Desa Bengkala di Bali, Tempat Ternyaman bagi Mereka yang Tuli..

Kompas.com - 23/02/2019, 13:45 WIB
Warga Bengkala gunakan Kata Kolok BBCWarga Bengkala gunakan Kata Kolok

KOMPAS.com – Sebuah desa kecil di pesisir Bali Utara memiliki keunikan, sebab banyak penduduknya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat yang disebut dengan Kata Kolok.

Kolok, dalam bahasa lokal berarti tuli. Dengan demikian, "Kata Kolok" adalah bahasa yang digunakan orang tuli di sana sebagai alat komunikasi.

Desa tersebut bernama Bengkala. Secara administratif, desa ini terletak di Kecamatan Kebutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Setidaknya terdapat 44 warga yang tergolong tunarungu dan tunawicara tinggal di desa ini. Mereka menetap di Bengkala dari generasi ke generasi. Itulah mengapa bahasa isyarat menjadi bahasa yang banyak digunakan di sana.

Dikutip dari BBC, masyarakat setempat menganggapnya sebagai sebuah kutukan. Sementara, peneliti menyebut adanya gen resesif DFNB3 yang membuat 1 dari 50 bayi di komunitas ini terlahir tuli.

Baca juga: Cerita Para Relawan Memopulerkan Bisindo, Bahasa Isyarat untuk Teman Tuli

Beruntung tinggal di Bengkala

Warga Desa Bengkala tengah berbincang menggunakan bahasa isyarat Kata Kolok.BBC Warga Desa Bengkala tengah berbincang menggunakan bahasa isyarat Kata Kolok.

Teman tuli yang tinggal di Bengkala terbilang beruntung. Pasalnya, sekitar 3.000 penduduk Bengkala lain yang memiliki pendengaran normal tetap mempelajari Kata Kolok. Hal itu semata untuk dapat menjalin komunikasi dengan tetangga dan saudaranya yang tuli.

Ini tidak dialami oleh semua orang tuli, yang kebanyakan hanya dapat berkomunikasi dengan sesamanya, karena lingkungan tidak memelajari bahasa isyarat.

Jika kaum tuli disebut sebagai Kolok, mereka yang bisa mendengar disebut sebagai "enget" di desa itu. Jika mengunjungi Bengkala, siapa pun akan dengan mudah menemui Kolok dan Enget berkomunikasi dalam bahasa isyarat.

Mereka tidak mengeluarkan suara, akan tetapi sesekali keduanya akan tertawa terbahak-bahak karena perbincangan yang dilakukan.

Enget sangat menghargai kaum Kolok, mereka pun membantu perjuangan-perjuangan para Kolok untuk bertahan hidup dan menjalin hidup normal sebagaimana masyarakat normal pada umumnya.

Sebagian besar masyarakat tuli di Bengkala bekerja sebagai petani atau pekerja biasa, seperti wanita yang banyak menenun pakaian tradisional. Sebagian yang lain dipekerjakan untuk menjalankan tugas-tugas keamanan atau petugas permakaman.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buntut Konflik Tanah: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Buntut Konflik Tanah: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Regional
Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Regional
Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Regional
Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Regional
Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Regional
Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Regional
Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Regional
[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

Regional
Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Regional
Waspada, 'The Silent Killer' Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Waspada, "The Silent Killer" Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Regional
Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Regional
Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Regional
Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Regional
Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta 'Saranghae' hingga 2,5 Tahun Menunggu

Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta "Saranghae" hingga 2,5 Tahun Menunggu

Regional
Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X