Ngabuburit, Pemuda Lintas Iman Belajar Bahasa Isyarat di Halaman Gereja

Kompas.com - 03/06/2019, 20:14 WIB
Suasana saat para pemuda lintas iman dan disabilitas, belajar bahasa isyarat di komplek Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Senin (3/6/2019) petang. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan memperingati hari lahir Pancasila, sembari menunggu waktu berbuka puasa.                       KOMPAS.com/MOH. SYAFII Suasana saat para pemuda lintas iman dan disabilitas, belajar bahasa isyarat di komplek Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Senin (3/6/2019) petang. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan memperingati hari lahir Pancasila, sembari menunggu waktu berbuka puasa.

JOMBANG, KOMPAS.com - Para pemuda lintas iman di Kabupaten Jombang Jawa Timur, punya cara unik untuk memperingati Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni.

Sembari menunggu datangnya waktu berbuka puasa, puluhan pemuda berkumpul di kompleks Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Senin (3/6/2019) petang.

Mereka duduk diatas di atas karpet yang digelar di depan tangga menuju pintu masuk gereja. Acara ngabuburit para pemuda lintas iman, diawali dengan belajar bahasa isyarat.

Satu persatu, bahasa isyarat yang lazim digunakan penyandang tuna wicara dan tuna rungu dipelajari dan mereka mempraktikkan bersama-sama.


"Sudah hafal bahasa isyarat dari A sampai Z ? Selanjutnya kita belajar menyanyikan lagu Indonesia raya dengan bahasa isyarat," ujar Fathul Iman, saat memandu pertemuan para pemuda lintas iman Jombang tersebut.

Ajakan Iman, koordinator Suara Difabel Mandiri (SDM) Jombang itu untuk belajar menyanyikan lagu kebangsaan dengan bahasa isyarat mendapat sambutan hangat dari para peserta.

Dipandu Iman dan koleganya, puluhan pemuda lintas iman serta para difabel antusias mengikuti kursus singkat bahasa isyarat.

Kurang dari 10 menit, kursus singkat bahasa isyarat dilakukan. Selanjutnya, dengan diiringi musik lagu kebangsaan, pemuda lintas iman dan para difabel menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan bahasa isyarat.

Saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, mereka serempak menggerakkan tangan dan anggota tubuhnya sesuai dengan lirik lagu.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari cara kami memperingati hari lahir Pancasila sekaligus memperkuat kebersamaan para pemuda lintas agama di Jombang," kata Fathul Iman.

Memperkuat Kebersamaan

Iman menjelaskan, memperingati Hari Lahir Pancasila, para pemuda lintas iman di Jombang bersama para difabel bersepakat untuk memperkuat kebersamaan.

Mereka yang hadir di acara ngabuburit di halaman gereja berasal dari sejumlah organisasi kepemudaan dan komunitas difabel.

Mereka antara lain berasal dari Suara Difabel Mandiri (SDM), Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Gus Durian Jombang, serta dari komunitas pemuda lintas iman dan etnis Jombang (Stara Muda).

Selain itu, hadir pula para pemuda dari Jombang Student Interfaith Forum (JSIF), OikMas GKI Jombang, serta dari komunitas fotografer santri Pesantren La Raiba Hanifida Jombang, Hanifida Photography Community.

Para pemuda lintas iman dan disabilitas, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bahasa isyarat di komplek Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Senin (3/6/2019) petang. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan memperingati hari lahir Pancasila, sembari menunggu waktu berbuka puasa.              KOMPAS.com/MOH. SYAFII Para pemuda lintas iman dan disabilitas, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bahasa isyarat di komplek Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Senin (3/6/2019) petang. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan memperingati hari lahir Pancasila, sembari menunggu waktu berbuka puasa.
Koordinator pelaksana pertemuan pemuda lintas iman dan difabel di GKI Jombang, Bayu Krisna Putra mengatakan kegiatan memperingati Hari Lahir Pancasila dan ngabuburit bertujuan untuk memperkuat kebersamaan antar sesama.

Ia berharap rasa kebersamaan antar sesama makin kuat, toleransi bisa terjaga, serta sikap untuk saling berbagi terus tumbuh.

"Tujuannya, lewat acara ini kita bisa saling berbagi kasih, menghargai antar sesama, dan toleransi antar umat beragama bisa terus kita jaga," kata anggota Komisi OikMas GKI Jombang ini.

Kebersamaan antar sesama, baik kalangan lintas agama maupun dengan para difabel, menurut Bayu, merupakan wujud pengamalan Pancasila dari sisi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X