Pertumbuhan Penumpang di Bandara Sepinggan Belum Sesuai Harapan - Kompas.com

Pertumbuhan Penumpang di Bandara Sepinggan Belum Sesuai Harapan

Kompas.com - 22/02/2017, 06:13 WIB
Kontributor Balikpapa, Dani J GM Ict Network Telkomsel Regional Kalimantan, Harsetyo Pramono, dan Co GM AP1 Bandara Sepinggan, Sulkon, berbagi cinderamata di HUT ke-53 Bandara Sepinggan.

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Penumpang pesawat di Bandara Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, tumbuh di bawah target tahunannya dalam kurun waktu empat tahun belakangan ini.

SAMS Sepinggan melayani rata-rata 7 juta penumpang setiap tahunnya atau lebih kurang 20.000 penumpang per hari. Angka ini belum berubah secara drastis sejak 2013.

“Kapasitas bandara 15 juta, tapi kita masih saja 7 juta penumpang hingga kini,” kata Co General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) SAMS Sepinggan, Sulkan, pada perayaan HUT ke-53 Bandara Sepinggan di kantornya di Balikpapan, Selasa (21/2/2017).

AP I mengoperasikan terminal baru SAMS Sepinggan mulai 2014, dengan harapan bisa maksimal melayani jumlah penumpang yang meningkat tajam dari waktu ke waktu. AP I sampai percaya diri menargetkan pertumbuhan 10-15 persen penumpang setiap tahunnya.

Harapan rupanya tidak mudah terwujud saat ini. Tahun 2013, okupansinya sampai 7.205.193 penumpang. Alih-alih naik 10 persen pada 2014, tahun berikutnya tercatat 7.405.205 penumpang atau meningkat 1 persen saja dari tahun sebelumnya. Setelah sempat turun jadi 7.374.517 penumpang pada 2015, naik lagi 7.510.190 penumpang pada 2016.

Jumlah penumpang belum juga meningkat secara drastik seperti harapan. Sulkan memperkirakan, semua ini ada kaitannya dengan kelesuan ekonomi berkepanjangan akibat turunnya harga minyak pada masa lalu dan harga batu bara.

Bisnis ikutan pun juga ikut turun, termasuk turunnya mobilisasi pekerja dari mana-mana.

“Turunnya bisnis tambang dan migas, turun juga jumlah penumpang (tidak mengalami kenaikan berarti),” kata Sulkan.

 Pergerakan Pesawat

Jumlah pesawat datang dan berangkat pada Januari 2017 lalu juga turun 1 persen dibanding tahun sebelumnya pada bulan yang sama. Pergerakan pesawat sempat 6.154 kali pada 2016, turun jadi 5.934 pesawat pada 2017.

Sulkan mengatakan ini juga akibat pengaruh turunnya bisnis migas dan tambang selama ini. Maskapai juga berhitung untuk menutup beberapa jadwal penerbangan.

“Banyak skedul yang ditutup oleh airline. Skedul terlihat berkurang, misal dari Surabaya tadinya 9 penerbangan, sekarang 6 hingga 7,” kata Sulkan.

Soal penurunan pergerakan pesawat sebenarnya sudah terjadi pada 2013. Bisnis minyak, gas, dan pertambangan goncang kala itu.

Sepinggan yang sempat mencatat 78.489 pesawat terbang dan datang pada 2013, turun menjadi 68.568 pesawat pada 2014.

Sejak jeblok pada 2013, hingga kini jumlah pergerakan pesawat belum juga kembali ke angka sebelumnya.

Sulkan mengatakan, penambahan rute bagi perusahaan maskapai merupakan salah satu upaya AP meningkatkan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat.

AP I mengharapkan maskapai terus membuka layanan rute baru. Tahun ini, kata Suklan, ada satu rute yang sudah dibuka untuk jalur penerbangan Balikpapan-Pontianak-Balikpapan.

“Momen Cap Go Meh merupakan kesempatan. Tingkat okupansinya saat itu 100 persen terisi,” kata Sulkan.

Berikutnya, AP1 dan Lion Air juga kini sedang terus mengupayakan bisa mendarat di Kota Malang, Jawa Timur.

“Kita sekarang sedang mengajukan slot. Kita berharap terwujud,” kata Sulkan.



Close Ads X