Kompas.com - 01/06/2019, 10:18 WIB

PALU, KOMPAS.com – Pernikahan anak dibawah umur di tenda pengungsian para pengungsi gempa dan likuefaksi Palu, Sulawesi Tengah marak terjadi. Rata-rata pengantin berusia 14-17 tahun. 

Data Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Perempuan (LIBU) Sulawesi Tengah mencatat ada sembilan pernikahan dini di tenda pengungsian. Angka ini meningkat dari laporan awal yakni lima kasus.

Direktur LIBU Dewi Rana mengatakan, dari sembilan kasus pernikahan dini itu paling banyak terjadi di pengungsian Petobo, yakni sebanyak lima kasus. Selebihnya terjadi di beberapa tempat pengungsian lainnya.

“Kami membuka posko yang diberi nama Tenda Ramah Perempuan. Dari posko itulah kami mendapat data tersebut. Selain penyintas yang datang ke posko, kami juga datang ke tenda-tenda. Umurnya anak-anak yang menikah muda itu usia 14 hingga 17 tahun,” kata Dewi Rana, Sabtu (01/06/2019).

Baca juga: Marak Pernikahan Anak di Bawah Umur di Lingkungan Pengungsi Bencana Palu

Sebab pernikahan anak di bawah umur

Deretan tenda di PetoboKompas.com/Jodhi Yudono Deretan tenda di Petobo
Menurut Dewi, penyebab yang paling menonjol bukan lantaran si anak hamil di luar nikah, melainkan desakan lingkungan dan keluarga karena masalah ekonomi dan akhirnya dinikahkan.

Laporan yang masuk ke posko Tenda Ramah Perempuan, yang mencari istri kebanyakan para duda yang istrinya meninggal korban likuefaksi.

Saat ini ada 12 tenda ramah perempuan yang dibangun di lokasi pengungsian. LIBU mengelolah enam tenda sementara enam lainnya dikelola oleh organisasi nonpemerintah lainnya.

LIBU bekerja di sejumlah lokasi pengungsian yang berada di pengungsian Petobo, Jono Oge, Sibalaya, Balaroa, Gunung Bale dan Pantoloan.

Baca juga: Pernikahan Anak di Bawah Umur Masih Jadi Masalah bagi Perempuan

Menurut Dewi, pendampingan yang dilakukan LIBU bukan hanya sebatas kasus yang terjadi, melainkan proses pascapernikahan dini tersebut.

“Kita terus mengawal anak-anak yang menikah muda itu, soal kehamilannya berkaitan dengan kesehatan reproduksinya kita pantau terus. Termasuk juga antisipasi adanya kekerasan terhadap anak yang menikah diusia dini,” jelas Dewi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menguak Keluh Kesah Warga Mentawir Kaltim akibat Air Sungai Tercemar Bekas Galian Tambang

Menguak Keluh Kesah Warga Mentawir Kaltim akibat Air Sungai Tercemar Bekas Galian Tambang

Regional
Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Regional
Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Regional
Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Regional
Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Regional
Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.