Buruh Cuci Ini Bersyukur Anaknya Bisa Kuliah S-3 di Jepang

Kompas.com - 10/09/2015, 15:23 WIB
Yuniati saat memegang foto putranya sakti yang saat ini kuliah S3 di universitas Hokaido Jepang KOMPAS.com/ wijaya kusumaYuniati saat memegang foto putranya sakti yang saat ini kuliah S3 di universitas Hokaido Jepang
|
EditorGlori K. Wadrianto
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Bagi seorang ibu, anak adalah segala-galanya. Apa pun dilakukan demi masa depan buah hati. Itu pula yang dilakukan oleh ibu dua anak, Yuniati (49), warga Ketandan Kulon, Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Dengan bekerja sebagai buruh cuci baju, perempuan kelahiran 6 Juni 1966 ini mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang S-3 di Universitas Hokaido, Jepang.

Dalam segala keterbatasan dana, Yuniati yang dianugerahi dua anak, Satya Candra Wibawa Sakti (29) dan Oktaviana Ratna Cahyani (27), berjuang demi kedua buah hatinya agar bisa menuntut pendidikan tinggi.

"Bagi saya, anak adalah segala-galanya. Jangan sampai mereka seperti saya. Karena itu, mereka harus sekolah tinggi bagaimana pun caranya," ucap Yuniati saat ditemui di rumahnya, Kamis (10/9/2015).

Yuniati mengaku mulai bekerja sebagai buruh cuci pada tahun 1995. Pekerjaan itu dia lakoni setelah sang suami keluar dari tempat bekerja. Dari penghasilan sebagai buruh cuci dan menyetrika baju inilah Yuniati menyekolahkan kedua buah hatinya.

"Ya, dari hasil mencuci ini saya menyekolahkan kedua anak saya. Pagi, siang, malam, saya mencuci untuk anak," tutur dia.

Wanita ini juga bertutur, bekerja siang dan malam mencuci baju tidak akan menjadi persoalan selama kedua buah hatinya bisa sekolah. Dia percaya, dengan pendidikan yang tinggi, seseorang dapat mengubah taraf hidupnya. 

"Saya tidak ingin anak-anak saya hidup seperti ini. Saya ingin mereka bisa hidup enak," kata dia.

Bila dihitung secara rasional, penghasilan menjadi buruh cuci yang hanya Rp 250.000 per bulan tak akan cukup untuk membiayai hidup mereka. Namun, Yuniati yakin, dengan kerja keras, segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya.

"Saya makan nasi sama daun pepaya enggak apa-apa, yang penting ada biaya untuk sekolah anak. Itu yang terpenting," kata dia.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pasangan Suami Istri Tewas Usai Pesta Minuman Keras Setelah Lebaran

Pasangan Suami Istri Tewas Usai Pesta Minuman Keras Setelah Lebaran

Regional
Sebelum New Normal, Malang Raya Jalani Masa Transisi Selama 7 Hari

Sebelum New Normal, Malang Raya Jalani Masa Transisi Selama 7 Hari

Regional
Kasus Anak Positif Covid-19 di NTB Didominasi Bayi dan Balita

Kasus Anak Positif Covid-19 di NTB Didominasi Bayi dan Balita

Regional
Saat Warga di Papua Berkebun Massal Saat Pendemi, Rawan Kelaparan dan Cegah Kesulitan Pangan

Saat Warga di Papua Berkebun Massal Saat Pendemi, Rawan Kelaparan dan Cegah Kesulitan Pangan

Regional
Seorang Pria di Blitar Tercebur ke Sumur dan Terjebak Selama 2 Hari

Seorang Pria di Blitar Tercebur ke Sumur dan Terjebak Selama 2 Hari

Regional
Update Covid-19 Mimika: Total 205 Kasus Positif, 122 Pasien Masih Dirawat

Update Covid-19 Mimika: Total 205 Kasus Positif, 122 Pasien Masih Dirawat

Regional
Knalpot Blong Picu Keributan Antarwarga di Tapanuli Selatan, 1 Orang Tewas

Knalpot Blong Picu Keributan Antarwarga di Tapanuli Selatan, 1 Orang Tewas

Regional
Ombudsman Sumsel Investigasi Pemecatan 109 Tenaga Medis Ogan Ilir

Ombudsman Sumsel Investigasi Pemecatan 109 Tenaga Medis Ogan Ilir

Regional
Update Covid-19 NTB: Bayi 9 Bulan Meninggal, Tambah 25 Kasus Positif Baru

Update Covid-19 NTB: Bayi 9 Bulan Meninggal, Tambah 25 Kasus Positif Baru

Regional
Selama 5 Hari Gunungkidul Nihil Kasus Baru VIrus Corona

Selama 5 Hari Gunungkidul Nihil Kasus Baru VIrus Corona

Regional
Seekor Dugong Diselamatkan Setelah Terjerat Pukat Nelayan di Ketapang

Seekor Dugong Diselamatkan Setelah Terjerat Pukat Nelayan di Ketapang

Regional
Khofifah: Malang Raya Penuhi 6 Syarat Transisi Menuju Fase New Normal

Khofifah: Malang Raya Penuhi 6 Syarat Transisi Menuju Fase New Normal

Regional
Kapalnya Tenggelam, 6 ABK Terapung 3 Hari di Lautan hingga Ditolong Kapal Tangker

Kapalnya Tenggelam, 6 ABK Terapung 3 Hari di Lautan hingga Ditolong Kapal Tangker

Regional
Kronologi Bentrok Warga Dua Desa di Tapanuli Selatan: Dipicu Tembakan dari Senjata Mainan hingga Massa Bakar Rumah dan Motor

Kronologi Bentrok Warga Dua Desa di Tapanuli Selatan: Dipicu Tembakan dari Senjata Mainan hingga Massa Bakar Rumah dan Motor

Regional
'Surabaya Bisa Jadi Wuhan kalau Warganya Tidak Disiplin'

"Surabaya Bisa Jadi Wuhan kalau Warganya Tidak Disiplin"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X