Ledakan Kembang Api di Pinggiran Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Disesalkan Wisatawan

Kompas.com - 01/01/2018, 20:44 WIB
Ledakan kembang@api.di.pinggiran.Taman.NasionalGunung.Gede.Pangrango.(TNGGP).Resort.Selabintana,.Sukabumi,.Jawa.Barat,@Senin.(1/1/2018).KOMPAS.com/BUDIYANTO Ledakan kembang@api.di.pinggiran.Taman.NasionalGunung.Gede.Pangrango.(TNGGP).Resort.Selabintana,.Sukabumi,.Jawa.Barat,@Senin.(1/1/2018).

SUKABUMI, KOMPAS.com - Sejumlah wisatawan keluhkan suara ledakan kembang api di pinggiran Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Sukabumi, Jawa Barat, Senin (1/1/2018) tengah malam.

Keluhan itu disampaikan para wisatawan yang menggelar perkemahan keluarga di salah satu taman nasional tertua di Indonesia di Desa Perbawati, Sukabumi.

Suara ledakan kembang api yang berlangsung silih berganti dalam waktu sekitar 15 menit pada pergantian tahun itu berasal dari luar kawasan konservasi.

"Kami tidak menyangka akan ada pesta kembang api dengan suara ledakan keras di sekitar lokasi kami berkemah. Karena ini kan kawasan konservasi yang harus dilindungi," ungkap Teti Priatin kepada Kompas.com di Resort Selabintana, Senin.

(Baca juga : Pesta Kembang Api Semarakkan Tahun Baru di Pangkal Pinang)

Seorang guru di SMA Bani Saleh, Bekasi, yang mengaku sering berkemah di bumi perkemahan (Buper) TNGGP sejak 1996, menyesalkan disulutnya kembang api disertai suara ledakan mercon berkali-kali tersebut.

"Kami memilih tempat berkemah di sini bukan untuk merayakan pergantian tahun. Kami ke sini untuk tadabur alam bersama alumni-alumni siswa sekolahan," ujarnya.

"Tadi malam, anak-anak kecil yang sudah tidur langsung pada terbangun, karena kaget," sambung dia.

Hal senada juga diungkapkan Dede Nurdin salah seorang wisatawan lainnya yang juga berkemah bersama keluarganya.

Dia mengakui kaget dengan suara ledakan kembang api yang berasal dari luar kawasan TNGGP Resor Selabintana.

"Kami berkemah di sini ingin menikmati suasana alam yang masih alami, dengan keheningan malamnya," ungkap warga Sukabumi.

(Baca juga : Meriahnya Kembang Api yang Muncul dari Tengah Danau Sunter)

Dia berharap ke depannya peristiwa yang dialami bersama keluarga besarnya dan para wisatawan yang sama-sama ingin menikmati suasana alami tidak terulang pada kemudian hari.

"Kami berharap tidak terulang kembali. Dan kawasan konservasi ini harus dijaga dan dilestarikan," harapnya.

 

Mencari solusi

Halaman:


EditorDiamanty Meiliana
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X