Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Upaya Riau Menghapus Stigma Sarang Koruptor

Kompas.com - 04/11/2016, 16:13 WIB

Tim Redaksi

“Sebenarnya ownership dari acara rembuk nasional itu adalah komunitas di luar pemerintah. Meski demikian, unsur pemerintah pusat dan daerah, kementerian, lembaga, BUMN dan BUMD akan ikut bersinergi,” kata Andi.

Rembuk Integritas Nasional itu, tambah Andi, juga akan diisi acara rakyat dari halaman kantor Gubernur di Jalan Sudirman, sepanjang Jalan Gajahmada dan halaman Gedung Daerah (kediaman resmi gubernur Riau) di Jalan Diponogoro yang berada pada satu bidang garis lurus. Acara itu boleh disebutkan sebagai pesta rakyat.

Tentang Tugu Integritas atau yang sebelumnya disebutkan sebagai Tugu Anti Korupsi, yang akan dibangun Riau, telah mengundang pro dan kontra.

Pengamat Sosial Riau, Doktor Rawa El Amady mengungkapkan, yang dibutuhkan Riau saat ini bukan pembangunan tugu-tuguan, melainkan aksi nyata pemberantasan korupsi.

“Sebenarnya tidak perlu juga peringatan anti korupsi. Cukup pejabat dan aparat pemerintah dan semua lembaga yang ada di daerah ini melayani tanpa meminta imbalan. Bersihkan diri sendiri dahulu, kemudian ajak anggota keluarga pejabat untuk tidak korupsi APBD," kata Rawa.

"Kalau itu dilakukan, sudah bagus. Sampai saat ini saya belum melihat adanya semangat apalagi gerakan dari penyelenggara negara di Riau ini untuk bersih-bersih yang muncul dari hati nurani sendiri,” lanjut dia.

Meski demikian, kata Rawa, dia setuju dengan rencana pembangunan Tugu Anti Korupsi ataupun Tugu Integritas. Namun di tugu itu, harus memberi tempat khusus untuk memajang foto para pemimpin koruptor di Riau selama ini.

Sebaliknya, menurut Anto, KPK tidak setuju tugu integritas dipakai untuk niat mempermalukan (shaming). KPK lebih suka memakai pendekatan menjunjung integritas (naming).

“Jangan memakai pendekatan masa lalu. Kalau kita tanya, apakah yang tidak setuju itu tidak pernah berbuat buruk? Tugu integritas itu baik, karena memiliki ruang untuk semua orang belajar antikorupsi. Kisah masa lalu boleh saja ada, namun jangan menghabiskan energi untuk masalah itu saja. Lebih baik melihat ke depan. Kami ingin Riau yang memiliki masa lalu kelam dapat bangkit,” ujar Anto.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com