Ketua KPU Persilakan Para Calon Kunjungi Lembaga Pendidikan asal...

Kompas.com - 15/10/2018, 15:17 WIB
Ketua KPU RI Arief Budiman dalam acara KPU Goes To Campus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (15/10/2018) KOMPAS.com / ANDI HARTIKKetua KPU RI Arief Budiman dalam acara KPU Goes To Campus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (15/10/2018)

MALANG, KOMPAS.com - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Arief Budiman mempersilakan para calon atau peserta Pemilu 2019 mendatangi lembaga pendidikan.

Menurutnya, tidak ada persoalan bagi para calon yang hendak mengunjungi lembaga pendidikan.

Kunjungan peserta pemilu itu akan menjadi persoalan jika dalam kunjungannya bermuatan kampanye.

Sebab, pasal 280 ayat 1 huruf H Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 23 Tahun 2018 tentang kampanye, dilarang melakukan kegiatan kampanye di lembaga pendidikan dan tempat ibadah serta kantor pemerintah.

"Kalau dia dialog ya nggak apa-apa. Tapi begitu di dalam dialog itu ada kampanye, itu langsung distop," katanya di acara KPU Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (15/10/2018).

Begitu juga dengan silaturahmi para calon ke lembaga pendidikan dan tempat ibadah. Menurut Arief, hal itu boleh dilakukan asalkan tidak ada unsur kampanye selama kegiatan silaturahmi itu berlangsung.

"Silaturahmi nggak apa-apa. Tapi kalau silaturahminya sambil kampanye itu yang nggak boleh. Jadi tergantung kegiatannya, tergantung nanti isinya apa. Saya mau silaturahmi tapi dalam silaturahmi jangan lupa pilih saya, itu nggak boleh," jelasnya.

Baca juga: Resmi Dikukuhkan, Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat Siap Perangi Hoaks

Arief Budiman menegaskan, yang menjadi poin larangan adalah melakukan kegiatan kampanye di lembaga pendidikan dan tempat ibadah, sehingga selama tidak ada unsur kampanye, pihaknya mempersilakan para calon itu untuk berkunjung ke tempat-tampat tersebut.

"Kan jelas. Kampanye itu tidak boleh di lembaga pendidikan, di tempat ibadah, di kantor - kantor pemerintah, fasilitas negara, nggak boleh memang. Tapi kalau mereka datang mau seminar, diskusi, dialog silahkan saja. Yang tidak boleh adalah kampanye itu," terangnya.

Menurut Arief, mudah untuk mengetahui bahwa kunjungan para calon ke lembaga pendidikan itu bermuatan politik. Jika ada unsur ajakan untuk memilih calon tertentu, berarti itu merupakan kampanye dan harus segera dihentikan.

"Gampang, lihat saja, ikuti saja, begitu dia mulai ngomong pilih saya pilih saya, kampanye stop. Tapi kalau kita ngomong misalnya perekonomian Indonesia, bencana di Indonesia, pertumbuhan, silakan saja. Siapapun boleh bicara itu, bicara tentang pendidikan, bicara tentang pentingnya pemilu, silakan. Tapi begitu ada statemen berkampanye, stop. Begitu dia menggunakan baju yang simbolnya kampanye ada di situ, stop," jelas mantan ketua KPU Jawa Timur.

Begitu pun jika ada pihak tertentu yang gerak-geriknya menimbulkan ajakan untuk memilih pasangan calon tertentu. Menurut Arief, pihak-pihak tersebut harus dikeluarkan dari area terlarang kampanye.

"Suruh keluar itu yang teriak - teriak kampanye itu. Karena ini bukan kegiatan kampanye. Yang dilarang adalah kampanye di lembaga pendidikan, kampanye di tempat ibadah," jelasnya.

Baca juga: Ketua KPU: Penyelenggara dan Peserta Pemilu Harus Pahami Larangan Kampanye di Lembaga Pendidikan hingga Tempat Ibadah

Sampai sejauh ini, kampanye di tempat pendidikan masih menjadi perdebatan. Sebab, lembaga pendidikan menjadi tempat para calon untuk berkunjung melakukan silaturahmi.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rabu Pagi, Kualitas Udara Sumbar Masuk Level Tidak Sehat

Rabu Pagi, Kualitas Udara Sumbar Masuk Level Tidak Sehat

Regional
Kronologi Pembunuhan 'Debt Collector' yang Tubuhnya Terpisah dari Kepala

Kronologi Pembunuhan "Debt Collector" yang Tubuhnya Terpisah dari Kepala

Regional
183 Warganya Keracunan Makanan, Bupati TTS Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa

183 Warganya Keracunan Makanan, Bupati TTS Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa

Regional
Siswi SMP yang Dicabuli Guru Les Vokal Pintar Sembunyikan Kehamilan hingga 8 Bulan

Siswi SMP yang Dicabuli Guru Les Vokal Pintar Sembunyikan Kehamilan hingga 8 Bulan

Regional
Virus Flu Burung Merebak di Tegal, 150 Unggas Mati Mendadak

Virus Flu Burung Merebak di Tegal, 150 Unggas Mati Mendadak

Regional
Kasus Pembunuhan 'Debt Collector': Kepala Korban Ditemukan Terpisah dari Tubuhnya

Kasus Pembunuhan "Debt Collector": Kepala Korban Ditemukan Terpisah dari Tubuhnya

Regional
4 Fakta Suami Bakar Istri di Surabaya, Terlibat Cekcok hingga Kabur Bawa Motor Pemilik Kos

4 Fakta Suami Bakar Istri di Surabaya, Terlibat Cekcok hingga Kabur Bawa Motor Pemilik Kos

Regional
Terduga Teroris AK dari Sukoharjo Dikenal Jarang Bergaul dan Tertutup

Terduga Teroris AK dari Sukoharjo Dikenal Jarang Bergaul dan Tertutup

Regional
Lurah Way Halim: Nenek Nurhasanah Tidak Terlibat Terorisme

Lurah Way Halim: Nenek Nurhasanah Tidak Terlibat Terorisme

Regional
Menyoal Gibran Maju Pilkada Solo, Bukan Pilihan PDI-P Solo hingga Anjuran Ganjar

Menyoal Gibran Maju Pilkada Solo, Bukan Pilihan PDI-P Solo hingga Anjuran Ganjar

Regional
Nekat Keluyuran Saat Jam Kerja, 14 ASN Kena Razia

Nekat Keluyuran Saat Jam Kerja, 14 ASN Kena Razia

Regional
Susahnya Hidup Nenek Paulina: Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot, Jual Kelapa untuk Beli Beras

Susahnya Hidup Nenek Paulina: Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot, Jual Kelapa untuk Beli Beras

Regional
Fakta Baru Remaja Dicabuli Ayah Tirinya, Ditetapkan Tersangka hingga Polisi Dalami Keterlibatan Ibu Kandungnya

Fakta Baru Remaja Dicabuli Ayah Tirinya, Ditetapkan Tersangka hingga Polisi Dalami Keterlibatan Ibu Kandungnya

Regional
Cuaca Buruk, 'Water Bombing' Kebakaran Hutan Gunung Arjuno-Welirang Batal

Cuaca Buruk, "Water Bombing" Kebakaran Hutan Gunung Arjuno-Welirang Batal

Regional
Upaya Penyelundupan 16.000 Ekor Bibit Lobster Digagalkan, 1 Pelaku Buron

Upaya Penyelundupan 16.000 Ekor Bibit Lobster Digagalkan, 1 Pelaku Buron

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X