Pemindahan Ibu Kota Negara Ancam Eksistensi Kesultanan Kutai?

Kompas.com - 28/10/2019, 08:32 WIB
Museum Mulawarman di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (19/10/2019). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONMuseum Mulawarman di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (19/10/2019).

SAMARINDA, KOMPAS.com - Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tak khawatir pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur akan mengancam eksistensi budaya kesultanan.

Haryanto Bachroel, salah satu Kerabat Kesultanan Kutai di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, mengatakan, masyarakat Kutai sudah berinteraksi dengan penduduk luar sejak zaman kesultanan Kutai dulu.

Kesultanan Kutai sering didatangi orang luar termasuk mancanegara karena dinilai sebagai kota emas selain Pulau Jawa.

"Jadi tidak masalah," kata dia, Sabtu (26/10/2019) saat dikonfirmasi.

Baca juga: Berkunjung ke Calon Ibu Kota Negara, Jangan Lupa Mampir ke Bangkirai

Kesultanan sudah memelihara budaya sejak 700 ratus lalu. Di Tenggarong, Kutai Kartanegara, setiap tahun digelar budaya Erau.

Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya pesta budaya yang ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita.

Gelaran budaya ini selalu mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah daerah.

"Karena itu, dengan mempertahankan budaya Kutai adalah penghormatan terhadap kesultanan," ujarnya.

Menurut dia, hadirnya ibu kota negara justru memperkuat eksistensi kesultanan Kutai.

Selain itu, pemindahan ibu kota negara juga akan memajukan daerah-daerah penyangga dan memajukan ekonomi masyarakat. Seiring migrasi penduduk besar-besaran masuk ke Kaltim.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'75 Tahun Merdeka, Desa Kami Belum Masuk Listrik, Anak-anak Belajar Pakai Lampu Teplok...'

"75 Tahun Merdeka, Desa Kami Belum Masuk Listrik, Anak-anak Belajar Pakai Lampu Teplok..."

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 13 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 13 Agustus 2020

Regional
Warga yang Makan Daging Busuk BPNT Muntah-muntah

Warga yang Makan Daging Busuk BPNT Muntah-muntah

Regional
Masih Berkabung, Petugas Kesulitan Tracing Warga yang Rebut Jenazah Covid-19

Masih Berkabung, Petugas Kesulitan Tracing Warga yang Rebut Jenazah Covid-19

Regional
Tersangka Kasus Pengeroyokan dan Perusakan Midodareni di Solo Bertambah

Tersangka Kasus Pengeroyokan dan Perusakan Midodareni di Solo Bertambah

Regional
Kasus Randi, Mahasiswa UHO yang Tertembak dalam Demo, Disidangkan di PN Jaksel

Kasus Randi, Mahasiswa UHO yang Tertembak dalam Demo, Disidangkan di PN Jaksel

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 13 Agustus 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 13 Agustus 2020

Regional
289 Anak Usia Sekolah Positif Corona di Papua, Ini Penjelasannya

289 Anak Usia Sekolah Positif Corona di Papua, Ini Penjelasannya

Regional
Belajar Tatap Muka SMP di Padang Panjang Berjalan Lancar, Ada 9 Aturan yang Harus Dipatuhi

Belajar Tatap Muka SMP di Padang Panjang Berjalan Lancar, Ada 9 Aturan yang Harus Dipatuhi

Regional
Pria Ini Bunuh Kekasihnya gara-gara Cium Bau Sperma di Sofa Rumah

Pria Ini Bunuh Kekasihnya gara-gara Cium Bau Sperma di Sofa Rumah

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 13 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 13 Agustus 2020

Regional
Gara-gara Rebutan Sebatang Pohon Asam, Kakek Ini Tewas Dibacok Pakai Parang

Gara-gara Rebutan Sebatang Pohon Asam, Kakek Ini Tewas Dibacok Pakai Parang

Regional
Warganya Sakit Makan Daging Busuk BPNT, Kepala Desa Ngamuk Buang Daging di Jalan

Warganya Sakit Makan Daging Busuk BPNT, Kepala Desa Ngamuk Buang Daging di Jalan

Regional
'Sejak Ada Corona, Pedagang Menderita Semua'

"Sejak Ada Corona, Pedagang Menderita Semua"

Regional
Gubernur Kepri Isdianto 2 Kali Tes Swab, Ini Hasilnya

Gubernur Kepri Isdianto 2 Kali Tes Swab, Ini Hasilnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X