Batik Ciwaringin, Potret Perjuangan Para Santri Menyelamatkan Warga

Kompas.com - 10/01/2019, 12:01 WIB
Pemilik Rumah Batik Novi, Solifah (30), menunjukkan motif batik Ganepo. Motif ini adalah stilir motif batik Jawa Tengah, Sapu Jagat. Ganepo muncul di masa warga Kecamatan Ciwaringin hidup susah di era penjajahan kolonial Belanda. Ganepo kepanjangan dari, ?Segane langka, tenagane lempo? (Nasi habis, tenaga lemah).KOMPAS/WINDORO ADI Pemilik Rumah Batik Novi, Solifah (30), menunjukkan motif batik Ganepo. Motif ini adalah stilir motif batik Jawa Tengah, Sapu Jagat. Ganepo muncul di masa warga Kecamatan Ciwaringin hidup susah di era penjajahan kolonial Belanda. Ganepo kepanjangan dari, ?Segane langka, tenagane lempo? (Nasi habis, tenaga lemah).

CIREBON, KOMPAS.com - Batik dengan motif Pecutan, Tebu Sekeret, dan Ganepo, merekam perjuangan kaum santri di tengah masa susah warga di Kecamatan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, pada era penjajahan kolonial Belanda.

Jika Anda mengunjungi sentra batik di Ciwaringin, Anda tak akan menemui motif-motif batik dari kalangan Istana di sana. Masa kegemilangan lingkungan keraton yang ditoreh lewat motif batik Mega Mendung, Paksi Naga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, seolah sirna di Desa Ciwaringin.

Kecamatan Ciwaringin terdiri dari delapan desa. Dua di antaranya adalah Desa Babakan dan Desa Ciwaringin. Desa Babakan tumbuh menjadi "gudangnya" pesantren. Saat ini, ada 33 pesantren di Desa Babakan.

Sementara itu, Desa Ciwaringin di lingkungan RT 5, 6, 7 RW 5, tepatnya di Blok Kebon Gedang, tumbuh menjadi kawasan industri rumahan batik. 


Menurut pasangan suami istri Hasanudin Abdul Kohar (47), dan Nur Halifah Abdul Ajiz (46), motif Batik Ciwaringin yang didominasi gambaran perjuangan kaum santri di Desa Babakan menyelamatkan warga Kecamatan Ciwaringin dari kemiskinan dan kelaparan.

Kalangan santri pun melatih warga bertahan hidup dengan membuat dan menjual batik.

"Sore menjelang malam setelah para santri selesai belajar agama, mereka datang ke desa-desa di lingkungan Kecamatan Ciwaringin untuk melatih warga membatik," tutur Hasanudin Abdul Kohar yang akrab disapa Hasan di Rumah Batik "Risma", Senin (7/1/2019).

Dalam perkembangannya, hanya Desa Ciwaringin yang kemudian tumbuh sebagai kampung batik.

Jejak kelaparan warga Ciwaringin ditoreh dalam motif Tebu Sekeret. Kata Hasan, motif ini menggambarkan, untuk bertahan hidup, warga Ciwaringin yang lapar, menyesap potongan batang tebu. Penggambaran serupa juga muncul pada motif Ganepo.

Ganepo kepanjangan dari kalimat berbahasa Cirebon, "Segane langka, tenagane lempo" (Nasi habis, tenaga lemah). Motif ini sebenarnya adalah motif batik Jawa Tengah, Sapu Jagat, yang distilir.

"Motif batik Ciwaringin paling populer adalah motif Pecutan," kata Hasan. Gagasan motif ini berasal dari tangkai dan dedaunan yang digunakan para pengajar di pondok pesantren mencambuk, memberi semangat para santrinya agar lebih giat belajar ilmu agama.

Pemerhati kesenian dan kebudayaan dari Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU), H Uki Marzuki, membenarkan bahwa batik Ciwaringin tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren.

