Lupis Buatan Mbah Satinem Digemari Soeharto hingga Pemilik Hotel

Kompas.com - 11/04/2017, 07:00 WIB
Mbah Satinem saat berjualan di jalan Bumijo, Kota Yogyakarta KOMPAS.com / Wijaya KusumaMbah Satinem saat berjualan di jalan Bumijo, Kota Yogyakarta
|
EditorCaroline Damanik

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jarum jam menunjukan pukul 06.00 WIB pagi. Sepeda motor, sepeda kayuh, becak hingga mobil mulai memadati Jalan Diponegoro, Kota Yogyakarta.

Tepat di ujung depan ruko pertigaan Jalan Bumijo yang berbatasan dengan Jalan Diponegoro, sejumlah orang berdiri. Mereka menunggu seseorang dengan sabar.

Yang mereka tunggu adalah Mbah Satinem, penjual jajanan tradisional, mulai dari lupis, gatot, tiwul, hingga cenil.

Perempuan yang lahir pada saat Jepang angkat kaki dari Indonesia itu setiap pagi berjualan ditemani anak keduanya, Mukinem.

Untuk bisa menikmati kudapan tradisional buatan Mbah Satinem, pembeli harus datang pagi-pagi. Sebab meski hanya berjualan di emperan toko namun pelanggan olahan tangan Mbah Satinem banyak.

Biasanya, Mbah Satinem telah menyiapkan beberapa kursi bagi yang ingin makan di lokasi meski tidak banyak. Sambil menikmati lupis hingga gatot buatannya, pelanggan bisa menikmati suasana pagi di Jalan Diponegoro atau kawasan Tugu Yogyakarta.

Kerap terjadi, seluruh dagangan Mbah Satinem ludes terjual pada pukul 7.30 WIB.

"Saya buka sekitar pukul 06.00 WIB, tutupnya enggak pasti, pokoknya sampai dagangan habis. Kadang jam 7.30 WIB atau jam 8.30 WIB sudah habis. Itu saja masih banyak yang datang mau beli," ujar Mbah Satinem saat ditemui Kompas.com, Rabu (6/4/2017).

Kepada setiap pembeli yang datang, Mbah Satinem selalu menyambut dengan senyuman. Dia dan putrinya pun selalu menjawab dengan halus ketika ada pembeli yang datang padahal dagangan sudah habis.

"Saya juga kasihan kadang ada yang sudah antre eh kehabisan, tetapi ya mau gimana lagi," ucapnya.

Temurun

Mbah Satinem bercerita, dulu orangtuanya juga berjualan ragam jajanan tradisional tersebut. Oleh karena itu, dia sering ikut membantu membuat sekaligus berjualan.

Baru pada tahun 1963, Mbah Satinem mulai membuat lupis hingga cenil sendiri sesuai dengan resep yang diajarkan ibunya lalu menjajakannya.

"Dulu Simbok (Ibu) yang jualan. Saya berjualan sendiri itu sejak 1963. Resepnya turun-temurun. Masaknya masih memakai kayu," tuturnya.

KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Seorang pembeli saat menunggu Mbah Satinem menyiapkan lupis.

Awalnya, Mbah Satinem berkeliling menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki di kawasan Kota Yogyakarta. Ibu tiga anak ini berjalan kaki dari rumahnya di Salakan, Trihanggo, Sleman, karena saat itu belum ada transportasi.

"Berangkat dari rumah itu jam 4 pagi, jalan kaki ke kota. Dagangannya saya gendong. Keliling jualan, pulangnya sampai rumah sore," ungkapnya.

Setelah itu, Mbah Satinem memilih untuk berjualan di depan ruko pertigaan di Jalan Bumijo, Kota Yogyakarta.

Seiring fisiknya yang mulai tua, Mbah Satinem berangkat ke lokasi jualan diantar anaknya dengan mengendarai sepeda. Selama berjualan pun, Mukinem selalu menemani dan membantunya.

"Saya lupa kapan mulai di sini (jualan di depan ruko). Dulu dibonceng sepeda, sekarang dibonceng sepeda motor. Anak saya ini yang menemani jualan," tuturnya.

Dia menuturkan, setiap hari, mulai pukul 00.00 WIB, Mbah Satinem sudah mulai mengolah bahan-bahan untuk berjualan dibantu oleh anak-anaknya. Khusus untuk "juruh" lupis, Mbah Satinem memakai gula jawa dari Wates, Kulonprogo.

