Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi, Kapal Tradisional di Ambon Dilarang Berlayar

Kompas.com - 01/02/2019, 16:54 WIB
Sejumlah kapal tradisional hanya bisa bersandar di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon, Jumat (1/2/2019) karena tidak diizinkan untuk berlayar. Larangan berlayar dikeluarkan KSOP Kelas I Ambon menyusul adanya gelombang tinggi di perairan laut Maluku KOMPAS.com/RAHMAT RAHMAN PATTYSejumlah kapal tradisional hanya bisa bersandar di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon, Jumat (1/2/2019) karena tidak diizinkan untuk berlayar. Larangan berlayar dikeluarkan KSOP Kelas I Ambon menyusul adanya gelombang tinggi di perairan laut Maluku

AMBON,KOMPAS.com- Cuaca buruk disertai gelombang tinggi yang masih terus terjadi di perairan laut Maluku menyebabkan kapal-kapal tradisional antarpulau di wilayah itu tidak diizinkan berlayar hingga kondisi laut kembali normal.

Larangan berlayar terhadap kapal-kapal kayu tradisional oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Ambon ini menyusul masih tingginya gelombang di sebagian Laut Maluku yang mencapai ketinggian tiga meter.

“Untuk kapal-kapal kayu, kapal tradisional itu memang saat ini kami larang untuk berlayar,” kata Kepala Seksi Keselamatan Berlayar KSOP Kelas I Ambon, Jonly Pentury, Jumat (1/2/2019).

Jonly mengungkapkan, berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ambon, kondisi laut Maluku masih sangat berbahaya untuk dilayari kapal-kapal tradisional, sehingga pihaknya tidak ingin mengambil risiko.

“Data prakiraan cuaca dari BMKG menjadi rujukan kita, bahwa gelombang tinggi mulai dari 1,5 hingga 3 meter masih berpeluang terjadi di perairan Maluku,” ungkapnya.

Baca juga: Kapal yang Diamankan Bakamla Beli BBM dari Nelayan

Dia mengatakan, larangan berlayar sejauh ini masih ditujukan kepada kapal-kapal dengan bobot di bawah 35 grosston, selebihnya, kata dia, kapal dengan ukuran besar tidak dilarang untuk berlayar.

“Kalau di bawah 35 GT itu kami larang, tapi kalau untuk kapal Pelni tidak ya,”ujarnya.

Dia juga menambahkan, larangan berlayar kapal-kapal tradisional itu dikhususkan untuk rute pelayaran antarpulau di wilayah Maluku Tenggara, sementara untuk pulau Seram sejauh ini masih dalam kondisi normal.

“Kalau untuk ke Seram Barat, Seram Timur itu normal ya, tapi yang berbahaya itu untuk ke Mlauku Tenggara,”ujarnya.

Dia pun mengimbau kepada penyedia jasa angkutan maupun calon penumpang agar tetap memperhatikan imbauan dari BMKG terkait kondisi cuaca.

”Kami juga terus menyampaikan prakiraan cuaca dari BMKG kepada penyedia jasa angkutan laut agar lebih diperhatikan lagi,”sebutnya. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X