Selamat dari Serangan KKB di Nduga Papua, 1 Warga Garut Dievakuasi ke Wamena

Kompas.com - 07/12/2018, 20:31 WIB
Ibu dari Irawan Maulana, warga Garut yang selamat dari serangan KKB di Nduga, Papua di depan rumahnya di Desa Sukamenak Kecamatan WanarajaAri Maulana Karang/Kompas.com Ibu dari Irawan Maulana, warga Garut yang selamat dari serangan KKB di Nduga, Papua di depan rumahnya di Desa Sukamenak Kecamatan Wanaraja

GARUT, KOMPAS.com - Satu orang warga Kabupaten Garut Jawa Barat yang bekerja sebagai instalasi kabel tower telepon atas nama Irawan Maulana (22), selamat dari serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua. Saat ini, Irawan dievakuasi di Kota Wamena.

"Kemarin kasih kabar mau dibawa ke Wamena," jelas Uyu (60), ibu dari Irawan Maulana saat ditemui di kediamannya di Kampung Papandak, Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Jumat (7/12/2018).

Meski telah mendapat kabar anaknya selamat dari serangan KKB di Papua, Uyu mengaku masih belum mengetahui secara pasti kapan anaknya bisa pulang ke Garut.

Dirinya berharap, anaknya bisa segera pulang dan berkumpul lagi bersama keluarga.

Uyu mengaku mendapat kabar dari anaknya lewat sambungan telepon.

Di telepon, anaknya mengaku telah berada di Wamena dalam keadaan sehat dan dikawal oleh anggota TNI sambil menunggu prosedur kepulangan.

"Setelah kasus penembakan, dia memang sengaja tidak mau kasih kabar karena tidak mau keluarga khawatir," katanya.

Baca juga: Dandim Tana Toraja Tegaskan Korban Penembakan KKB di Nduga Papua Bukan Anggota TNI

Uyu sendiri mendapat kabar dari aparat kepolisian setempat yang datang ke rumahnya. Polisi baru memberitahu soal anaknya sesuai dengan permintaan Irawan yang meminta agar pihak keluarga jangan dulu diberitahu.

"Sejak kemarin banyak polisi sama tentara yang datang ke rumah," jelas Uyu.

Sejak mendapat kabar soal keberadaan anaknya di Papua yang nyaris jadi korban keberingasan KKB di Nduga, Papua, Uyu mengaku terus memantau berita soal penembakan tersebut lewat media televisi.

Maspupah (27), kakak perempuan Irawan yang mendampingi ibunya menyampaikan, adiknya bukan karyawan dari PT Istaka Karya yang banyak menjadi korban.

Adiknya bekerja untuk salah satu provider telekomunikasi dengan tugas memasang instalasi kabel-kabel di tower.

Namun, menurut Maspupah, saat kejadian penembakan adiknya memang tengah berada di Pos TNI yang diserang oleh KKB untuk melakukan pekerjaannya.

"Dia (Irawan) bilang kerjaannya masang kabel untuk sinyal telepon, tapi enggak kasih tau perusahaannya apa," katanya.

Menurut Maspupah, awalnya adiknya bekerja di Jakarta. Namun, belakangan mendapatkan tawaran pekerjaan dari kawannya untuk bekerja di Papua.

Pihak keluarga sendiri baru tahu Irawan akan kerja ke Papua setelah Irawan menelpon beberapa hari sebelum diberangkatkan ke Papua.

Selama kurang lebih 8 bulan bekerja di Papua, menurut Maspupah, adiknya memang jarang memberi kabar.

Namun, jika memberi kabar biasanya lewat telepon kepada saudaranya. Biasanya, dia memberi kabar daerah tempatnya bekerja dan kondisinya saja.

"Kalau menelepon memang enggak banyak ngobrol, paling ngasih kabar aja," katanya.



Close Ads X