Mbah Satinem berangkat dari rumah menuju lokasi berjualan sekitar pukul 05.00 WIB. Jika ada pesanan atau setiap hari Minggu, Mbah Satinem membuat stok jajanan lebih banyak dari hari biasa.

"Hari biasa itu masak sekitar 8 kilo, kalau hari Minggu sekitar 10 kilo. Bisa nambah kalau ada pesanan. Kebanyakan pembeli itu suka lupis," tuturnya.

Meski ramai pelanggan, Mbah Satinem tidak ngotot. Kalau merasa capek, dia akan memutuskan untuk tidak berjualan. Setiap puasa dan Lebaran, Mbah Satinem juga tidak berjualan.

"Ya kalau capek tutup, Mas, atau kalau tidak ada daun pisang yang untuk bungkus mending tutup. Kalau bulan puasa, tutup satu bulan," kata Mbah Satinem.

Dari berjualan lupis hingga tiwul ini, Mbah Satinem bisa menanggung biaya hidup keluarga, termasuk ketiga anaknya, hingga saat ini semuanya sudah berkeluarga.

Mukinem menuturkan, setiap Lebaran, ibunya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga, cucu dan sanak saudaranya. Dari hasil berjualan, Satinem kerap memberikan uang jajan kepada cucu hingga anak dan cucu tetangganya.

"Kalau lebaran, Simbok (Ibu) itu selalu memberi uang jajan, Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Pernah sampai habis Rp 1 juta," ucapnya.

Digemari Hotel di Yogyakarta hingga Mantan Presiden Suharto.

Kelezatan kudapan tradisional buatan Mbah Satinem ternyata disukai lintas generasi. Dia mengaku bahwa dulu Presiden ke-2 RI, Soeharto, juga kerap memakan lupis, gatot dan tiwul buatannya. Ajudan Soeharto, lanjut dia, yang kerap mampir untuk membelikan.

"Dulu Pak Harto sering beli di sini. Kalau tidak salah setelah naik haji," ujarnya.

"Yang ke sini ajudannya naik mobil. Yang ngomong ajudanya, kalau disuruh Pak Harto. Saya baru tahu. Ya kalau beli, saya lebihi untuk ajudannya," tambahnya.

Hingga saat ini, pelanggannya tak hanya mereka yang mampir di tempat jualannya di emperan toko. Kudapan tradisional buatannya yang masih menggunakan daun pisang ini juga diminati oleh sejumlah hotel di Yogyakarta.

Sejak tujuh tahun lalu, pesanan kudapan tradisionalnya meningkat. Ternyata pemilik hotel menyukai jajanan buatannya. Mereka bahkan masih memesan sampai sekarang.

"Beberapa datang ke sini. Mereka datang pesan lalu besok paginya diambil. Hampir setiap hari kalau satu hotel sampai lebih 20 bungkus," tuturnya.

KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Mbah Satinem berjualan Lopis, Gatot, Tiwul , dan Cenil di emperan toko Pertigaan Jalan Diponegoro dan Jalan Bumijo Kota Yogyakarta

Selain itu, beberapa wisatawan baik dari DIY maupun luar daerah yang sedang berkunjung juga sering datang dan memesan untuk oleh-oleh. Bahkan ada pembeli yang diminta untuk mengirimkan ke luar kota oleh saudaranya. Mbah Satinem juga mengaku sering mendapat pesanan untuk acara-acara tertentu.

"Kemarin itu ada yang pesan dibawa ke Palembang, ada yang Jakarta. Kalau untuk luar daerah saya pisahkan, Jadi tidak dicampur, juruh-nya sendiri, ketannya sendiri," ungkapnya.

Satu porsi lupis, gatot, tiwul, dan cenil buatan Mbah Satinem dibanderol dengan harga Rp 5.000. Sementara paket komplit berisi enam jenis kudapan yang biasanya dipesan untuk acara dipatok dengan harga lebih mahal.

"Kalau untuk paket yang di tampah itu harganya Rp 150.000. Isinya enam macam, tiwul halus, tiwul bulet, lupis, ketan, cenil, dan gatot," tuturnya.

