Kata Mahasiswa ITB soal Polemik Quick Count Vs Real Count

Kompas.com - 03/05/2019, 07:01 WIB
Ilustrasi pemilu SERAMBI/M ANSHARIlustrasi pemilu

“Pro kontranya sih saya lebih percaya sama orang yang melakukan quick count itu, kan dasarnya benar matematik, bukan langsung hitung saja ada dari sample lah. Metode mereka ini sudah mempertimbangkan baik buruknya, enggak semata hanya ada yang bilang mendukung salah satu calon atau apalah itu. Saya kira itu mereka harus punya kejujuran di dalam diri mereka itu tapi tetap harus tunggu resmi dari KPUnya sih,” ujarnya.

“Kalau quick count ada sample mewakili jenis data yang ada. Sample itu dipilih dari karakteristik sample itu sendiri misal daerah ini sebarannya berbeda. dan menurut aku lembaga survei itu bukan lembaga kemarin bahkan sudah ada dari dulu jadi gak mungkin mereka pilih salah satu, makanya seperti media beredar lah,” tambahnya.

Iqbal, mahasiswa ITB Jurusan Mesin ini mengaku tidak berpatokan pada hasil quick count ataupun real count hasil penghitungan dua kubu paslon.

Iqbal hanya akan merujuk pada hasil KPU saja.

“Dari awal menduga banyak kontroversi itu, dan dilihat dari lima tahun sebelumnya memang niatnya enggak ikutin quick count, sabar aja ngikut KPU karena enggak terlalu pengen tahu cepet juga sih siapa yang kepilih,” katanya.

Natalia Karin, mahasiswa ITB jurusan Teknik Pangan ini cukup percaya dengan hasil quick count yang ada sebagai perbandingan. Dia menilai metode yang digunakan lembaga survei ini tentu tidak sembarang.

“Quick count berdasarkan yang sudah pernah sebelumnya, quick count cukup terpercaya sih sebagai perbandingan. Patokan buat real count, karena metodenya gak sembarangan karena sudah diolah sejak dahulu oleh ahli statistik. jadi bisa dipercaya,” tuturnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Liyan Nurchalifah, mahasiswa ITB jurusan Matematika 2016 mengkritisi lembaga survei yang ada. Menurutnya lembaga survei ini harus dipastikan menjunjung kebenaran ilmiah yang juga tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi pihak manapun.

Beragamnya metode yang dipakai juga dapat memberikan hasil yang berbeda antara satu lembaga dan yang lainnya.

“Karenanya, pembaca yang seharusnya lebih bijak untuk mengambil kesimpulan atau menginterpretasikan hasil yang disajikan dengan mempertimbangkan metode, convidence level, dan margin of error yang dipilih oleh setiap lembaga. Dan jelas bahwa quick count berbeda dengan real count, yang artinya lembaga yang melakukan quick count hanya memprediksi ketidakpastian (karena belum keluarnya) hasil dari real count tersebut,” katanya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkab Tanah Bambu Minta Perusahaan Tambang Berpartisipasi dalam Pembangunan Daerah

Pemkab Tanah Bambu Minta Perusahaan Tambang Berpartisipasi dalam Pembangunan Daerah

Regional
Kejar Target Vaksinasi Dosis Kedua, Pemkab Lakukan Home Visit di 25 Kecamatan

Kejar Target Vaksinasi Dosis Kedua, Pemkab Lakukan Home Visit di 25 Kecamatan

Regional
Gelar Sosialisasi Sinergi APIP dan APH, Pemkab Luwu Utara Berkomitmen Ciptakan Pemerintahan Bersih

Gelar Sosialisasi Sinergi APIP dan APH, Pemkab Luwu Utara Berkomitmen Ciptakan Pemerintahan Bersih

Regional
Antisipasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi, Bupati Jekek Berharap Petani Kembangkan Modifikasi dan Inovasi

Antisipasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi, Bupati Jekek Berharap Petani Kembangkan Modifikasi dan Inovasi

Regional
Sebanyak 300 Pesepeda Gunung Ramaikan Event Wonderful Rongkong

Sebanyak 300 Pesepeda Gunung Ramaikan Event Wonderful Rongkong

Regional
Banjir Bandang Terjang Garut, JQR Dirikan Dapur Umum untuk Pengungsi dan Relawan

Banjir Bandang Terjang Garut, JQR Dirikan Dapur Umum untuk Pengungsi dan Relawan

Regional
Peringati HMPI dan BMPN, Perguruan Islam Al Syukro Dompet Dhuafa Tanam 1.000 Bibit Pohon

Peringati HMPI dan BMPN, Perguruan Islam Al Syukro Dompet Dhuafa Tanam 1.000 Bibit Pohon

Regional
Lika-liku Perjalanan Warga Desa Wanagiri di Bali untuk Mencari Air Bersih

Lika-liku Perjalanan Warga Desa Wanagiri di Bali untuk Mencari Air Bersih

Regional
ASN Dilarang Ambil Cuti Saat Libur Nataru, Kang Emil: Taat Saja

ASN Dilarang Ambil Cuti Saat Libur Nataru, Kang Emil: Taat Saja

Regional
Terobosan Walkot Bobby Dorong UMKM Naik Kelas di Medan

Terobosan Walkot Bobby Dorong UMKM Naik Kelas di Medan

Regional
Bantu Sumut Vaksinasi Pelajar SMA, Pemkot Medan Siapkan Logistik Vaksin

Bantu Sumut Vaksinasi Pelajar SMA, Pemkot Medan Siapkan Logistik Vaksin

Regional
Pemkot Jabar Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Massal yang Diselenggarakan PT MUJ

Pemkot Jabar Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Massal yang Diselenggarakan PT MUJ

Regional
Bobby Berhasil Percepat Pemulihan Ekonomi Medan, Akademisi USU Berikan Pujian

Bobby Berhasil Percepat Pemulihan Ekonomi Medan, Akademisi USU Berikan Pujian

Regional
Komisi III DPRD Kalsel Setuju Kewenangan Pajak Pertambangan Dikendalikan Pemda

Komisi III DPRD Kalsel Setuju Kewenangan Pajak Pertambangan Dikendalikan Pemda

Regional
Lewat 'Wonderful Rongkong', Luwu Utara Perkenalkan Potensi Pariwisata kepada Investor

Lewat "Wonderful Rongkong", Luwu Utara Perkenalkan Potensi Pariwisata kepada Investor

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.