Nelayan Natuna Hanya Butuh Pengawalan 24 Jam, Bukan Datangkan Nelayan Lain

Kompas.com - 13/01/2020, 23:08 WIB
Ketua Aliansi Nalayan Natuna Herman mengatakan nelayan Natuna merupakan nelayan sepenuhnya, alias tidak ada kerja sampingan selain nelayan atau bisa dikatakan nelayan mandiri. Berbeda dengan nelayan lainnya, yang memiliki cukong atau bos atau pemilik kapal. DOK NELAYAN NATUNAKetua Aliansi Nalayan Natuna Herman mengatakan nelayan Natuna merupakan nelayan sepenuhnya, alias tidak ada kerja sampingan selain nelayan atau bisa dikatakan nelayan mandiri. Berbeda dengan nelayan lainnya, yang memiliki cukong atau bos atau pemilik kapal.

NATUNA, KOMPAS.com - Ketua Nelayan Kabupaten Natuna, Herman menegaskan bahwa mereka para nelayan Natuna 100 persen menolak keberadaan buruh nelayan pantura.

Keputusan ini berdasarkan dari hasil musyawarah besar (mubes) yang dilakukan kemarin dari seluruh perwakilan nalayan Natuna yang jumlahnya mencapai 6.000-an.

Menurut Herman, apa yang dilakukan pemerintah dengan mendatangkan para nelayan senusantara, terlebih nelayan pantura, sudah baik.

Hanya saja, kata Herman, belum tepat untuk nelayan Natuna yang cara tangkapnya benar-benar masih ramah lingkungan, sehingga kelestarian ekosistem laut masih terjaga.

"Makanya kami langsung menggelar mubes, dan hasilnya kami menolak keberadaan nelayan lain di Laut Natuna," kata Herman, Senin (13/1/2020).

Baca juga: Pengamat: Berdayakan Nelayan Natuna, Jangan Nelayan Jawa Dulu

Dari hasil mubes itu juga, Herman mengaku bahwa para nelayan Natuna hanya membutuhkan pengawalan ketat 24 jam dari aparat penegak hukum di laut.

Meski rata-rata kapal hanya 5 GT, namun kawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia bisa diarungi para nelayan Natuna.

Hanya saja terkadang mereka mendapatkan intimidasi dari sejumlah nelayan atau kapal ikan asing (KIA), baik Vietnam, Thailand maupun China.

Hal itu yang membuat mereka mundur dan pergi meninggalkan kawasan ZEE Indonesia yang ada di utara Laut Natuna.

"Nalayan Vietnam dan Thailand pada arogan, mereka tidak segan-segan menabrakkan kapalnya ke kapal kami. Makanya, kalau melihat kapal mereka, kami memilih mundur," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Corona di Jember, Tetapkan KLB hingga Jam Operasional Pasar Dibatasi

Cegah Corona di Jember, Tetapkan KLB hingga Jam Operasional Pasar Dibatasi

Regional
Kebakaran Hanguskan Ratusan Rumah di Ambon, Dua Orang Tewas Terbakar

Kebakaran Hanguskan Ratusan Rumah di Ambon, Dua Orang Tewas Terbakar

Regional
UPDATE Covid-19 di Riau: 7.017 Pasien ODP, Satu PDP Meninggal Dunia

UPDATE Covid-19 di Riau: 7.017 Pasien ODP, Satu PDP Meninggal Dunia

Regional
Di Tengah Wabah Corona, Bandara YIA Mulai Beroperasi Penuh, Ini Faktanya

Di Tengah Wabah Corona, Bandara YIA Mulai Beroperasi Penuh, Ini Faktanya

Regional
'Warga Menolak Pemakaman Bahkan Mengusir Kami, Lantas Akan Dimakamkan di Mana Keluarga Kami'

"Warga Menolak Pemakaman Bahkan Mengusir Kami, Lantas Akan Dimakamkan di Mana Keluarga Kami"

Regional
Antisipasi Corona, Pemkab Magelang Dirikan Posko Terpadu di Perbatasan

Antisipasi Corona, Pemkab Magelang Dirikan Posko Terpadu di Perbatasan

Regional
Viral Video Pria Acungkan Pisau Saat Diamankan Polisi, Sebelumnya Ancam Bunuh Ibu

Viral Video Pria Acungkan Pisau Saat Diamankan Polisi, Sebelumnya Ancam Bunuh Ibu

Regional
Semua Pasien Positif Corona di Kota Malang Sembuh, Pengobatan dan Daya Tahan Tubuh Jadi Kunci

Semua Pasien Positif Corona di Kota Malang Sembuh, Pengobatan dan Daya Tahan Tubuh Jadi Kunci

Regional
Ini Penjelasan Lengkap Polisi Soal Pemulangan TKA China di Ketapang

Ini Penjelasan Lengkap Polisi Soal Pemulangan TKA China di Ketapang

Regional
Dua PDP di Kalbar Meninggal Dunia, 1 Orang Pernah Ikut Tabligh Akbar di Malaysia

Dua PDP di Kalbar Meninggal Dunia, 1 Orang Pernah Ikut Tabligh Akbar di Malaysia

Regional
Berjuang Lawan Covid-19 Sampai Sembuh, Christina: Ini Bukan Virus Biasa, Saya Sudah Mengalami

Berjuang Lawan Covid-19 Sampai Sembuh, Christina: Ini Bukan Virus Biasa, Saya Sudah Mengalami

Regional
Kerusakan Hutan Disinyalir Penyebab Banjir Bandang di Bandung Barat

Kerusakan Hutan Disinyalir Penyebab Banjir Bandang di Bandung Barat

Regional
Warga Tolak Jenazah Pasien PDP Covid-19, Tak Boleh Dimakamkan dan Ambulans Diusir

Warga Tolak Jenazah Pasien PDP Covid-19, Tak Boleh Dimakamkan dan Ambulans Diusir

Regional
Diprotes Warga, TKA Asal China yang Baru Datang ke Ketapang Dipulangkan

Diprotes Warga, TKA Asal China yang Baru Datang ke Ketapang Dipulangkan

Regional
Pernah Kontak dengan Pasien Positif, 98 Warga Lampung Negatif Covid-19

Pernah Kontak dengan Pasien Positif, 98 Warga Lampung Negatif Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X