Taruna Akpol Tewas Dipukul, 14 Senior Didakwa Pasal Penganiayaan

Kompas.com - 22/09/2017, 10:54 WIB
Sejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa (19/9/2017). Tribun Jateng/Rahdyan Trijoko PamungkasSejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa (19/9/2017).
|
EditorCaroline Damanik

SEMARANG, KOMPAS.com - Sebanyak 14 taruna tingkat III di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang didakwa pasal penganiayaan atas meninggalnya taruna tingkat II Brigdatar Muhammad Adam.

Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah menilai para terdakwa melakukan penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Para terdakwa dijerat dengan pasal 170 ayat 2 ke 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Sidang agenda dakwaan telah digelar dalam persidangan di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa (19/9/2017).

"Para terdakwa secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap 21 taruna tingkat II," ujar Jaksa Satena dalam persidangan tersebut.

Berkas 14 terdakwa dibagi menjadi tiga. Jaksa Satena mengawal berkas untuk sembilan terdakwa, yaitu Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto, dan Hery Avianto.

Sementara dua berkas lain atas nama terdakwa Rinox Lewi Wattimena dikawal oleh jaksa Efrita. Sementara itu, berkas lain berisi empat terdakwa yaitu Christian Atmadibrata Sermumes, Martinus Bentanone, Gibrail Chartens Manorek, dan Gilbert Jordu Nahumury dikawal oleh jaksa Slamet Margono.

(Baca juga: Sebelum Meninggal, Taruna Akpol Dipukul hingga Pingsan oleh Seniornya)

Sidang untuk berkas kedua dan ketiga digelar secara terpisah-pisah. Dalam dakwaannya, jaksa menilai para terdakwa telah melakukan penganiayaan terhadap Muhammad Adam di ruang Flat A pada 18 Mei 2017.

Penganiayaan itu dilakukan sebagai bagian dari cara senior mendidik yuniornya. Para terdakwa diduga bersama-sama telah melakukan penganiayaan terhadap korban muhammad Adam hingga ia meninggal dunia. Jaksa juga mengutip hasil visum dari Rumah Sakit Bhayangkara Semarang.

Menurut jaksa, ada bekas luka yang diakibatkan dari kekerasan tumpul. Pada jasad korban ditemukan luka akibat kekerasan tumpul berupa memar pada dahi, leher, tungkai atas dan dada dan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri.

"Sebab kematian korban adalah kekerasan tumpul pada dada yang mengakibatkan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri sehingga menimbulkan gangguan pernafasan," ujar jaksa.

Para terdakwa tidak keberatan atas dakwaan itu. Sidang untuk para terdakwa langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan para saksi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ikut Semarang 10K, Pelari Ini Pakai Kain Batik Lengkap dengan Blangkon

Ikut Semarang 10K, Pelari Ini Pakai Kain Batik Lengkap dengan Blangkon

Regional
Jatuh dari Tebing Gunung Parang, AKBP Andi Nurwandi Meninggal

Jatuh dari Tebing Gunung Parang, AKBP Andi Nurwandi Meninggal

Regional
Menyoal Fakta Serangan Harimau di Sumsel, Tiga Petani Tewas hingga Akibat Perburuan Liar

Menyoal Fakta Serangan Harimau di Sumsel, Tiga Petani Tewas hingga Akibat Perburuan Liar

Regional
Semarang 10K, Lomba Lari Sambil Menikmati Wisata Sejarah Kota Lama

Semarang 10K, Lomba Lari Sambil Menikmati Wisata Sejarah Kota Lama

Regional
Targetkan Jatim Bebas Katarak pada 2023, Khofifah Minta Masyarakat Berperan

Targetkan Jatim Bebas Katarak pada 2023, Khofifah Minta Masyarakat Berperan

Regional
Terjaring Razia, Belasan Pasangan Bukan Suami Istri di Tegal Diberi Ceramah Agama

Terjaring Razia, Belasan Pasangan Bukan Suami Istri di Tegal Diberi Ceramah Agama

Regional
Rektor UNP Sebut Publikasi Jurnal Internasional Jadi Lahan Bisnis, Minta Kemendikbud Kaji Ulang

Rektor UNP Sebut Publikasi Jurnal Internasional Jadi Lahan Bisnis, Minta Kemendikbud Kaji Ulang

Regional
Kisah Suami Tunanetra di Pedalaman Flores Setia Rawat Istri dan Anak yang Derita Gangguan Jiwa

Kisah Suami Tunanetra di Pedalaman Flores Setia Rawat Istri dan Anak yang Derita Gangguan Jiwa

Regional
Bangunan Peninggalan Raja Bali di Lombok Ambruk Diterjang Angin

Bangunan Peninggalan Raja Bali di Lombok Ambruk Diterjang Angin

Regional
Di Ende, Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Rusak Bukan Kali Pertama

Di Ende, Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Rusak Bukan Kali Pertama

Regional
Kado Natal dari Polisi untuk Anak-anak di Distrik Kwamki Narama, Papua

Kado Natal dari Polisi untuk Anak-anak di Distrik Kwamki Narama, Papua

Regional
[POPULER NUSANTARA] TKI Telantar di Bandara Dubai | Pelat Lamborghini Terbakar Palsu

[POPULER NUSANTARA] TKI Telantar di Bandara Dubai | Pelat Lamborghini Terbakar Palsu

Regional
Gunung Karangetang Terus Keluarkan Lava

Gunung Karangetang Terus Keluarkan Lava

Regional
4 Fakta Anggota Brimob Gugur Saat Baku Tembak di Sulteng, Tertembak Usai Shalat Jumat

4 Fakta Anggota Brimob Gugur Saat Baku Tembak di Sulteng, Tertembak Usai Shalat Jumat

Regional
Khawatir Merugi, Petani di Kampar Panen Padi di Tengah Banjir

Khawatir Merugi, Petani di Kampar Panen Padi di Tengah Banjir

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X