Umat Nasrani dan Hindu Bagi-bagi Takjil kepada Pengendara di Grobogan

Kompas.com - 21/06/2017, 20:37 WIB
1500 takjil dibagikan oleh gabungan umat Nasrani dan Hindu di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017) sore. Menjelang waktu berbuka puasa, beberapa perwakilan dari mereka menyerahkan satu per satu makanan ringan berupa kolak kepada para pengendara yang melintas di kawasan alun-alun Purwodadi, Grobogan. KOMPAS.com/Puthut Dwi Putranto1500 takjil dibagikan oleh gabungan umat Nasrani dan Hindu di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017) sore. Menjelang waktu berbuka puasa, beberapa perwakilan dari mereka menyerahkan satu per satu makanan ringan berupa kolak kepada para pengendara yang melintas di kawasan alun-alun Purwodadi, Grobogan.

GROBOGAN, KOMPAS.com - Sebanyak 1.500 takjil dibagikan oleh gabungan umat Nasrani dan Hindu di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017) sore.

Menjelang waktu berbuka puasa, beberapa perwakilan dari mereka menyerahkan satu per satu takjil berupa kolak kepada para pengendara yang melintas di kawasan Alun-alun Purwodadi, Grobogan.

Baca juga: Warga Tionghoa Berikan 1.000 Paket Takjil kepada Pengendara di Bima

Masyarakat merespons dengan baik acara ini. Tak hanya pengendara, pejalan kaki yang kebetulan ada di kawasan alun-alun juga turut menghampiri. Dalam kurun lima belas menit, takjil sudah ludes dibagikan.


"Alhamdulilah bisa batalkan puasa dengan segera melalui takjil. Kebetulan saya dan istri harus melanjutkan perjalanan ke Pati," kata Ardiyanto, seorang pengendara motor.

Koordinator acara bagi takjil, Theofilus Handoko (47), mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud toleransi antarumat beragama yang sudah lama direalisasikan pihaknya sejak bertahun-tahun lalu.

Tak ada niatan apapun selain sebagai bentuk upaya menghormati umat muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa.

"Selamat berbuka puasa dengan yang manis dari kami," kata Theo, sapaan karib pria Tionghoa ini kepada Kompas.com.

Kegiatan positif ini diharapkan dapat meredam efek kegaduhan yang selama ini terjadi di Indonesia. Pihaknya merasa kurang enak dengan pemberitaan akhir-akhir ini yang cenderung mengarah kepada isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

"Sejak dulu kami hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Jadi jangan sampai kegaduhan politik di sana berakhir pada perpecahan," harap Theo.

Mayoritas umat Nasrani dan Hindu yang menggagas acara ini, kata Theo, merupakan pengagum berat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Mereka mengaku merindukan sosok Gus Dur yang tak asing dengan gagasan toleransi antarumat beragama.

Di Indonesia bahkan dunia, jelas Theo, sosok presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi. Merawat toleransi bagi Gus Dur merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama.

Toleransi itu tidak hanya diciptakan, tetapi juga dirawat. Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga karena akan sulit dipulihkan bila sudah retak.

Baca juga: Jemaat Gereja di Purwakarta Bagi-bagi Takjil Gratis di Bawah Patung Gus Dur

Pandangan Gus Dur ini tentu tak lepas dari keberagaman umat beragama, keyakinan, kelompok, ras dan etnis di Indonesia. Sebuah negeri tempat semua tumbuh dengan tanpa rasa takut.

"Pemikiran Gus Dur tentu bisa menjadi rujukan Indonesia saat ini, di mana kita berada dalam carut marut isu SARA. Jangan sampai kita melupakan rasa saling memiliki satu sama lain. Kami semua rindu Gus Dur," pungkas Roby Kurniawan, salah satu penggagas bagi takjil.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X