Direktur ATKP Makassar Dinonaktifkan, Orangtua Aldama Tuntut Kasus Terungkap

Kompas.com - 11/02/2019, 16:51 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com – Kasus tewasnya taruna junior Aldama Putra Pongkala (19) diduga dikeroyok seniornya membuat Direktur Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Agus Susanto dinonaktifkan. 

Penonaktifan tersebut berdasarkan surat keputusan dari Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang diterbitkan, Minggu (10/2/2019).

Dengan dinonatifkannya Direktur ATKP, orangtua almarhum Aldama yang merupakan anggota TNI AU, Pelda Daniel Pongkala, menuntut kasus kematian anaknya terungkap. Agar, tidak ada korban jiwa kembali jatuh di sekolah ATKP.

“Saya yakin, anak saya tewas dikeroyok lebih dari satu orang hingga meninggal. Saya harap dengan dinonaktifkannya Direktur ATKP, polisi bisa mengungkap tuntas kasus pengeroyokan anak saya," ungkap Daniel ketika dikonfirmasi via telepon selularnya, Senin (11/2/2019).


Baca juga: Buntut Kematian Taruna, Direktur ATKP Makassar Dinonaktifkan

"Anak saya tidak mati hanya satu orang yang pukul, apalagi di dalam barak itu ada 10 orang seniornya. Saya tidak yakin kalau sembilan orang taruna senior hanya nonton saja.” 

Daniel juga mengungkapkan, orangtua taruna dan taruni ATKP Makassar sudah datang ke rumahnya dan membahas soal kematian Aldama.

Dari keterangan taruna-taruni ATKP mengungkapkan kepada orangtua masing-masing bahwa di kampus ATKP Makassar sering terjadi aksi kekerasan.

“Dari keterangan taruna-taruni ATKP kepada orang tua mereka, bahwa sering terjadi aksi kekerasan di dalam kampus. Bukan hanya taruna senior saja yang melakukan, tetapi taruna pembina. Di sinilah dilihat, pelanggaran yang terjadi di kampus ATKP Makassar,” bebernya.

Baca juga: Orangtua Duga Aldama Tewas Dikeroyok Taruna Senior ATKP Makassar

Daniel menuturkan, jika pada awal kematian anaknya, pihak ATKP Makassar menyatakan bahwa Aldama tewas akibat terjatuh di kamar mandi.

Namun setelah dilakukan otopsi di RS Bhayangkara, tim dokter menyatakan bahwa banyaknya luka lebam pada tubuh Aldama adalah bekas tanda kekerasan atau penganiayaan.

“Dari awal saja pihak ATKP Makassar sudah bohong, mengatakan anak saya tewas akibat terjatuh dari kamar mandi. Setelah saya lapor kasus ini dan jenazah anak saya diotopsi, terungkaplah semua kebohongan itu. Ternyata anak saya tewas akibat dianiaya,” tuturnya.

Sebelumya telah diberitakan, seorang taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP), Aldama Putra Pongkala (19) tewas dengan sekujur tubuh penuh luka lebam setelah dianiaya seniornya di dalam kampus, Minggu (3/2/2019) malam.

Baca juga: Aniaya hingga Tewas Adik Kelasnya, Taruna Senior ATKP Diancam 15 Tahun Penjara

 

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan seorang tersangka Muhammad Rusdi (21) taruna tingkat 2 ATKP Makassar. 

Korban tewas dianiaya seniornya, hanya persoalan korban melanggar tidak mengenakan helm saat mengendarai motor di dalam kampus ATKP Jl Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Saat kejadian pada Minggu malam itu, korban baru tiba di kampus setelah Izin Bermalam Luar (IBL) yang dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Selanjutnya korban dibawa masuk ke dalam sebuah barak dan dianiaya oleh seniornya.



Terkini Lainnya


Close Ads X