Kompas.com - 13/12/2016, 09:44 WIB
Panen Padi Lingga --- Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun (kedua dari kanan) dan Bupati Lingga Alias Wello (kanan) memanen padi untuk pertama kali di Lingga, Kepulauan Riau, Selasa (12/7). Selama berpuluh tahun, Lingga menggantungkan pasokan pangan dari daerah dan negara lain. Dengan panen dari sawah di Desa Sungai Besar itu, Lingga merintis jalan untuk swasembada dan menjadi lumbung beras untuk Kepri

Kompas/Kris Mada Kris MadaPanen Padi Lingga --- Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun (kedua dari kanan) dan Bupati Lingga Alias Wello (kanan) memanen padi untuk pertama kali di Lingga, Kepulauan Riau, Selasa (12/7). Selama berpuluh tahun, Lingga menggantungkan pasokan pangan dari daerah dan negara lain. Dengan panen dari sawah di Desa Sungai Besar itu, Lingga merintis jalan untuk swasembada dan menjadi lumbung beras untuk Kepri Kompas/Kris Mada
Penulis Kris R Mada
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

BATAM, KOMPAS - Rencana Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, menjadi lumbung beras terancam gagal. Pemerintah pusat dituding telah melakukan diskriminasi karena menetapkan syarat yang mustahil dipenuhi daerah kepulauan seperti Lingga.

Bupati Lingga Alias Wello menuturkan, Lingga membutuhkan bantuan untuk membangun jaringan irigasi. Namun, pemerintah pusat tidak bisa membantu Lingga karena dinyatakan tidak memenuhi syarat.

"Bantuan hanya diberikan untuk daerah yang bisa membuat sawah minimal 3.000 hektar dalam satu hamparan. Mana mungkin daerah kepulauan seperti Lingga bisa memenuhi syarat itu. Kami memohon Bapak Presiden bisa membuat diskresi sesuai kondisi geografis Lingga," kata Wello, Selasa (13/12/2016), di Lingga.

Kabupaten itu punya 604 pulau. Namun, hanya empat pulau besar bisa dijadikan lokasi pembuatan sawah.

"Karena kondisi geografis, hamparan sawah harus disebar ke berbagai pulau dan beberapa daerah dalam satu pulau," ujar Wello.

Potensi sawah di Lingga memang mencapai 10.000 hektar. Namun, tidak ada daerah bisa dijadikan lokasi yang memungkinkan ada 3.000 hektar sawah dalam satu hamparan di Lingga. Setiap lokasi hanya bisa dipakai maksimal 1.000 hektar.

"Kami sudah meneliti lokasi dan sudah mulai mengerjakan sawah. Bahkan, tahun ini sudah panen sekali," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Panen pada pertengahan 2016 itu memecahkan mitos Lingga tidak bisa menghasilkan beras sendiri dan harus bergantung pada pasokan impor. "Mitos selama puluhan tahun sudah dipatahkan," kata dia.

Namun, semangat warga Lingga untuk menghasilkan pangan sendiri terkendala ketiadaan jaringan irigasi. Tanpa jaringan irigasi, mustahil membuat sawah ribuan hektar.

"Setelah bolak-balik mengajukan permohonan, Kementerian Pekerjaan Umum memastikan Lingga tidak bisa mendapat bantuan pembuatan irigasi," sebut Wello.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Regional
Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Regional
Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Regional
Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Regional
Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Regional
Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Regional
Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.