Fakta Pelajar SD Anak Penjual Kerupuk Alami Depresi, 2 Tahun Di-bully Gara-gara Jam Dinding Pecah Saat Main Bola

Kompas.com - 09/10/2019, 09:09 WIB
Masrikah (49) dan putranya RS (12) saat berbincang dengan Kompas.com di rumahnya di Kelurahan Wirosari, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (8/10/2019) sore. KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHOMasrikah (49) dan putranya RS (12) saat berbincang dengan Kompas.com di rumahnya di Kelurahan Wirosari, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (8/10/2019) sore.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - RS, pelajar kelas 6 salah satu SD Negeri di wilayah Kecamatan Wonosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya.

Perundungan dilakukan sejak RS masih duduk di kelas 4 SD.

Kepada orangtunya RS mengaku kerap disekap oleh temannya saat sekolah. Bahkan menurut RS, rambutnya di jambak, diludahi, dan disiram air oleh teman sekelasnya

RS adalah anak kelima pasangan Kasnawi (54) dan Masrikah (49). Sehari-hari Kasnawi bekerja sebagai buruh bangunan, sementara istrinya adalah penjual kerupuk.

Baca juga: 4 Fakta Kasus Perundungan Kakek Hamdan, Hidup Sebatang Kara hingga Diikat Sarung

Berikut fakta pelajar kelas 6 SD alami depresi karena dirundung di sekolah:

1. Berawal dari jam dinding yang pecah

IlustrasiThinkstockphotos.com Ilustrasi
Perundungan yang dialami RS dimulai saat dia duduk di bangku kelas 4 SD.

Kala itu, RS dan teman-temannya bermain sepak bola di dalam kelas saat pelajaran kosong.

Naas, bola yang ditendang RS mengenai jam dinding kelas hingga jatuh dan pecah.

Masrikah, ibu RS bercerita bahwa ia belum bisa bisa mengganti jam dinding yang pecah. Menurut pihak sekolah, jam dinding tersebut seharga Rp 300.000.

Sejak saat itu, RS sering dirundung oleh rekan-rekannya selama dua tahun terakhir.

Semenata itu Kepala Sekolah SDN 2 Wirosari, Ngadiman mengatakan kerusakan jam dinding tidak pernah dibebankan pada orangtua RS.

"Iya awal mula dari rusaknya jam dinding, namun sudah kami ganti kok dan tidak dibebankan ke orangtua," ujar Ngadiman.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X