Atasi Anak Kecanduan Gawai, Indonesia Harus Belajar ke Jepang

Kompas.com - 19/10/2019, 08:23 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

BANDUNG, KOMPAS.com - Konferensi internasional bertajuk Early Childhood Care Education and Parenting (ICECCEP): Navigating Practices, Strategy and Approach of Children Well-being in the Industrial Revolution 4.0 Era yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Early Childhood Care and Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) bekerja sama dengan Tanoto Foundation menemukan fakta tentang fenomena anak dan balita kecanduan gawai di negara Jepang.

Faktanya, Jepang pernah mengalami masa ketika anak dan balita kecanduan gawai. Namun kini negeri matahari terbit itu telah berhasil melewati masa suram tersebut.

"Di Jepang sudah masuk Society 5.0. Kita baru pindah dari 3.0 ke 4.0. Mereka sudah melalui masa suram itu," kata Sri Kusuma, kepala Divisi Pendidikan dan Perkembangan anak Usia Dini Tanoto Foundation saat ditemui di sela kegiatan.

Baca juga: 200 Akademisi dari 7 Negara Bahas Solusi Atasi Anak Kecanduan Gawai

Lebih lanjut Sri menambahkan, fenomena kecanduan gawai yang terjadi di Indonesia disebutnya sebagai hal yang lumrah untuk negara berkembang. Ke depan, ketika memasuki era 5.0, kecanduan gadget di Indonesia akan bisa dikendalikan.

"Di Jepang itu sudah kembali ke falsafah menjadi masyarakat. Mereka mulai menggunakan teknologi untuk menghubungkan manusia dengan sekitarnya," jelasnya.

Pelajaran lain yang dapat diambil dari negara Jepang adalah negara tersebut saat ini justru memanfaatkan gawai untuk memudahkan kerja. Saat menjadi guru PAUD, gawai digunakan untuk mengajar.

"Gadget di sana hanya menjadi alat bantu memperkaya wawasan pendidik. Saat mengajar misalnya untuk mencari konten, merekam proses hasil belajar, semuanya sudah digital," tuturnya.

Temuan-temuan dari negara Jepang tersebut rencananya dipublikasikan oleh SEAMEO CECCEP agar hal tersebut bisa menjadi pegangan untuk pengajar-pengajar PAUD.

Baca juga: Cegah Kecanduan Gadget pada Anak, Gerakan 1821 Terus Disuarakan

Direktur SEAMEO CECCEP, Dwi Priyono menambahkan, pihaknya sangat bersyukur Indonesia mendapatkan banyak pengetahuan positif dari negara-negara yang ikut dalam ICECCEP.

"Kita banyak mendapat contoh baik dari beberapa belahan dunia. Hasil konferensi ini nantinya akan jadi menu bahan ajar untuk guru dan orangtua dalam bentuk modul," tandas Dwi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selundupkan 6 Warga China Via Laut, Dua Warga Indonesia Diperiksa Polisi

Selundupkan 6 Warga China Via Laut, Dua Warga Indonesia Diperiksa Polisi

Regional
Pemeriksaan Maraton oleh KPK Terkait Kasus Mantan Bupati Mojokerto

Pemeriksaan Maraton oleh KPK Terkait Kasus Mantan Bupati Mojokerto

Regional
Kronologi Bocah 3 Tahun Tewas Dianiaya Ayah Kandungnya karena Rewel Saat Mandi

Kronologi Bocah 3 Tahun Tewas Dianiaya Ayah Kandungnya karena Rewel Saat Mandi

Regional
Menguak Bisnis Pen Gun di Makassar, Fenomena Baru hingga Peluru dari Luar Negeri

Menguak Bisnis Pen Gun di Makassar, Fenomena Baru hingga Peluru dari Luar Negeri

Regional
Mobil Polisi Digembok karena Parkir di Jalan, Ini Penjelasan Polisi

Mobil Polisi Digembok karena Parkir di Jalan, Ini Penjelasan Polisi

Regional
Pawang yang Digigit King Kobra Disebut Lakukan Ritual Jinakkan Ular, Bukan Atraksi

Pawang yang Digigit King Kobra Disebut Lakukan Ritual Jinakkan Ular, Bukan Atraksi

Regional
Cerita Mahasiswa Indonesia yang Keluar dari China Saat Corona Mulai Mewabah

Cerita Mahasiswa Indonesia yang Keluar dari China Saat Corona Mulai Mewabah

Regional
Bolos Kerja 176 Hari, Ini Sanksi bagi 3 Guru SD dan 1 Pegawai Administrasi SMP di Kudus

Bolos Kerja 176 Hari, Ini Sanksi bagi 3 Guru SD dan 1 Pegawai Administrasi SMP di Kudus

Regional
Cerita Ayah Telepon Putrinya di Wuhan 3 Jam Sekali Hanya untuk Tanya Kabar

Cerita Ayah Telepon Putrinya di Wuhan 3 Jam Sekali Hanya untuk Tanya Kabar

Regional
60 Ternak di Gunungkidul Mati Mendadak Sejak Desember 2019, 6 karena Antraks

60 Ternak di Gunungkidul Mati Mendadak Sejak Desember 2019, 6 karena Antraks

Regional
Balita asal China Masih Diisolasi di RSUD NTB

Balita asal China Masih Diisolasi di RSUD NTB

Regional
Zuhri Pantau Istrinya yang Sedang Selesaikan Program Doktor di Wuhan Lewat Telepon

Zuhri Pantau Istrinya yang Sedang Selesaikan Program Doktor di Wuhan Lewat Telepon

Regional
Begini Nasib Siswi SD yang Diculik dan Dicabuli hingga Hamil 9 Bulan

Begini Nasib Siswi SD yang Diculik dan Dicabuli hingga Hamil 9 Bulan

Regional
Cegah Penyebaran Corona, Pemkab Bantul Pantau Warung Makan yang Sajikan Kelelawar

Cegah Penyebaran Corona, Pemkab Bantul Pantau Warung Makan yang Sajikan Kelelawar

Regional
174 Turis China di Solo Akan Segera Dipulangkan

174 Turis China di Solo Akan Segera Dipulangkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X