Penerbangan Ribuan Lampion Tutup Peringatan Waisak 2019 di Candi Borobudur

Kompas.com - 19/05/2019, 11:37 WIB
Umat dan masyarakat umum menerbangkan lampion menandai puncak peringatan Waisak 2563 BE/2019 di Candi Borobudur, Magelang, Minggu (19/5/2019) pagi KOMPAS.com/IKA FITRIANA Umat dan masyarakat umum menerbangkan lampion menandai puncak peringatan Waisak 2563 BE/2019 di Candi Borobudur, Magelang, Minggu (19/5/2019) pagi

MAGELANG, KOMPAS.com - Peringatan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 tingkat nasional ditutup dengan penerbangan ribuan lampion di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (19/5/2019) pagi.

Ribuan umat Buddha dan masyarakat umum turut mengikuti kegiatan ini.

Penerbangan lampion dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama secara simbolis berlangsung sesaat setelah dharmasanti atau seremonial pembukaan Tri Suci Waisak Sabtu (18/5/2019) malam oleh sejumlah pejabat, diantaranya Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI M Effendi, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan tamu undangan lainnya.

Selanjutnya, pada sesi kedua berlangsung Minggu dini hari dilakukan oleh ratusan umat Buddha dan masyarakat umum yang sebelumnya sudah memesan lampion kepada panitia. Terdapat secarik kertas berisi ungkapan doa dan harapan yang ikut terbang bersama lampion di angkasa Candi Borobudur.

Baca juga: Ikut Perayaan Waisak, Sekjen PDI-P Singgung Orang yang Ingkari Suara Rakyat Saat Pemilu

"Kami panjatkan doa sebelum menerbangkan lampion. Harapan kami khususnya kedamaian dunia terutama Indonesia. Supaya dunia penuh kecintaan, cinta kasih dan damai," kata Julias Grant (65), asal Bandung yang telah lama tinggal di Australia itu.

Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) S Hartati Murdaya, menuturkan Tri Suci Waisak diperingati setiap tahun oleh umat Buddha sedunia. Hal ini untuk mengenal kemuliaan dan keluhuran Sang Buddha Sidartha Gautama yang menjadi suri teladan bagi umat Buddha.

"Peringatan Tri Suci Waisak untuk mengenal kemuliaan dan keluhuran Sang Buddha Siddhartha Gautama yang menjadi suri teladan bagi kita semua, dengan tujuan agar dapat mengembangkan kebajikan dan kehagiaan diri dalam hidup di dunia yang tidak kekal ini," ujarnya.

Baca juga: Mengintip Pindapata, Prosesi Jelang Waisak yang Baru Digelar Tahun Ini di Candi Mendut

Diungkapkan Hartati, bahwa kelahiran, umur tua, penyakit, kematian, berkumpul dengan orang yang dibenci, berpisah dengan orang yang dicinta, tidak memperoleh apa yang dicita-citakan, berada di dalam lingkungan hidup jasmani dan rohani serta lingkungan yang tidak kekal merupakan bentuk penderitaan yang tiada akhirnya.

"2563 tahun yang silam, Sang Buddha Gautama telah menemukan jalan keluar untuk membebaskan manusia dari semua makhluk dari duka dan derita," kata Hartati.

Puncak peringatan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 dihadiri pula oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefudin. Pada kesempatan itu, Lukman mengajak umat beragama, tidak hanya Buddha, untuk melakukan evaluasi diri demi perubahan yang lebih baik.

"Momentum ini menjadi kesempatan untuk melakukan instrospeksi, mengevaluasi diri dan sekaligus menyucikan diri untuk melakukan perubahan. Kita memiliki tujuan yang sama bagaimana kebahagiaan dan keharmonisan terwujud," ucap Lukman.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X