Kompas.com - 09/03/2016, 17:59 WIB
|
EditorAmir Sodikin

Lima menit kemudian saya kembali untuk memeriksa dan harus kaget karena lampu indikator kamera tidak menyala. Artinya perangkat dalam keadaan tidak menyala!

Dalam keadaan bingung, saya pun kembali menyalakan perangkat dan mengulangi rangkaian langkah sebelumnya. Setelah kamera menyala kembali, saya tinggalkan untuk mencari obyek foto.

Dan lagi-lagi, perangkat tersebut tidak menyala saat saya datangi kembali.

Saya pun mulai panik, pertama karena tidak paham apa yang sedang terjadi. Saya pun memutuskan untuk mencopot kamera dari tripod dan memutuskan untuk membatalkan rencana mengambil video 360 derajat.


Begitu saya pegang badan kamera, tiba-tiba saya sadar penyebabnya. Badan kamera terasa panas saat digenggam dan saya teringat bahwa panas merupakan isu yang cukup membebani perangkat ini.

Bila perangkat panas, otomatis segera mematikan sistem secara mandiri. Sumber panasnya bisa jadi dari proses pengambilan gambar atau karena terpapar sinar matahari yang menyengat sebelum gerhana terjadi.

Waktu terus berjalan seiring piringan bulan yang terus bergerak dari atas ke bawah menutupi piringan matahari. Saya pun mengambil skenario lain yakni mengambil gambar pada fase puncak saja atau sebelum langit menjadi gelap hingga gerhana usai.

Sambil menunggu, kamera saya copot dari tripod dan disimpan di saku sambil menurunkan panas di perangkat. Teori mengenai panas pun juga terbatas asumsi.

Kegelapan datang

Sekitar pukul 09.45, sebagian besar piringan matahari mulai tertutup piringan bulan. Masyarakat pun makin memadati tempat saya mengambil gambar.

Merogoh kamera dan memeriksa badannya yang tidak lagi panas menyengat, saya pun memutuskan untuk kembali mencoba mengambil gambar. Taruhannya hanya video yang gagal bila teori saya soal panas sebagai penyebab perangkat mati sendiri ternyata tidak terbukti.

Kembali saya nyalakan, kali ini tidak melalui aplikasi tapi langsung menekan tombol di badan kamera. Kelap kelip lampu merah di muka kamera segera muncul pertanda perekaman video berlangsung.


Kembali saya tinggalkan kamera untuk mengamati suasana sekitar, berbincang dengan warga, atau mengambil gambar kapal pesiar yang hilir mudik di laut. Mereka juga punya niat serupa untuk berburu gerhana matahari.

Memasuki fase puncak gerhana, langit pun makin gelap meski belum jam 10.00 waktu setempat. Warga makin ramai, sebagian takjub dan sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel, anak-anak berebutan potongan film rontgen sebagai pengganti kacamata gerhana untuk memelototi matahari.

Sesekali saya intip kamera, dari samping terlihat jelas bahwa lampu di tombol daya tengah menyala yang berarti perangkat tidak mati mendadak seperti sebelumnya. Yang berarti dugaan saya memang terbukti.

Terlebih saat memasuki fase puncak gerhana, langit tiba-tiba gelap dan mendadak udara menjadi dingin. Saya pun tidak khawatir dengan kamera yang terus-terusan merekam.

Puncak gerhana pun tiba, warga sekitar bersorak. Sebagian melantunkan pujian kepada Sang Pencipta. Saya kembali melirik dan melihat ada nyala lampu dari perangkat. Saya pun menarik nafas lega.

Sekitar tiga menit kemudian, piringan bulan kembali meninggalkan piringan matahari dan langit kembali terang. Terasa betul suasana mendadak hening sesudahnya seolah semua terpekur dengan peristiwa langit tersebut.

Saya pun mendekati kamera dan masih mendapati lampu yang menyala. Namun saya harus kaget saat tidak melihat lampu merah di bagian muka.

"Sejak kapan kamera berhenti merekam?" ujar saya dalam hati, kali ini benar-benar panik.

Saya segera membuka laptop, mentransfer file video berukuran 2,8 gigabita dari Theta S agar bisa ditonton meski belum dalam format yang sesuai. Saya hanya ingin memastikan gambar apa saja yang berhasil direkam kamera ini.

