: Semburan Gas Campur Lumpur di Blora adalah Mud Volcano, Pernah Terjadi pada 2013

 

Mud volcano di Sidoarjo bersuhu 100 derajat celcius, sedangkan mud volcano di Kesongo mengikuti suhu kamar berkisar 30 derajat celcius hingga 32 derajat celcius.

"Mud volcano menjadi ciri minyak dan gas. Mud volcano selalu berasosiasi dengan keberadaan migas baik di bawah atau di sekitarnya. Hal ini bisa kita lihat di sebelah barat Kesongo ada lapangan migas produktif, lapangan gabus milik Pertamina," kata Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Jatim ini, saat dihubungi Kompas.com, melalui ponsel, Minggu (30/8/2020).

Mud volcano, sambung dia, adalah ekspresi dari massa lumpur bercampur gas yang keluar ke permukaan dengan bentuk morfologinya yang bermacam-macam.

Ada yang datar, ada yang menyerupai tumpeng atau bahkan ada yang berbentuk kubangan. 

Sedangkan massa lumpur bercampur gas yang belum keluar sering disebut mud diapir (kubah lumpur) berbentuk lancip ke atas, dan ini merupakan embrio gunung lumpur yang suatu ketika bisa muncul ke permukaan menjadi mud volcano.

Dengan kata lain, ada potensi positif keberadaan gas yang kandungan atau kapasitas besar-kecilnya tergantung dimensi dan geometri mud diapir.

"Sedangkan negatifnya adalah ada kerawanan terhadap kondisi ini seperti tekanan berlebih (overpressure) di area mud diapir atau di gunung lumpurnya," kata Handoko.

Menurut Handoko, gas yang menyembur di lumpur Kesongo mengandung gas hidrogen sulfida (H25) yang bersifat racun pada kadar tertentu.

Sehingga sudah pasti manusia atau hewan akan keracunan jika menghirupnya.

Meski bersifat racun, sambung dia, jika diolah sedemikian rupa bisa dimanfaatkan.

Jenis minyak dan gas, kata dia, serupa atau sama persis dengan yang dieksploitasi perusahaan migas. 

"Hal ini biasa terjadi dieksploitasi migas, selalu muncul gas H2S di dalam proses pengambilannya dan selalu ada tim monitoring gas H2S di dekat lubang bor. Wujudnya gas alam yang diproduksi oleh perusahaan migas. Setelah diproses, kegunaannya seperti suplai gas industri untuk pembakaran, PLTG, disalurkan ke masyarakat berupa jaringan gas alam kota lewat pipanisasi dan sebagainya," kata jebolan (S1) Jurusan Teknik Geologi UGM dan (S2) Marine Geology and Geophysic, Oregon State University, USA ini.

Baca juga: Ruko Elektronik Terbakar di Surabaya, 5 Penghuninya Tewas Terjebak

Handoko menuturkan, gas alam yang terkubur di kawasan Kesongo diperkirakan bersemayam di kedalaman di bawah 1.000 meter.

"Kalau di area Kesongo di bawah 1.000 meter sudah ada gas alamnya, jauh lebih dalam dari gas rawa, tapi bertekanan besar. Tapi, tidak menutup kemungkinan dangkal juga. Untuk contoh kasus eksploitasi masif di area gunung lumpur adalah di Republik Azerbaijan yang pengeboran persis di area mud volcano dan menghasilkan migas yang besar," pungkas Handoko.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora, Slamet Pamudji, mengatakan, pemerintah masih belum bisa berspekulasi untuk pengembangan dan pemanfaatan kawasan Kesongo yang memiliki dua sisi potensi.

Positifnya menjadi ciri keberadaan migas serta menjadi geowisata dan laboratorium alam. Namun, ada bahaya yang muncul jika tiba-tiba erupsi.

"Kami lihat perkembangannya. Ini bukan aset Pemkab Blora melainkan kawasan perhutani dan tentunya harus menjalin kerja sama," kata Slamet.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X