Divonis Lebih Berat dari Tuntutan JPU, 2 Begal Sadis di Makassar Masih Berpikir Ajukan Banding

Kompas.com - 02/04/2019, 18:44 WIB
Dua begal sadis pemotong tangan Aco alias Pengkong (kanan) dan Firman alias Emmang (kiri) saat divonis 18 tahun kurungan penjara oleh hakim PN Makassar, Selasa (2/4/2019). Kompas.com/HIMAWAN Dua begal sadis pemotong tangan Aco alias Pengkong (kanan) dan Firman alias Emmang (kiri) saat divonis 18 tahun kurungan penjara oleh hakim PN Makassar, Selasa (2/4/2019).


MAKASSAR, KOMPAS.com - Dua terdakwa begal sadis yang divonis 18 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Makassar, belum memutuskan bakal mengajukan banding atau tidak.

Hal ini diungkapkan Rahmat Sanjaya, pengacara kedua terdakwa usai sidang kliennya.

Rahmat mengatakan, majelis hakim memang memiliki kewenangan untuk memberikan hukuman 18 tahun kepada Aco dan Firman. Namun, ia menilai, hukuman tersebut terlalu berat dan tidak adil untuk kliennya.

"Kami masih pikir-pikir selama seminggu dan berkoordinasi dengan para terdakwa. Itu haknya dia," kata Rahmat, saat diwawancara di Pengadilan Negeri Makassar, Selasa (2/4/2019).

Baca juga: Dua Begal yang Potong Tangan Korban Dijatuhi Hukuman 18 Tahun Penjara

Rahmat juga menyesalkan hukuman yang lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Padahal, menurutnya, dari pertimbangan-pertimbangan majelis hakim, kliennya tidak seharusnya dihukum selama itu.

"Terdakwa ini memang melakukan kejahatan. Tapi, ada aturannya. Tuntutan jaksa kan 17 (tahun), vonis 18 tahun. Tapi, itu kewenangan hakim," terang dia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Imran, korban pembegalan Aco dan Firman yang sempat hadir menyaksikan persidangan ini, mengaku kecewa dengan putusan hakim. Dia menilai, hakim seharusnya memberikan hukuman lebih berat lagi untuk kedua terdakwa.

Imran hadir di Pengadilan Negeri Makassar bersama puluhan rekan-rekannya di Akademi Teknik Industri Makassar (ATIM), yang mengaku bersolidaritas dengan korban pembegalan di Makassar.

Saat hakim memberikan vonis 18 tahun kepada dua begal sadis tersebut, mahasiswa tersebut berbondong-bondong menyuarakan suara kekecewaannya.

"Saya sudah cacat seumur hidup, sementara mereka hanya dihukum 18 tahun penjara. Belum lagi banding nanti bisa lebih ringan. Seharusnya lebih berat lagi," ucap Imran.

Baca juga: Alasan Hakim Hukum Berat Dua Begal Sadis Pemotong Tangan di Makassar

Sebelumnya diberitakan, Aco dan Firman melancarkan aksi begalnya kepada Imran, mahasiswa ATIM, ketika korban sedang menunggu temannya di Jalan Datuk Ribandang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (25/11/2018) silam.

Keduanya nekat memotong tangan korban hingga putus lantaran saat meminta ponsel, korban enggan memberikannya dan memilih melarikan diri dengan cara berlari.

Namun, Imran tidak berhasil menghindar ketika Firman mengayunkan sebilah parang yang membuat korban terluka.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Regional
Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Regional
Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Regional
Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Regional
Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Regional
Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Regional
Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Regional
Terima Penghargaan Green Leadership, Walkot Maidi: Jadi Kado Ulang Tahun Kota Madiun

Terima Penghargaan Green Leadership, Walkot Maidi: Jadi Kado Ulang Tahun Kota Madiun

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tangsel, Wapres Minta Walkot Benyamin Lakukan 3 Hal Ini

Tinjau Vaksinasi di Tangsel, Wapres Minta Walkot Benyamin Lakukan 3 Hal Ini

Regional
Lewat DD Farm, Dompet Dhuafa Berdayakan Masyarakat Korban PHK

Lewat DD Farm, Dompet Dhuafa Berdayakan Masyarakat Korban PHK

Regional
Pemkab Ponorogo Berkolaborasi dengan Kemensos untuk Atasi Masalah Disabilitas Intelektual

Pemkab Ponorogo Berkolaborasi dengan Kemensos untuk Atasi Masalah Disabilitas Intelektual

Regional
Dibantu Kejari, Pemkot Semarang Berhasil Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar

Dibantu Kejari, Pemkot Semarang Berhasil Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar

Regional
Kembali Perketat PKM di Semarang, Walkot Hendi Paparkan Aturan Kegiatan Sosial Baru

Kembali Perketat PKM di Semarang, Walkot Hendi Paparkan Aturan Kegiatan Sosial Baru

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X