Bebas dari Hukuman Pancung, TKW Ini Dipenjara 10 Tahun dan Dicambuk 1.000 Kali

Kompas.com - 25/04/2019, 22:02 WIB
Sumartini (jaket biru) setelah sampai di Lombok, NTB dan dibawa ke ruang Kadisnaker NTB, Kamis (25/4/2019). KOMPAS.com/ FTIRI RACHMAWATISumartini (jaket biru) setelah sampai di Lombok, NTB dan dibawa ke ruang Kadisnaker NTB, Kamis (25/4/2019).

Bagi Sumartini, kejadian itu adalah hal paling pahit dalam hidupnya tetapi sekaligus pelajaran berharga baginya, bahwa menjadi TKW tanpa kemampuan memadai, terutama dalam hal berbahasa, akan sangat riskan daan merugikan.

"Kelemahan saya ketika itu tidak faham bahasa Arab, jadi komunikasinya pakai cara ditulis. Majikan saya menulis sesuatu baru saya cari artinya. Nah, saat kejadian saya benar-benar tidak paham bahasa," katanya.

Sumartini juga mengatakan terpaksa mengaku punya ilmu sihir karena disekap dan disetrum majikannya. Dia disekap dalam ruangan dan didudukkan di kursi besi yang mengandung aliran listrik. Penyiksaan itu dialaminya selama sebulan hingga akhirnya Sumartini terpaksa mengaku.

Hukuman mati dicabut

Pengalaman pahit itu harus dijalaninya selama setahun dalam kungkungan vonis hukuman mati. Pada 2011, Sumartini sedikit lega karena vonis hukuman mati dicabut, namun diganti dengan hukuman penjara selam 10 tahun dan cambuk 1.000 kali secara bertahap.

"Tubuh Sumartini bahkan masih ada yang membiru sampai sekarang, terutama di bagian punggungnya," kata Imalawati Daeng Kombo, staf Khusus Gubernur NTB yang mendampingi Sumartini.

Imalawati terus memberi semangat pada Sumartini yang kini masih bimbang ketika pulang ke kampung halamannya di Sumbawa.

Menurutnya, kasus Sumartini menjadi pelajaran berharga bagi calon TKW maupun TKI di NTB atau daerah mana pun, karena ketika mereka memilih mengadu nasib ke luar negeri, mereka harus memiliki keterampilan, termasuk kemampuan berbahasa sesuai bahasa yang digunakan negara tujuan.

"Dan, sampai sekarang moratorium pengiriman TKW sebagai PRT kan masih berlaku, hanya tenaga terampil yang bisa dikirim," jelas Imalawati.

Baca juga: Status Facebook TKW yang Tewas Terbakar di Jepang: Mah, Ida Kangen

Kepala Dinas Tenaga Kerja NTB, H Agus Patria mengatakan, sejauh ini pihaknya telah berkoordinasi dengan bupati Sumbawa, dan diharapkan Sumartini bisa segera pulang ke kampung halamannya bertemu dengan keluarganya yang ditinggalkan selama 11 tahun.

"Bupati Sumbawa sangat berterima kasih, kita membantu proses pemulangan Sumartini yang bebas dari hukuman mati di Riyadh, Arab Saudi," Katanya.

Sumartini hanya bisa berharap bisa kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan keluarga, terutama dengan dua anaknya yang kini telah tumbuh dewasa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X