Guyangan, Tradisi Unik Warga Bantul Menjelang Hari Kurban

Kompas.com - 21/08/2017, 05:49 WIB
Sesepuh Dusun Pokoh 2 membasuh ternak dalam tradisi Guyangan, Minggu (20/8/2017). KOMPAS.com/Markus YuwonoSesepuh Dusun Pokoh 2 membasuh ternak dalam tradisi Guyangan, Minggu (20/8/2017).
|
EditorReni Susanti

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dua minggu menjelang hari raya Idul Adha, masyarakat di Dusun Pokoh 2, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo. Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menggelar tradisi guyangan atau memandikan ternak di sebuah mata air kali gayam.

Tradisi turun temurun yang sudah ada sejak ratusan tahun itu dikemas dengan menarik, Minggu (20/8/2017). Dimulai dengan warga mengarak hewan ternak, diiringi berbagai alat musik tradisional, berkeliling kampung.

Warga pun membawa gugungan berisi sayur dan buah-buahan. Di depannya sebagian warga menggotong tampah besar berisi sega gudangan (nasi dan sayur), dan peralatan memandikan ternak.

Setelah didoakan sesepuh dusun setempat, ternak yang terdiri dari kambing dan sapi dimandikan dengan dilumuri air campuran jahe dan berbagai ramuan lainnya. Kemudian ternak diberi makan nasi gudangan dan buah pisang yang sudah didoakan.


(Baca juga: Sedekah Bumi, Warga Grobogan Lakukan Tradisi Perang Nasi)

"Sebelum hari raya kurban, dusun kami mengadakan tradisi guyangan agar hewan ternak nantinya tetap sehat sampai saat hari raya. Tak hanya hewan ternak yang akan disembelih tetapi juga hewan ternak yang dimiliki warga agar tetap sehat," ujar Kepala Dukuh Pokoh 2, Haryono.

Menurut dia, campuran air jahe dan ramuan lainnya ini, membuat hewan ternak menjadi sehat. "Kalau dilogika dengan pengetahuan sekarang ya hewan ternak semakin sehat dan hangat," tuturnya.

Ternak menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat sekitar. Berada di lereng pegunungan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Gunungkidul, hewan ternak dijadikan usaha sampingan para petani untuk menabung.

Awalnya, sebagian besar warga dusun memelihara kerbau. Namun sejak beberapa tahun terakhir berubah menjadi sapi dan kambing.

"Tanah di sini bisa disebut batu bertanah dan hanya bisa ditanami jagung dan singkong. Ternak menjadi harapan kami untuk menabung," ujar salah seorang warga, Marsukiyono.

(Baca juga: Umbiro, Tradisi Kampung Rajong Koe di Flores Menghormati Alam)

Pria yang memiliki seekor sapi jenis limosin ini mengatakan, setiap tahun sapinya mampu beranak dan dijual seharga belasan juta rupiah. Dari usahanya tersebut, ia berhasil menyekolahkan tiga orang anaknya.

"Anak saya lulusan SMP, kedua SMA, dan yang ketiga lulusan STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara) sekarang sudah bekerja di Jakara," ucapnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X