Monumen Senilai Rp 6,9 Miliar Dibangun di Titik Nol Surabaya

Kompas.com - 29/12/2018, 11:55 WIB
Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat menyampaikan pidato dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Kamis (27/12/2018) Dok. Humas UMMGubernur Jawa Timur Soekarwo saat menyampaikan pidato dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Kamis (27/12/2018)

SURABAYA, KOMPAS.com - Di akhir masa jabatannya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo membangun monumen di titik nol kota Surabaya, tepatnya di depan kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan. Monumen tersebut dibangun dengan biaya APBD Jawa Timur sebesar Rp 6,9 milliar.

Monumen itu terdiri dari kumpulan patung berwarna emas, simbol budaya asli Jawa Timur, dari patung Reyog, patung kerapan sapi, penari gandrung, hingga patung penari remo.

Monumen tersebut adalah karya seniman yang juga pembuat patung Garuda Wisnu Kencana Bali, I Nyoman Nuarta.

Soekarwo mengatakan, monumen tersebut adalah simbol keberhasilan Jawa Timur dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang diapresiasi Kementerian Dalam Negeri dengan 3 kali memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha.


"Jawa Timur tiga kali mendapatkan penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha. Paling banyak dalam sejarah di antara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia," kata Soekarwo saat peresmian monumen, Jumat (28/12/2018) malam.

Baca juga: Soekarwo : Kebijakan Ganjil Genap Tidak Akan Diterapkan di Jatim

Penghargaan pertama diperoleh Jawa Timur pada 1974, saat itu, penghargaan Parasamya diserahkan oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur HM Noer. Pada 2014, penghargaan ini diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan pada 2017, penghargaan yang sama juga diberikan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Soekarwo lantas memaknai masing-masing ornamen patung dalam monumen tersebut yang menurutnya memiliki cerita historis budaya warga Jawa Timur.

Tari Gandrung Banyuwangi, menggambarkan semangat perjuangan masyarakat Banyuwangi yang memberikan hiburan untuk penjajah.

"Setelah itu dilawan dan diusir dari Bumi Blambangan," jelasnya.

Sementara ornamen Tari Remo adalah budaya Jawa Timur dalam penyambutan kepada penjajah.

Baca juga: Kepada Jokowi, Soekarwo Laporkan Harga Bahan Pangan di Jatim Stabil

Lalu ornamen Reog Ponorogo yang mencerminkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

"Adapun serta ornamen Kerapan Sapi asal Madura mengandung pesan kepada masyarakat Jatim, khususnya para generasi milenial, untuk berlari seperti karapan sapi. Ini simbol cepatnya pembangunan. Siapa yang cepat, dialah yang menang, bukan yang besar yang menang, tapi yang cepat," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X