Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/12/2018, 15:34 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Bandung tengah bersiap mengurangi penggunaan kantong plastik belanja di supermarket dan pusat perbelanjaan.

Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah membuat Peraturan Wali Kota Bandung yang nantinya akan mengatur penggunaan kantong plastik belanja alias kantong keresek.

Pemerintah Kota Bandung pun menggelar focus group discussion yang melibatkan pemerintah dan swasta serta akademisi.

“Perwal ini masih dibahas. Kita harus mencoba mendengarkan dari berbagai pihak, tidak bisa skala pemerintah saja. Tapi kemudian harus mendengarkan dari produsennya, termasuk ritel di dalamnya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Bandung Salman Fauzi saat ditemui di sela FGD di Hotel Grand Tebu, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (13/12/2018).

Salman mengatakan, setelah FGD selesai, diharapkan rancangan Perwal kantong keresek bisa langsung disusun sesuai kesepakatan bersama.

“Hari ini kita coba ada penyusunan rancangan perwalnya dari sisi hukum, kemudian dari sisi ritelnya, pandangannya seperti apa. Kalau melihat semangatnya kelihatannya ada titik temu lah,” jelas Salman.

Baca juga: Sampah Plastik Kotori Kawasan Tempat Penyu Membangun Sarang di Pantai Trisik

Sementara proses penyusunan Perwal berjalan, lanjut Salman, Pemerintah Kota Bandung dan pihak swasta akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana pengurangan kantong plastik belanja.

“Kita juga kan harus mendorong tidak hanya dari sisi ritel saja, tapi perubahan sikap dari masyarakat. Peran serta dari masyarakat kita akan coba dorong itu masuk dari sisi ritelnya. Yang perlu kita ubah di antaranya adalah kebiasaan yang tadinya berangkat belanja tidak bawa kantong belanja, nanti ke depan sebaiknya bawa kantong belanja dan si kantong keresek bisa kita kurangi,” tuturnya.

Salman menambahkan, bukan tidak mungkin ke depan Pemerintah Kota Bandung akan menetapkan agar ritel tidak lagi menyediakan kantong keresek. Namun demikian, menurut dia, hal tersebut membutuhkan waktu minimal dua tahun.

“Pada kasus di beberapa kota ternyata bisa. Intinya pertama mengubah mindset, kemudian yang harus dilakukan ini butuh waktu,” ucapnya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menteri ATR/BPN Sebut Program PTSL Kota Semarang Terbaik di Indonesia, Walkot Ita Beberkan Rahasianya

Menteri ATR/BPN Sebut Program PTSL Kota Semarang Terbaik di Indonesia, Walkot Ita Beberkan Rahasianya

Regional
Gerakan Memasang Tanda Batas Dinilai Penting untuk Hindarkan Masyarakat dari Konflik Tanah

Gerakan Memasang Tanda Batas Dinilai Penting untuk Hindarkan Masyarakat dari Konflik Tanah

Regional
Ganjar Terlibat Langsung Susun RPD dan RKPD, Bappenas Berikan Apresiasi

Ganjar Terlibat Langsung Susun RPD dan RKPD, Bappenas Berikan Apresiasi

Regional
Pembangunan Stasiun Pemancar di Maluku Barat Daya Telah Capai 80 Titik Lokasi

Pembangunan Stasiun Pemancar di Maluku Barat Daya Telah Capai 80 Titik Lokasi

Regional
Fajar Sadboy dan Cermin Buram Masyarakat Indonesia

Fajar Sadboy dan Cermin Buram Masyarakat Indonesia

Regional
Dukung Pelestarian Tenun Bali di Jembrana, Jokowi: Ini Dorong Industri Kreatif Budaya Lokal

Dukung Pelestarian Tenun Bali di Jembrana, Jokowi: Ini Dorong Industri Kreatif Budaya Lokal

Regional
Pemkot Semarang dan KPK Ingatkan OPD untuk Kelola PAD secara Tepat dan Maksimal

Pemkot Semarang dan KPK Ingatkan OPD untuk Kelola PAD secara Tepat dan Maksimal

Regional
Respons Banjir Dinar Indah, Walkot Semarang Rencanakan Penghijauan dan Relokasi Permukiman

Respons Banjir Dinar Indah, Walkot Semarang Rencanakan Penghijauan dan Relokasi Permukiman

Regional
Sosialisasikan Prolegnas RUU Prioritas 2023 di Kalteng, Baleg DPR Terima Lebih dari 9 Masukan

Sosialisasikan Prolegnas RUU Prioritas 2023 di Kalteng, Baleg DPR Terima Lebih dari 9 Masukan

Regional
DMC Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Manado

DMC Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Manado

Regional
Hadiri Rapimnas Fornas, Bupati Zairullah Paparkan Rencana Pembangunan Istana Anak Yatim

Hadiri Rapimnas Fornas, Bupati Zairullah Paparkan Rencana Pembangunan Istana Anak Yatim

Regional
Lokasi Vaksin Booster Kedua di Rumah Sakit Jakarta

Lokasi Vaksin Booster Kedua di Rumah Sakit Jakarta

Regional
Terima Penyandang Disabilitas Klaten, Ganjar: Ini Kejutan Karena Mereka Bawa Motor Modifikasi Sendiri

Terima Penyandang Disabilitas Klaten, Ganjar: Ini Kejutan Karena Mereka Bawa Motor Modifikasi Sendiri

Regional
JSDDD Jadi Pilot Project Nasional, Bupati Jembrana: Kami Siap Bekerja Sama dengan BPS

JSDDD Jadi Pilot Project Nasional, Bupati Jembrana: Kami Siap Bekerja Sama dengan BPS

Regional
Muba Bangga, Desa Bukit Selabu Dapat Anugerah Award Desa Cinta Statistik 2022

Muba Bangga, Desa Bukit Selabu Dapat Anugerah Award Desa Cinta Statistik 2022

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.