Motif batik lainnya yang menggambarkan rekam jejak kaum santri adalah motif Pring Sedapur, dan Laseman (langgam batik Lasem). Penggagas utamanya adalah KH Mohammad Amin yang lebih dikenal sebagai Kiai Madamin dari Pondok Pesantren Babakan.

Uki bercerita, sekembalinya dari menuntut ilmu agama di Lasem, Jawa Tengah, dia bersama isterinya, Nyai Kaltsum, melatih para santri membatik.

Selanjutnya, para santri melatih membatik warga Kecamatan Ciwaringin. Tak heran bila sentuhan Batik Lasem terasa dalam corak Batik Ciwaringin.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Akun Lisa Marlina Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa, Ni Luh Djelantik Lapor Polisi

Akun Lisa Marlina Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa, Ni Luh Djelantik Lapor Polisi

Regional
Preman Tewas Ditembak setelah Palak Truk, Sopirnya Ternyata Polisi

Preman Tewas Ditembak setelah Palak Truk, Sopirnya Ternyata Polisi

Regional
Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart Asal Solo yang Ciptakan 800 Lagu

Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart Asal Solo yang Ciptakan 800 Lagu

Regional
Cerita Lilik Gantikan Nazar Amien Rais, Idolakan Wayang Sengkuni hingga Hati Geram

Cerita Lilik Gantikan Nazar Amien Rais, Idolakan Wayang Sengkuni hingga Hati Geram

Regional
Jenazah Perempuan yang Diduga Korban Pembunuhan di Sukabumi Tiba di Rumah Duka

Jenazah Perempuan yang Diduga Korban Pembunuhan di Sukabumi Tiba di Rumah Duka

Regional
[POPULER NUSANTARA] Lilik Gantikan Nazar Amien Rais | Viral Kicauan Lisa Marlina tentang Bali

[POPULER NUSANTARA] Lilik Gantikan Nazar Amien Rais | Viral Kicauan Lisa Marlina tentang Bali

Regional
Upaya Menyelamatkan Anisa, TKW yang Disiksa Majikan Malaysia hingga Gigi Rontok

Upaya Menyelamatkan Anisa, TKW yang Disiksa Majikan Malaysia hingga Gigi Rontok

Regional
Ditemukan Reruntuhan Diduga Ruang Tamu Istana Kesultanan Banten

Ditemukan Reruntuhan Diduga Ruang Tamu Istana Kesultanan Banten

Regional
Keluarga Nunung di Solo: Tak Sangka Orang Sebaik Mama Nunung Pakai Sabu...

Keluarga Nunung di Solo: Tak Sangka Orang Sebaik Mama Nunung Pakai Sabu...

Regional
Kisah Pilu TKW Turini, Tak Digaji 21 Tahun hingga 'Dipenjara' Dalam Rumah

Kisah Pilu TKW Turini, Tak Digaji 21 Tahun hingga "Dipenjara" Dalam Rumah

Regional
Harapan Sang Taruna yang Berujung Maut di Sekolah Impian

Harapan Sang Taruna yang Berujung Maut di Sekolah Impian

Regional
6 Fakta Baru Kebakaran Hutan Gunung Panderman, 60 Hektar Dilalap Api hingga Semua Pendaki Selamat

6 Fakta Baru Kebakaran Hutan Gunung Panderman, 60 Hektar Dilalap Api hingga Semua Pendaki Selamat

Regional
Ini Nama 50 Anggota DPRD Kota Bandung 2019-2024

Ini Nama 50 Anggota DPRD Kota Bandung 2019-2024

Regional
Terungkap, Identitas Mayat Perempuan Nyaris Tanpa Busana di Sukabumi

Terungkap, Identitas Mayat Perempuan Nyaris Tanpa Busana di Sukabumi

Regional
Didi Kempot, Penyanyi Campursari yang Digandrungi Anak Muda Masa Kini...

Didi Kempot, Penyanyi Campursari yang Digandrungi Anak Muda Masa Kini...

Regional
Close Ads X