Adegan demi adegan saya perhatikan hingga puncak gerhana. Saat memasuki fase puncak itulah rupanya kamera berhenti merekam, kali ini tidak saya temukan penyebabnya. Saya pun lemas karena peristiwa ini hanya akan berulang dalam waktu lama dan belum tentu mendapatkan kesempatan untuk hadir di sana.

Saya pun menyimpan file video berikut adegan yang sempat direkam video ini dan tetap mengirimkan ke kantor untuk diolah. Meski pendek dan parsial, semoga bisa membawa manfaat bagi siapapun yang menontonnya kelak.

Pelajaran yang harus saya ambil saat itu: kenali tabiat perangkatmu. Itu batas tipis yang membedakan keberhasilan dan kegagalan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polemik Desain Rel Kereta Api Trans Sulawesi, Inkalindo Sulsel: Rel Elevated Lebih Ramah Lingkungan

Polemik Desain Rel Kereta Api Trans Sulawesi, Inkalindo Sulsel: Rel Elevated Lebih Ramah Lingkungan

Regional
Merajut Keseimbangan di Taman Nasional Komodo

Merajut Keseimbangan di Taman Nasional Komodo

Regional
70 Penghargaan dalam 4 Tahun, Bukti Kekompakan Bupati dan Wabup Banyuasin

70 Penghargaan dalam 4 Tahun, Bukti Kekompakan Bupati dan Wabup Banyuasin

Regional
Ekonomi Jateng Capai 5,66 Persen pada Kuartal II-2022, Ganjar: Ini Kerja Kolektif

Ekonomi Jateng Capai 5,66 Persen pada Kuartal II-2022, Ganjar: Ini Kerja Kolektif

Regional
Tak Punya Wisata Alam, Kabupaten OKI Percaya Diri Unggulkan Wisata Budaya

Tak Punya Wisata Alam, Kabupaten OKI Percaya Diri Unggulkan Wisata Budaya

Regional
Walkot Ridho Sebut “Fokus” Jadi Kunci Keberhasilan Program Kerja Pemkot Prabumulih

Walkot Ridho Sebut “Fokus” Jadi Kunci Keberhasilan Program Kerja Pemkot Prabumulih

Regional
Kinerja Ekonomi Jatim Triwulan II 2022 Tumbuh di Atas Rata-rata Nasional

Kinerja Ekonomi Jatim Triwulan II 2022 Tumbuh di Atas Rata-rata Nasional

Regional
Semarakkan HUT Ke-77 Kemerdekaan RI, Gubernur Syamsuar Bagikan Bendera Merah Putih di Riau

Semarakkan HUT Ke-77 Kemerdekaan RI, Gubernur Syamsuar Bagikan Bendera Merah Putih di Riau

Regional
Rayakan HUT Ke-828, Kabupaten Trenggalek Gelar Festival Kesenian Jaranan 2022

Rayakan HUT Ke-828, Kabupaten Trenggalek Gelar Festival Kesenian Jaranan 2022

Regional
Wujudkan Sumsel Maju untuk Semua, Pemprov Sumsel Fokus Pada 6 Prioritas Daerah

Wujudkan Sumsel Maju untuk Semua, Pemprov Sumsel Fokus Pada 6 Prioritas Daerah

Regional
Stunting di Musi Banyuasin Terus Menurun, Bupati Apriyadi Paparkan Strateginya

Stunting di Musi Banyuasin Terus Menurun, Bupati Apriyadi Paparkan Strateginya

Regional
Dukung Penurunan Stunting, Walkot Mahdi Gelar Acara “Rembuk Stunting Kota Metro 2022”

Dukung Penurunan Stunting, Walkot Mahdi Gelar Acara “Rembuk Stunting Kota Metro 2022”

Regional
Terbuka untuk Umum, Ini Rangkaian Acara Hari Jadi Ke-65 Provinsi Riau

Terbuka untuk Umum, Ini Rangkaian Acara Hari Jadi Ke-65 Provinsi Riau

Regional
Pluralisme di Sekolah Negeri di Jogjakarta

Pluralisme di Sekolah Negeri di Jogjakarta

Regional
Miliki Ribuan Spot WiFi Gratis, Madiun Dikukuhkan sebagai Desa Sensor Mandiri Pertama di Indonesia

Miliki Ribuan Spot WiFi Gratis, Madiun Dikukuhkan sebagai Desa Sensor Mandiri Pertama di Indonesia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.