Kewaspadaan di Negeri Gempa Bumi - Kompas.com

Kewaspadaan di Negeri Gempa Bumi

Kompas.com - 04/08/2018, 16:53 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi (kedua kiri) berdialog dengan anak-anak korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7/2018). Presiden Jokowi mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan untuk perbaikan Rp 50 juta per rumah korban gempa yang mengalami kerusakan.ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi (kedua kiri) berdialog dengan anak-anak korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7/2018). Presiden Jokowi mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan untuk perbaikan Rp 50 juta per rumah korban gempa yang mengalami kerusakan.

AHAD pagi, 29 Juli 2018 sekitar pukul 05.47 WIB terjadi gempa bumi yang mengguncang wilayah Lombok, Bali dan Sumbawa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa gempa bumi terjadi pada koordinat 8,4 LS dan 116,5 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 47 km arah timur laut Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 24 km.

Kejadian gempabumi ini mengakibatkan kerusakan bangunan dan longsoran di perbukitan jalur pendakian Gunung Rinjani. Tentunya Gempa Lombok ini tergolong gempa yang merusak.

Sudah menjadi pemahaman bersama, bahwa wilayah kepulauan Indonesia secara tektonik berada pada jalur pertemuan lempeng besar dunia. Lempeng besar tersebut adalah Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Pasifik.

Baca juga: INFOGRAFIK: Apa yang Harus Dilakukan Sebelum, Saat, dan Sesudah Gempa Bumi?

 

Seperti yang ditunjukkan pada gambar 1, selain lempeng besar yang seolah melingkari kepulauan Indonesia, terdapat beberapa lempeng kecil yang bersifat lokal, yaitu Burma, Sunda, Laut Banda, Laut Maluku, Kepala Burung, Maroke, dan Woodlark (Sumber: Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN, 2017).

Gambar 1. Peta zona pertemuan lempeng aktif serta kemenerusan sesar aktif di Kepulauan Indonesia (Sumber: Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN, 2017)Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN, 2017 Gambar 1. Peta zona pertemuan lempeng aktif serta kemenerusan sesar aktif di Kepulauan Indonesia (Sumber: Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN, 2017)

Setiap pergerakan pada zona batas pertemuan memiliki pola kecepatan yang berbeda-beda. Lempeng Samudera Indo-Australia menunjam Lempeng Eurasia di bawah Sumatra dan Selatan Jawa sampai Nusa Tenggara kecepatannya antara 6 – 7 cm per tahun.

Sedangkan Lempeng Pasifik pegerakannya menunjam bagian timur Indonesia dengan kecepatan berkisar 10 cm per tahun. Akibat dari pergerakan lempeng tektonik adalah terjadinya gempa bumi pada batas pertemuan lempeng. Beberapa gempa bumi yang terjadi dengan besaran magnitudo yang signifikan dan merusak.

Beberapa kemenerusan sesar aktif yang menjadi sumber gempa bumi berada dekat dengan kota-kota besar di Indonesia. Sesar Opak yang berdekatan dengan Yogyakarta, Sesar Lembang berdekatan dengan Bandung, Sesar Cimandiri di Sukabumi, Sesar Palu Koro di Kota Palu dan beberapa kota lainnya.

Selain itu, zona pertemuan lempeng aktif yang berpotensi memberikan dampak bahaya gempa bumi pada beberapa wilayah di Indonesia.


Kejadian gempa bumi di Indonesia

Seperti kejadian pada 26 Desember 2004, gempa bumi magnitudo 9,1 terjadi di pesisir barat Aceh. Gempa besar yang membangkitkan gelombang tsunami memberikan dampak kerusakan dan korban jiwa lebih dari 150 ribu jiwa. Kejadian ini memberikan catatan bencana terparah yang melanda Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Baca juga: 3 Faktor yang Membuat Gempa Lombok Sangat Merusak, Menurut BMKG

Selain Aceh, beberapa wilayah lain di Indonesia pernah dilanda gempa bumi yang merusak dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Seperti Nias (2005), Yogyakarta (2006), selatan Pangandaran yang membangkitkan gelombang tsunami (2006), Bengkulu (2007), Padang (2008), Mentawai (2010), Tolikara, Papua (2011), Gempa Aceh (2012), Palu (2012), Gayo (2013), Pidie Jaya (2016) dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi di Lombok (2018).

Tentunya masih ada beberapa kejadian gempa bumi dengan intensitas yang lebih kecil dan mengakibatkan dampak kerugian harta benda serta korban jiwa.

BNPB merilis data kejadian gempa bumi berdasarkan data BMKG, selama tahun 2017 tercatat 8.693 kejadian gempa bumi di Indonesia. Terdapat 19 kejadian gempa bumi yang merusak, 208 kejadian gempa dengan magnitudo lebih dari 5, dan 573 kejadian gempa bumi yang dirasakan.

Selebihnya merupakan kejadian gempa bumi yang magnitudo kurang dari 4 dan tidak dirasakan. Data ini menjadi salah satu dasar bahwa Indonesia memiliki potensi besar terdampak bahaya gempabumi.


Membangun kewaspadaan dalam mitigasi

Membangun kewaspadaan secara personal dan komunal adalah sebuah keniscayaan sebagai bagian dari langkah mitigasi dan pengurangan risiko. Kewaspadaan akan terbangun dari pemahaman yang baik tentang sumber gempa bumi dan potensi bahaya yang mungkin terjadi.

Hal ini yang terus dilakukan oleh para peneliti di Indonesia. Beberapa pendekatan dan metoda diterapkan untuk untuk memahami sumber dan perilaku gempa bumi dengan baik. Kolaborasi dan sinergisitas keilmuan bidang geologi, seismologi, dan geodesi terus memberi ruang penelitian gempa bumi di Indonesia secara berkelanjutan.

Baca juga: BMKG: Kabar Gempa Lombok Picu Gempa Megathrust Hoaks

Terbitnya buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 merupakan salah satu langkah konkret dari kolaborasi dan sinergisitas keilmuan. Buku ini dapat menjadi salah satu bagian dalam peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya gempa bumi di Indonesia, baik secara personal maupun komunal.

Hadirnya buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 bukanlah babak akhir dari cerita kajian gempa di Indonesia. Beberapa pekerjaan rumah pemahaman sumber potensi kegempaan masih butuh kajian yang lebih dalam.

Isu potensi gempa Jakarta yang sempat menarik perhatian beberapa bulan lalu merupakan salah satu “PR” yang harus diselesaikan. Belum lagi kejutan-kejutan kejadian gempa bumi seperti halnya kejadian di Lombok beberapa waktu yang lalu.

Terkadang kewaspadaan dalam mitigasi masih butuh perhatian lebih, karena masih ada kepanikan dan korban jiwa. Sehingga muncul pertanyaan, “Sudah cukupkah kewaspadaan yang selama ini dibangun dalam menghadapi potensi bahaya gempa bumi di negeri ini?” 

 

 

 

 


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X