Makam Tergerus Bencana Tanah Bergerak di Sukabumi, 30 Jasad Dipindahkan

Kompas.com - 03/05/2019, 13:28 WIB
Proses pemindahan jasad menunggunakan mobil  dari tempat pemakaman umum  (TPU) yang terdamlak bencana gerakan tanah di Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (3/5/2019).  KOMPAS.com/BUDIYANTOProses pemindahan jasad menunggunakan mobil dari tempat pemakaman umum (TPU) yang terdamlak bencana gerakan tanah di Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (3/5/2019).


SUKABUMI, KOMPAS.com - Bencana tanah bergerak di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, selain berdampak rusaknya bangunan, sawah dan jalan, juga merusak tempat pemakaman umum (TPU).

Hingga Jumat (3/5/2019) ini sedikitnya sudah 30 jasad dipindahkan dari TPU yang berlokasi di pinggiran ruas jalan Sukabumi-Nyalindung-Sagaranten. Puluhan jasad yang di antaranya berusia 50 tahun dipindahkan keluarga ke daerah berbeda.

"Kami pindahkan enam jasad keluarga kami ini ke pemakaman keluarga yang enggak jauh dari sini, hanya beda kampung," ungkap Soleh (58), kepada Kompas.com, di sela-sela evakuasi jasad di TPU Kampung Gunungbatu, Jumat.

Dia menuturkan, keenam jasad yang dipindahkan ini meliputi kedua orangtua, dua orang kakak, keponakan dan mertua kakak. Rencananya, semua jasad akan kembali dimakamkan hari ini di pemakaman keluarga di Kampung Liunggunung.

Baca juga: 5 Fakta Bencana Tanah Bergerak di Sukabumi, Warga Mulai Jual Harta Benda hingga Ratusan Rumah Terancam

" Jasad keluarga kami ini kami pindahkan karena kondisi pemakamannya sudah tidak stabil, dan tanahnya terus tergerus," ujar Soleh, yang sehari-hari bekerja di perusahaan perkebunan.

Salah seorang warga lainnya, Putri Sari Tunggal (19) juga memindahkan jasad ibundanya almarhumah Aisyah yang dimakamkan lima tahun lalu.

Rencananya, jasad ibu kandungnya itu akan dipindahkan ke TPU di Kampung Nagrak desa setempat.

"Iya, mau dipindahkan, karena tanah makamnya juga sudah terdampak bencana gerakan tanah, makanya dipindahkan," ucap Putri.

Sementara, Uyeh Haryadi (78), warga lainnya mengungkapkan, jasad yang dipindahkan merupakan anak pertamanya. Anaknya meninggal dunia saat berusia tujuh hari dan dimakamkan di TPU ini sekitar tahun 1970-an.

"Jasad anak pertama saya ini sudah dimakamkan sekitar 50 tahunan. Dulu saya tinggal tidak jauh dari sini," ungkap Uyeh, yang pensiunan dari perusahaan perkebunan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X