Tempe Bau, Disperindag Grobogan Temukan Pemakaian Air Tak Bersih

Kompas.com - 19/05/2017, 18:52 WIB
Warga Kota Purwodadi tunjukkan tempe berkualitas buruk yang dijual di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (25/4/2017) Kontributor Grobogan, Puthut Dwi PutrantoWarga Kota Purwodadi tunjukkan tempe berkualitas buruk yang dijual di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (25/4/2017)

GROBOGAN, KOMPAS.com - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah telah rampung melakukan riset kualitas tempe di wilayahnya.

Penelitian ini berangkat dari laporan masyarakat yang mengeluhkan rasa serta bau tak enak pada tempe yang beredar di pasaran. Mendapat laporan tersebut, Disperindag Grobogan membentuk tim internal akhir April lalu.

Mereka mengambil sampel tempe dari para pedagang di sejumlah pasar di Kabupaten Grobogan untuk diuji di laboratorium Dinas Kesehatan setempat.

Tim internal Disperindag juga door to door mendatangi sejumlah pelaku usaha tempe untuk memastikan kualitas tempe.

"Kami juga datangkan perajin tempe untuk membahas permasalahan ini. Dan hasilnya ditemukan jika tempe yang bau, busuk, dan kecut itu dikarenakan pemakaian air yang kurang bersih dalam proses pembuatan tempe. Hal itu berpengaruh pada kualitas tempe," kata Kepala Disperindag Kabupaten Grobogan, Karsono, Jumat (19/5/2017).

Hasil uji sampel tidak ditemukan bahan pengawet pada tempe. "Atas temuan ini kami akan menganggarkan kegiatan pembinaan teknis kepada para pelaku usaha tempe di Kabupaten Grobogan pada perubahan anggaran tahun 2017," tuturnya.

(Baca juga: Warga Grobogan Keluhkan Rasa Tempe Pahit dan Bau Busuk)

 

Untuk diketahui, warga di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah berharap kepada pemerintah setempat untuk mengawasi pelaku usaha tempe di wilayahnya. Sudah hampir setahun ini warga mengeluhkan penurunan kualitas tempe yang dijual di pasaran.

Wahyuningsih (50), warga Jetis, Kota Purwodadi menuturkan, penurunan kualitas tempe sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu.

"Rasa tempe di Grobogan sudah mengecewakan. Rasanya banyak yang pahit, bau tak enak, dan busuk. Untung-untungan dapat yang enak. Kami menduga kualitas tempe sengaja diturunkan untuk memeroleh keuntungan. Tempe dibuat asal-asalan. Kami kesal dan banyak warga pindah ke tahu atau telur," keluh Ningsih.

Keluhan serupa disampaikan warga Jagalan, Kota Purwodadi, Yuliana (43). Ibu rumah tangga ini bahkan telah mencoba kesana-kemari untuk mencari pedagang tempe yang cocok. Hasilnya sama saja, sering sekali ia mengonsumsi tempe dengan kualitas yang buruk.

"Buruknya kualitas tempe menyeluruh pada setiap item tempe. Baik itu tempe Rp 2.000 maupun Rp 6.000 per bungkusnya. Terutama tempe bungkus plastik. Kami juga bingung, kenapa ini. Padahal dari dulu rasa tempe di Grobogan tak ada duanya," terang Yuliana.

(Baca juga: Diplomasi Kuliner lewat Tempe di Qatar, Delicious... Tasty)

"Kadang kami beli enak, kadang juga tidak enak. Pastinya banyak tidak enaknya. Sudah hampir setahun hal ini terjadi. Baunya juga menyengat. Mau beli di toko swalayan atau bakul tak ada bedanya," imbuh Yuliana.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Regional
Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Regional
Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Regional
Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Regional
Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Regional
Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Regional
Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X