Melongok Masjid Kuno Godhegan, Atap Berbentuk Segitiga dan Dibangun pada Masa Pangeran Diponegoro

Kompas.com - 02/06/2019, 15:04 WIB
Atap masjid Godhegan berbentuk segitiga kerucut yang terbuat dari kayu jati terdiri dari 2 susun. Secara kultural, masjid At Taqwa Godhegan berada dibawah Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang bertingkat 3. Konon KH Imam Nawai pendiri masjid Godhegan merupakan kerabat keraton yang memilih melanglang ke Timur gunung Lawu pasca Pangeran Diponegoro ditawan Belanda.KOMPAS.com/SUKOCO Atap masjid Godhegan berbentuk segitiga kerucut yang terbuat dari kayu jati terdiri dari 2 susun. Secara kultural, masjid At Taqwa Godhegan berada dibawah Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang bertingkat 3. Konon KH Imam Nawai pendiri masjid Godhegan merupakan kerabat keraton yang memilih melanglang ke Timur gunung Lawu pasca Pangeran Diponegoro ditawan Belanda.

MAGETAN, KOMPAS.com - Masjid At Taqwa atau warga sekitar menyebut Masjid Godhegan yang terletak di Dusun Godhegan, Desa Taman Arum, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, memiliki struktur bangunan yang berbeda dari bentuk masjid pada umumnya.

Atap masjid Godhegan berbentuk segitiga kerucut yang terbuat dari kayu jati terdiri dari 2 susun. Secara kultural, masjid At Taqwa Godhegan berada di bawah Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang bertingkat 3.

Konon KH Imam Nawai, pendiri masjid Godhegan, merupakan kerabat keraton yang memilih melanglang ke timur Gunung Lawu setelah Pangeran Diponegoro ditawan Belanda.

Hampir seluruh bagian masjid dibangun dengan menggunakan kayu jati yang memiliki makna sejatinya hidup.


Baca juga: Dari Bukit Itu Sering Muncul Suara Azan yang Indah Meski Tak Ada Masjid...

 

Orang masuk masjid itu untuk mencari sejatinya hidup, yaitu ketakwaan kepada Allah. Makanya masjid di Goddhegan tersebut diberi nama At Taqwa.

Kiai Hamid, imam  masjid generasi ke 4 sejak Masjid At Taqwa berdiri thun 1840 memperlihatkan salah satu buku  tafsir Al Quran tulisan tangan pada tahun 1840 milik Masjid Godhegan.KOMPAS.com/SUKOCO Kiai Hamid, imam masjid generasi ke 4 sejak Masjid At Taqwa berdiri thun 1840 memperlihatkan salah satu buku tafsir Al Quran tulisan tangan pada tahun 1840 milik Masjid Godhegan.

 

Empat tiang utama masjid Godhegan yang menyangga plafon berbahan kayu jati dan memiliki ukiran penanggalan waktu pendirian masjid merupakan komponen asli masjid sejak didirikan pada tahun 1840.

Masjid Godhegan juga masih menyimpan belasan kitab suci Al Quran dan tafsir Al Quran kuno yang ditulis tangan. Koleksi kitab kuno tersebut saat ini dibungkus dengan kertas tebal dan disimpan pada lemari khusus agar bisa lebih tahan lama.

Kiai Hamid, imam masjid generasi ke-4 sejak Masjid At Taqwa berdiri, mengatakan, dulunya Masjid Godhegan memiliki puluhan koleksi kitab kuno. Namun karena kurangnya perawatan, koleksi kitab yang berumur hampir satu setengah abad tersebut mengalami kerusakan.

Selain mempunyai kitab kuno, Masjid Godhegan juga memiliki koleksi beduk dari kayu jati utuh yang dilubangi di bagian tengah dan usianya menyamai masjid.

Baca juga: Kontroversi Masjid Al Safar Rancangan Ridwan Kamil di Tol Cipularang

Keberadaan Masjid Godhegan sebagai cagar budaya diharapkan mampu menjaga nilai-nilai luhur budaya Islam dari masa perjuangan Pangeran Diponegoro.

Keberadaan Masjid Godhegan juga bisa menjadi rujukan pembelajaran tentang perkembangan Islam di Kabupaten Magetan.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X