Mbah Satinem tidak mematok penghasilan yang diperolehnya setiap hari. Berapa pun hasilnya, laku ataupun tidak, tetap disyukurinya.

"Berapa pun tetap harus disyukuri mas. Ya Alhamdulilah, sekarang ini pesanan lumayan, tapi ya sekuatnya kalau capek ya tutup, istirahat," pungkasnya.

(Baca juga: Semangat Mbah Paiyem Jual Wedang Ronde Kesukaan Soeharto)

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelombang Pemudik di Tengah Wabah Corona, Ini Sikap Para Kepala Daerah

Gelombang Pemudik di Tengah Wabah Corona, Ini Sikap Para Kepala Daerah

Regional
UPDATE: 77 Kasus Positif Covid-19 di Jatim, Pasien di Surabaya Bertambah, 3 Daerah Masih Hijau

UPDATE: 77 Kasus Positif Covid-19 di Jatim, Pasien di Surabaya Bertambah, 3 Daerah Masih Hijau

Regional
Pemkab Tangerang Bangun Ruang Isolasi Khusus Pasien Positif Corona di Griya Anabatic

Pemkab Tangerang Bangun Ruang Isolasi Khusus Pasien Positif Corona di Griya Anabatic

Regional
Cerita Perjuangan Christina Sembuh dari Covid-19, Jalani Hari Berat di Ruang Isolasi

Cerita Perjuangan Christina Sembuh dari Covid-19, Jalani Hari Berat di Ruang Isolasi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Tasikmalaya Terapkan Local Lockdown | Isolasi Wilayah, Warga Dusun Diberi Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

[POPULER NUSANTARA] Tasikmalaya Terapkan Local Lockdown | Isolasi Wilayah, Warga Dusun Diberi Biaya Hidup Rp 50.000 Per Hari

Regional
Surabaya Zona Merah Covid-19, Belajar di Rumah Kembali Diperpanjang

Surabaya Zona Merah Covid-19, Belajar di Rumah Kembali Diperpanjang

Regional
Ini Cerita Dukungan Warga Untuk Tenaga Medis di Indonesia, Kirim Kopi hingga Buatkan APD Gratis

Ini Cerita Dukungan Warga Untuk Tenaga Medis di Indonesia, Kirim Kopi hingga Buatkan APD Gratis

Regional
Klaim Warga Belanda Positif Terinfeksi Virus Corona di Jatim, Dibantah Pihak Rumah Sakit

Klaim Warga Belanda Positif Terinfeksi Virus Corona di Jatim, Dibantah Pihak Rumah Sakit

Regional
90 Warga Dikarantina Usai Tengok Pasien yang Ternyata Positif Corona, Dusun Ini Langsung 'Local Lockdown'

90 Warga Dikarantina Usai Tengok Pasien yang Ternyata Positif Corona, Dusun Ini Langsung 'Local Lockdown'

Regional
Kisah Para Tenaga Medis di Tanah Air Gunakan Jas Hujan Saat Tugas di Tengah Wabah Corona

Kisah Para Tenaga Medis di Tanah Air Gunakan Jas Hujan Saat Tugas di Tengah Wabah Corona

Regional
Cerita Unik Warga Perangi Corona, Lockdown di Kampung hingga Penyemprot Disinfektan Otomatis

Cerita Unik Warga Perangi Corona, Lockdown di Kampung hingga Penyemprot Disinfektan Otomatis

Regional
Warga Desa di Purbalingga Geger Setelah Mengetahui Pasien yang Dibesuk Positif Corona

Warga Desa di Purbalingga Geger Setelah Mengetahui Pasien yang Dibesuk Positif Corona

Regional
Fenomena Waterspout di Aceh, Suara Bergemuruh dan Berlangsung 25 Menit

Fenomena Waterspout di Aceh, Suara Bergemuruh dan Berlangsung 25 Menit

Regional
Tak Terima Diputus, Pemuda Ini Sebarkan Video Mesum Mantan Pacar

Tak Terima Diputus, Pemuda Ini Sebarkan Video Mesum Mantan Pacar

Regional
Gelar Pelatihan Petugas Haji di Tengah Wabah Corona, 4 Peserta Dinyatakan Positif dan 14 PDP

Gelar Pelatihan Petugas Haji di Tengah Wabah Corona, 4 Peserta Dinyatakan Positif dan 14 PDP

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X