Kisah Siswa SD di Flores Pikul Jeriken Isi 5 Liter Air Tiap Hari, Bangun Lebih Pagi hingga Jalan Kaki 5 Km

Kompas.com - 15/10/2019, 15:45 WIB
Siswa-siswi SDI Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT memikul air ke sekolah, Senin (14/10/2019). Mereka harus berjalan 5 km setiap hari dengan memikul air di atas kepala menuju sekolah. KOMPAS.com/NANSIANUS TARISSiswa-siswi SDI Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT memikul air ke sekolah, Senin (14/10/2019). Mereka harus berjalan 5 km setiap hari dengan memikul air di atas kepala menuju sekolah.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Saat masuk musim kemarau, Maria Nasrin, siswa SD Inpres Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores harus bangun lebih pagi .

Ia bangun sekitar jam 04.00 Wita. Bersama kawan-kawannya, Maria harus antre di mata air yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka.

Maria dan kawan-kawannya harus menunggu giliran mengambil air bersih, baik untuk keperluan rumah dan untuk dibawa ke sekolah.

Baca juga: Cerita Siswa-siswi SD di Flores Pikul Air 5 Km Tiap Hari untuk Siram Toilet Sekolah

Kepada Kompas.com, Senin (14/10/2019) Maria bercerita bahwa ia harus memikul minimal 5 liter air bersih yang dimasukkan ke jeriken untuk dibawa ke sekolah.

"Setiap hari kami pikul air ke sekolah untuk siram toilet dan bunga. Kami jalan kaki dari rumah sejauh 5 kilometer ke sekolah," kata Maria.

Hal itu lakukan Maria dan siswa lainnya setiap hari, untuk memenuhi kebutuhan air di sekolahnya

Mereka harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer dengan memikul air di atas kepala.

Baca juga: Cerita Bidan Fahmi di Flores, Bertaruh Nyawa di Tengah Laut Selamatkan Ibu dan Bayi

 

Krisis air

Foto : Siswa-siswi SDI Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT memikul air ke sekolah, Senin (14/10/2019).KOMPAS.COM/NANSIANUS TARIS Foto : Siswa-siswi SDI Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT memikul air ke sekolah, Senin (14/10/2019).
Kepala SDI Tuanio, Ferdinandus Koba mengatakan bahwa desa di wilayah tersebut mengalami krisis air saat masuk musim kemarau,

Warga dan pihak sekolah juga belum bisa mengakses jaringan air bersih dari pemerintah.

"Untuk kebutuhan di sekolah ini, anak-anak harus pikul air dari rumah. Kalau tidak begitu, kami semua tidak bisa ke toilet. Bunga-bunga di taman juga bisa mati semua," kata Ferdinandus.

Baca juga: Puluhan Hektare Lahan Gunung Ile Mandiri Flores Terbakar Api

Ferdinandus berharap agar perangkat desa dan pemerintah daerah segera membuka jaringan air minum bersih di desa itu, termasuk di lingkungan sekolah agar mereka tidak perlu lagi membawa  air bersih ke sekolah.

"Selama musim kering ini, untuk mendapatkan air bersih, warga setempat harus berjalan kaki minimal sejauh 3 kilometer," kata Ferdinandus.

SUMBER: KOMPAS.com (Kontributor Maumere: Nansianus Taris | Editor : Aprillia Ika)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X