Enam Hari Bersama Pelni Melabuhi Perairan Indonesia

Kompas.com - 23/10/2019, 16:08 WIB
Para penumpang turun dari kapal Nggapulu di dermaga Namlea, Pulau Buru, Maluku, Rabu (19/6/2013). Dermaga Namlea menjadi pintu gerbang keluar masuk Pulau Buru. KOMPAS/RADITYA HELABUMIPara penumpang turun dari kapal Nggapulu di dermaga Namlea, Pulau Buru, Maluku, Rabu (19/6/2013). Dermaga Namlea menjadi pintu gerbang keluar masuk Pulau Buru.

 

NGGAPULU (dinamai berdasarkan sebuah puncak berselimut gletser di pegunungan Jayawijaya, Papua) adalah sebuah kapal laut buatan Jerman dan bagian dari armada kapal PELNI, perusahaan kapal feri Indonesia.

Selama enam hari dan lima malam, kapal laut dengan panjang 146,5 meter yang mampu mengangkut sekitar 2.170 penumpang ini menjadi rumah bagi Tim Ceritalah, ketika mereka melakukan perjalanan dari Surabaya di Jawa Timur ke Makassar, Bau Bau, Ambon, Banda Neira, dan Tual di Kepulauan Kei.

Ini adalah sebuah perjalanan yang menempuh jarak hampir 3.000 mil (sekitar 4.800 kilometer) melintasi garis pemisah geografis yang bernama Garis Wallace.

Pelayaran ini membawa Tim Ceritalah dari salah satu pulau terpadat di dunia dengan kombinasi khas Asia berupa monyet, gajah, dan harimau ke perairan yang memukau dan jarang didatangi di pesisir selatan Papua dengan flora dan fauna khas Australasia – kakatua, cendrawasih, dan marsupialia.

Baca juga: Pelni Incar Pendapatan Rp 1 Miliar dari Pengoperasian Kapal Wisata di Labuan Bajo

Begitu penumpang naik ke kapal feri yang menjulang tinggi berlantai delapan di tengah hiruk pikuk kuli angkut yang berlalu-lalang, barang bawaan, peti, dan barang pribadi, Nggapulu menjadi mikrokosmos dari Indonesia sendiri.

Ada orang Jawa, Sumatera, Bugis (suku pedagang yang tersebar di banyak bagian timur negara kepulauan ini), Papua, dan Ambon. Kelompok keluarga, pasangan yang berbulan madu, pedagang, dan mahasiswa menggambarkan seluruh bagian dari Indonesia kontemporer.

Pada tahun 2015, PELNI (sebagai respons terhadap meningkatnya kompetisi di sektor perjalanan udara) mengubah dirinya menjadi layanan feri yang hanya menyediakan kelas ekonomi.

Hilanglah sudah kabin privat dan hirarki di mana artinya percampuran tidak lagi terelakkan. Para penumpang ditampung dalam barisan ranjang (atau tempat tidur) dengan matras hijau plastik di dalam beberapa aula besar terbuka di masing-masing delapan deknya.

Namun, namanya orang Indonesia, walaupun dalam kondisi berdesakan, belum lagi kamar mandi yang – secara mengejutkan – primitif, mereka selalu saja bisa menjaga keteraturan dan selera humor.

Tentunya, para pelancong reguler adalah yang paling siap. Karena sudah mengetahui apa yang akan mereka dapatkan, mereka membawa tenda kecil dan tidur di bagian yang terisolasi dalam kapal – bahkan sebagian dari mereka tidur di tangga.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terungkap, Gajah Sumatera Ditembak dengan Senjata Laras Panjang

Terungkap, Gajah Sumatera Ditembak dengan Senjata Laras Panjang

Regional
Dapat Dukungan dari Gerindra, Gibran Bakal Sowan ke Prabowo di Jakarta

Dapat Dukungan dari Gerindra, Gibran Bakal Sowan ke Prabowo di Jakarta

Regional
Tepergok Bawa Sabu Pesanan Suami Saat Besuk, Wanita Ini Nekat Lempar Barang Bukti

Tepergok Bawa Sabu Pesanan Suami Saat Besuk, Wanita Ini Nekat Lempar Barang Bukti

Regional
Usaha Karaoke Masih Ditutup, Wali Kota Ambon: Nyanyi Tidak Bisa Pakai Masker

Usaha Karaoke Masih Ditutup, Wali Kota Ambon: Nyanyi Tidak Bisa Pakai Masker

Regional
Kabupaten Pesisir Selatan Protes Disebut Zona Kuning Covid-19

Kabupaten Pesisir Selatan Protes Disebut Zona Kuning Covid-19

Regional
Pamit Cari Sagu, Dua Anak Perempuan Hilang di Dalam Hutan

Pamit Cari Sagu, Dua Anak Perempuan Hilang di Dalam Hutan

Regional
Pasangan Suami Istri Tewas Dibunuh Rekan Bisnis, Pelaku: Korban Menuduh Saya Maling

Pasangan Suami Istri Tewas Dibunuh Rekan Bisnis, Pelaku: Korban Menuduh Saya Maling

Regional
Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datangi Sekolah dan Berinteraksi dengan Rekan Kerja

Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datangi Sekolah dan Berinteraksi dengan Rekan Kerja

Regional
Dicopot oleh Bupati Ogan Ilir, Seorang ASN Mengadu ke Komisi ASN

Dicopot oleh Bupati Ogan Ilir, Seorang ASN Mengadu ke Komisi ASN

Regional
PSBB Transisi Diperpanjang di Ambon, Wali Kota: Kita Belum Zona Kuning

PSBB Transisi Diperpanjang di Ambon, Wali Kota: Kita Belum Zona Kuning

Regional
Keraton Yogyakarta Ragu dengan Jumlah Emas Diklaim Trah HB II Telah Dijarah Inggris

Keraton Yogyakarta Ragu dengan Jumlah Emas Diklaim Trah HB II Telah Dijarah Inggris

Regional
Soal Tes Massal Covid-19, Ganjar Ingatkan Kepala Daerah: Jangan Takut Soal Citra

Soal Tes Massal Covid-19, Ganjar Ingatkan Kepala Daerah: Jangan Takut Soal Citra

Regional
Cegah Covid-19, Wagub NTB Minta Kepala Daerah Lebih Masif Lakukan Tracing

Cegah Covid-19, Wagub NTB Minta Kepala Daerah Lebih Masif Lakukan Tracing

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 3 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 3 Agustus 2020

Regional
Korban Pelecehan Seksual 'Dosen' Berkedok Riset Swinger Capai 50 Orang

Korban Pelecehan Seksual "Dosen" Berkedok Riset Swinger Capai 50 Orang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X