Warga di Lereng Kelud Masih Waspadai Lahar Hujan

Kompas.com - 26/04/2014, 17:06 WIB
Beberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah. KOMPAS/DEFRI WERDIONOBeberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

KEDIRI, KOMPAS.com - Warga di sekitar lereng Gunung Kelud wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, masih terus mewaspadai adanya ancaman lahar hujan. Apalagi hingga saat ini hujan masih kerap mengguyur wilayah tersebut.

Seperti yang terjadi pada Jumat (25/4/2014) malam, hujan turun yang hampir merata di wilayah Kediri itu menyebabkan sungai Konto meluap. Akibat luapan itu, air bah yang bercampur dengan material vulkanis meluber lalu menerjang lahan pertanian warga yang dikelola disekitar sungai.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Kediri Edhi Purwanto mengatakan, luapan lahar hujan tersebut memang tidak sebesar luapan yang terjadi pada medio Februari lalu. Saat itu, kata dia, luncuran lahar hujan menyebabkan sekitar 140 hektar lahan pertanian rusak dan merusak beberapa infrastruktur.

“Kalau untuk lahar hujan yang semalam hanya menyebabkan sekitar sepertiga luasan dari jumlah akibat lahar hujan yang pertama dulu,” kata Edhi pada Kompas.com, Sabtu (26/4/2014).

Lokasi lahan pertanian yang rusak itu, kata dia, juga sama dengan lokasi yang rusak akibat lahar hujan sebelumnya. Kebanyakan lahan tersebut adalah lahan pertanian yang masih belum diolah karena masih tertutup material vulkanis akibat tertimpa lahar hujan sebelumnya.

“Sampai saat ini lahan pertanian itu belum pulih akibat tertimbun lumpur hingga 75 sentimeter. Lah malam tadi menimpa sebagian lahan itu,” ujarnya menambahkan.

Setiap kali hujan mengguyur wilayah puncak gunung, petugas dari Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi yang berjaga di Pos Pantau Kelud senantiasa memberikan peringatan kepada warga sekitar. Peringatan itu disebar melalui jejaring yang ada, yaitu melalui radio amatir antar penduduk, radio komunitas, media social, hingga pesan berantai yang dikeluarkan oleh pusat informasi kelud yang dikelola oleh dinas komunikasi dan informasi Pemkab Kediri.

“Gunung Kelud saat ini hujan lebat. Diimbau untuk tidak beraktifitas di bantaran kali lahar (sungai yang berhulu di puncak Kelud),” salah satu contoh pesan berantai yang dibagikan oleh pusat informasi Kelud pada Jumat (25/4/2014), pukul 16.58 WIB.

Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Elivina, 9 Tahun Jadi Guru Honorer Terima Gaji Rp 200.000 per Bulan

Kisah Elivina, 9 Tahun Jadi Guru Honorer Terima Gaji Rp 200.000 per Bulan

Regional
Makam Gus Dur Masih Tertutup untuk Peziarah

Makam Gus Dur Masih Tertutup untuk Peziarah

Regional
Temuan 28 Kasus Positif Covid-19, Pemkot Tegal Tak Terapkan PSBB

Temuan 28 Kasus Positif Covid-19, Pemkot Tegal Tak Terapkan PSBB

Regional
Pencarian Warga Amerika yang Hilang di Teluk Ambon Terkendala

Pencarian Warga Amerika yang Hilang di Teluk Ambon Terkendala

Regional
Kisah Nenek Uho, Sakit Sendirian, Ditemukan Pakai Sarung Bercampur Kotoran Hewan

Kisah Nenek Uho, Sakit Sendirian, Ditemukan Pakai Sarung Bercampur Kotoran Hewan

Regional
KA Pandanwangi Beroperasi Lagi, Penumpang Tak Perlu Rapid Test

KA Pandanwangi Beroperasi Lagi, Penumpang Tak Perlu Rapid Test

Regional
Tas Berisi Dana Desa Dicuri di Tempat Penitipan Toko, Uang Rp 161 Juta Raib

Tas Berisi Dana Desa Dicuri di Tempat Penitipan Toko, Uang Rp 161 Juta Raib

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 8 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 8 Agustus 2020

Regional
5 Fakta Baru Kasus Fetish Kain Jarik Berkedok Riset, Mengaku Ada 25 Korban dan Dijerat UU ITE

5 Fakta Baru Kasus Fetish Kain Jarik Berkedok Riset, Mengaku Ada 25 Korban dan Dijerat UU ITE

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 8 Agustus 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 8 Agustus 2020

Regional
Jawaban Wakil Wali Kota Tegal soal Pencitraan hingga Sembunyikan Data

Jawaban Wakil Wali Kota Tegal soal Pencitraan hingga Sembunyikan Data

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 8 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 8 Agustus 2020

Regional
Saat Gubernur Edy Rahmayadi Mantu di Tengah Pandemi...

Saat Gubernur Edy Rahmayadi Mantu di Tengah Pandemi...

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 8 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 8 Agustus 2020

Regional
Dendam dengan Orangtua, Pemuda Ini Bunuh dan Cabuli Anaknya

Dendam dengan Orangtua, Pemuda Ini Bunuh dan Cabuli Anaknya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X