3 Pekan Guru Honorer Mogok Mengajar, Siswa SMK Telantar

Kompas.com - 30/07/2018, 11:57 WIB
Guru honorer SMK 1 Sespa di Mamasa, Sulawesi Barat, mogok mengajar sejak tiga pekan lalu. KOMPAS.com/ JUNAEDIGuru honorer SMK 1 Sespa di Mamasa, Sulawesi Barat, mogok mengajar sejak tiga pekan lalu.

MAMASA, KOMPAS.com – Puluhan guru SMK Negeri I Sesena Padang di Mamasa, Sulawesi Barat, menggelar aksi mogok mengajar di sekolah, sejak tiga pekan terakhir.

Para guru memperotes lantaran honor mereka tak kunjung dibayarkan sejak 8 bulan terakhir. Meski mereka tetap datang ke sekolah, namun para guru memilih tidak mengajar.

Efraim, salah satu siswa SMK Negeri 1 Sesena Padang mengaku bingung sudah tiga pekan mereka datang ke sekolah setiap hari namun tidak pernah belajar.

Para siswa yang datang ke sekolah hanya tampak duduk bergerombol pada jam pelajaran.


“Sudah tiga minggu kita tidak belajar. Selama sekolah pasca-libur panjang baru tiga kali belajar,” jelas Efraim.

Fram, salah satu guru honorer SMKN 1 Sespa mengaku meski setiap hari datang ke sekolah namun mereka bersepakat untuk tidak mengajar sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Baca juga: Nanda Minta Ridwan Kamil Perhatikan Ojek Online dan Guru Honorer

Para guru honorer mendesak agar pemerintah dan kepala sekolah lebih manusiawi memperlakukan honorer. Alasannya mereka full time menghabiskan waktu untuk mengajar siswa, namun jasa mereka seperti tak dihargai.

“Kami tetap datang ke sekolah tiap hari tapi kami tidak mengajar sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang sudah delapan bulan tak membayar honor para guru,” jelas Fram, guru honorer SMKN 1 Sespa Mamasa.

Yosefat, rekan Fram, mendesak pengambil kebijakan untuk menangani masalah di sekolah mereka. Yosefat menilai, ketidakcakapan kepala sekolah memimpin menyebabkan banyak masalah di sekolah tak kunjung ditangani.

Kepala SMKN 1 Sespa, Tadius mengakui, guru honorer di sekolahnya memang sudah berbulan-bulan tak menerima honor. Namun kesalahan tidak semua di tangan kepala sekolah. Sebab, pembayaran honor guru itu urusan pemda. Kepala sekolah hanya menyalurkannya saja.

“Sebagai bawahan saya menunggu keputusan pimpinan,” jelas Tadius.

Bukan hanya guru honorer dan ASN yang memprotes terhadap manajemen kepemimpinan kepala sekolah. Pengawas SMK Negeri 1 Sesena Padang, Daud bahkan secara tegas meminta kepala sekolah untuk mundur dari jabatannya karena tidak mampu menerapkan sistem manajemen yang baik di sekolah hingga kehadirannya malah memicu konflik dan masalah di internal sekolah.

“Saya minta yang bersangkutan agar segera dipindahkan dari sekolah, karena ini telah mengorbankan banyak kepentingan, termasuk kepentingan siswa dan guru,” jelas Daud.

Baca juga: Pelihara Buaya, Seorang Pegawai Honorer Ditangkap Polisi

Untuk mengantisipasi gejolak di sekolah, petugas dari Polres Mamasa melakukan patroli rutin. Pihak kepolisian juga tengah mendorong upaya mediasi semua pihak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah milik pemerintah tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X