Ritual Sesaji di Kelud, Mitigasi Kultural dalam Komunikasi Bencana

Kompas.com - 02/11/2014, 19:32 WIB
Warga mengambil nasi tumpeng yang sudah dibacakan doa dalam ritual sesaji Kelud di kawasan puncak Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/11/2014). Kompas.com/M.Agus Fauzul HakimWarga mengambil nasi tumpeng yang sudah dibacakan doa dalam ritual sesaji Kelud di kawasan puncak Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/11/2014).
|
EditorGlori K. Wadrianto
KEDIRI, KOMPAS.com - Ribuan warga di sekitar lereng Gunung Kelud yang berada di wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menggelar ritual sesaji yang dipusatkan di kawasan puncak Kelud, Minggu (2/11/2014). Ritual sesaji ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas berkah yang telah diberikan Tuhan.

Ritual ini juga merupakan bagian dari pengembangan mitigasi kultural dalam komunikasi bencana. Kebersamaan dan persatuan bagi masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang untuk sebuah kesadaran tradisi dan kearifan lokal tertuang dalam upacara adat ini.

Camat Ngancar, Ngaseri, mengatakan, masyarakat sadar terhadap lokasi hidup mereka yang ada pada daerah bencana. Menurut dia, keberadaan Gunung Kelud dapat diartikan berkah, dan juga dapat bermakna musibah.

Dianggap berkah, sebab keberadaan gunung tersebut telah mampu mengangkat perekonomian warga melalui kekayaan alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Pemahaman musibah berarti tanda bagi masyarakat agar menghormati alam yang menjalankan keseimbangannya.


"Kita telah diberi berkah berupa gunung api sehingga harus dapat menjalin harmoni antara alam dan manusia," kata Ngaseri, Minggu (2/11/2014).

Ritual sesaji dapat menjadi salah satu wahana komunikasi demi menjalin kebersamaan antarelemen masyarakat, sekaligus melestarikan tradisi. Keterlibatan beragam kalangan umur dalam ritual itu untuk menjamin keberlangsungan tradisi dari generasi ke generasi.

Masyarakat sekitar, familiar dengan dinamika gunung api berketinggian 1.721 Mdp itu. Ketiadaan korban jiwa langsung dalam erupsi eksplosif pada Februari lalu salah satunya karena adanya komunikasi yang baik antarkalangan dalam penanganan bencana.

"Dengan kegiatan adat ini persaudaraan antarwarga semakin terpupuk. Tadi, warga dengan kesadaran masing-masing membawa tumpeng sebagai sesaji," kata dia.

Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) menjadikan keberhasilan evakuasi 86.000 jiwa pengungsi Kelud sebagai salah satu rujukan penyusunan Sistem Induk Komunikasi Bencana.

Sistem tersebut saat ini tengah dalam proses penyelesaian. BNPB juga menganugerahkan "Tangguh Award" kepada tiga orang dari elemen berbeda yang dianggap berjasa dalam keberhasilan penanganan bencana erupsi, yaitu Khoirul Huda selaku Pengamat Gunungapi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi; Ngaseri selaku Camat Ngancar; serta Sutrisno selaku Danramil Ngancar. 

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X